
"Sei!"
Sebuah panggilan menghentikan langkah Seira dan Fatih yang hendak keluar rumah sakit. Mereka berdua menoleh dan mendapati seorang dokter berkacamata berdiri dengan dada yang kembang-kempis.
Lingkaran Fatih di pinggang Seira menguat, hatinya menebak dokter itu juga pastilah orang dari masa lalu sang istri. Seira mengernyit, detik berikutnya dia tersenyum saat mengenali siapa sosok yang berdiri di sana.
"Dokter Hendra?" Suara Seira menguar pelan.
"Siapa?" Fatih berbisik, ada rasa tak senang melihat mereka saling memandang dan saling tersenyum satu sama lain.
Seira melirik, segera memudarkan senyum melihat raut wajah sang suami yang mengeras.
"Dia Dokter Hendra, dulu sering datang ke rumah mantan mertua aku. Ya, bisa dibilang dia dokter pribadi keluarga itu," jawab Seira sedikit khawatir akan memicu kecemburuan laki-laki itu.
Fatih membulatkan bibir menatap Hendra yang sedang berjalan pelan mendekati mereka. Seira tahu bagaimana hatinya saat ini meksipun laki-laki itu tidak mengatakannya.
Langkah Hendra terhenti tepat di hadapan mereka, matanya melirik lingkaran tangan Fatih di pinggang Seira. Ia mengernyit melihat perut besar wanita itu. Seketika saja dia faham bahwa Seira sudah memiliki kehidupannya sendiri.
"Sei, lama nggak jumpa? Gimana kabar kamu?" tanya Hendra mencoba bersikap biasa saja padahal hatinya kalut mendapat intimidasi dari Fatih.
"Baik. Aku baik sekarang bahkan jauh lebih baik," jawab Seira dengan tegas.
Tak ada keraguan terdengar, lagipula dari riak wajahnya dia memang terlihat lebih berseri. Kebahagiaan terpancar nyata dari kedua maniknya, sangat jauh berbeda ketika dia hidup dengan Zafran dulu.
"Ah, syukurlah. Kamu tinggal di mana sekarang?" Hendra lanjut bertanya. Keringat mulai bermunculan di dahi juga pelipisnya. Gugup karena Fatih tak mengalihkan pandangan sama sekali darinya.
"Aku tinggal sama suamiku sekarang. Oya, kenalin. Ini suami aku." Seira menoleh pada Fatih, senyumnya terukir indah tatkala Fatih membalas tatapannya.
Fatih mengulurkan tangan tanpa melepas lingkaran yang satunya.
__ADS_1
"Fatih!"
"Hendra!"
Suami Seira itu meremas jemari Hendra yang menyambut jabat tangannya, menekankan bahwa tak ada yang boleh mengganggu Seira mengingat Hendra adalah dokter pribadi Zafran. Sudah barang tentu, dia dekat dengan keluarga mantan istrinya itu.
"Ah. Bi-bisa le-lepaskan ta-tangan saya?" Hendra meringis, merasakan ngilu di setiap tulang jarinya.
Nyalinya menciut seketika, ke depannya tak akan pernah dia membuat masalah dengan laki-laki berstatus suami Seira itu. Fatih tersenyum sinis sembari menarik tangannya.
"Maaf kalo saya mengganggu, saya permisi dulu," ucap Hendra dengan enggan.
Dia masih ingin di sana, masih ingin menatap lebih lama wajah wanita yang sempat membuatnya seperti orang gila. Teringin menuntaskan rindu yang beberapa tahun lalu mengurung jiwanya dalam kebekuan rasa. Sekalipun Nisa telah menjadi belahan jiwa, tapi yang dia rasakan tak seperti rasa yang dimilikinya untuk Seira.
Anggukan kepala wanita itu menikam segala rasa dalam hati Hendra. Dia sudah tidak membutuhkan siapapun lagi untuk berdiri di sisinya, dia tak membutuhkan bahu yang lain untuknya bersandar. Sosok di samping wanita itu sudah cukup memberi segalanya untuk Seira.
Mereka sama-sama berbalik, tidak saling peduli lagi. Beberapa langkah kaki Hendra mengayun, ia berbalik menatap punggung wanita yang berjalan kian menjauh.
