
Waktu terus berlanjut, malam pun datang menggantikan peran sang mentari. Awan-awan hitam bergerak lambat di bawah cahaya rembulan, menghalanginya untuk memberi jalan terang pada kegelapan.
Di teras rumah kecil belakang restoran Fatih, Seira sedang duduk menatapnya. Merenungi setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup, mengeja usia dari waktu ke waktu. Ia tersenyum, rembulan itu mengingatkan dirinya pada saat diusir dulu.
Sendirian dan hanya ada satu bintang yang menemani. Selebihnya