Sekali lagi dia memandang mereka yang menghilang di balik pintu utama. Hendra menghela napas, berbalik sedih seraya menuju ruangannya sendiri.
Apa lagi yang diharapkannya? Wanita yang dia nikahi beberapa waktu lalu pun, telah memberinya buah hati. Mengapa masih berharap pada sesuatu yang sudah bertuan.
Adat pasang berturung naik. Nasib seseorang tidak akan selalu sama, senang dan susah silih berganti. Seira yang dulu direndahkan, dihina, dicaci, bahkan diusir tanpa diberi apapun jua, kini ia pantas mendongak. Tak perlu lagi menunduk merendahkan diri.
*****
Di bagian lain kota tersebut, di sebuah bangunan yang terbuat dari anyaman bambu dengan atap seadanya, seorang gadis kecil berlari sambil menenteng kantong plastik di tangan.
Wajahnya yang kotor karena polusi jalanan, tersenyum riang dan gembira. Ia menghentikan langkah beberapa meter dari rumah gubuk tersebut. Mengintip keadaan dari sesuatu yang selalu membuatnya takut.
__ADS_1
"Nggak ada." Bibirnya tersenyum lebih lebar, menampakkan deretan gigi susunya yang menghitam.
Langkahnya kembali berlanjut mendekati rumah gubuk tersebut. Rumah yang hanya diikat dengan tali plastik dari luar memudahkan seseorang untuk berbuat jahat.
Gadis kecil itu membuka ikatan, seraya membuka pintu pelan. Pintu yang terbuat dari sehelai karung yang dihimpit bambu di kanan dan kirinya itu tidak berderit seperti pintu kebanyakan.
Kepalanya melongo ke dalam, memastikan keadaan aman dan baik-baik saja. Pelan tubuhnya merayap masuk, mendekap kantong plastik di dada.
"Nenek!" Gadis kecil itu memanggil seseorang yang ada di dalam rumah.
"Hmm!" Sebuah jawaban khas dari seorang wanita tua yang sudah tak mampu melakukan apapun lagi. Setiap hari hanya duduk di kursi roda, mengandalkan cucunya itu saja jika ingin melakukan sesuatu.
"Apa Ibu di rumah?" tanyanya sembari terus melangkah masuk menghampiri tempat neneknya berada.
Wanita itu menggelengkan kepala, tersenyum meski sulit dilakukan karena stroke yang menimpa hampir seluruh tubuhnya. Gadis kecil itu tersenyum, memberikan apa yang dibawanya tadi pada sang nenek.
"Kakak yang di toko kue itu ngasih kue lagi sama Nai. Ini, kita makan sama-sama. Nenek, kan, suka sama kue. Habiskan, ya, sebelum Ibu pulang," ucap gadis kecil yang tak lain adalah Naina, anak Lita dan Zafran, yang harus rela tinggal di sebuah tempat kumuh.
Wanita tua di kursi roda itu mengangguk-anggukkan kepala dengan senang. Disuapi sang cucu, ia menyantap kue-kue itu dengan pelan dan hati-hati. Entah mengapa, setiap gigitannya selalu mengingatkan pada mantan menantu yang dia usir.
Seira seolah-olah menjadi bayang-bayang dosa yang tak mengizinkan hatinya untuk mendapatkan ketenangan dan kedamaian. Naina mengusap air yang selalu menggenang di sudut mata tua itu, dia tidak mengerti mengapa setiap memakan kue yang dibawanya, nenek selalu menangis.
"Kenapa Nenek selalu nangis kalo makan kue ini? Apa mulut Nenek sakit?" tanyanya dengan polos.
Dia menggelengkan kepala, memanggil cucunya itu dengan anggukan saja. Naina yang mengerti pun berdiri dari duduk dan mendekati sang Nenek. Ia faham apa yang diinginkan wanita tua itu. Dengan penuh cinta, Naina memeluknya.
Ya Allah, aku juga mau meluk cucu kandung aku. Seperti apa wajahnya? Apakah dia mau mengakuiku sebagai neneknya?
Hatinya menjerit, membayangkan Seira menolak untuk memperkenalkan mereka. Wajar saja, itu semua adalah hukuman yang pantas dia terima karena telah menyia-nyiakan wanita sebaik Seira.
__ADS_1
Semoga Allah melindungi kalian, semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian. Maafkan Ibu, Sei. Maaf.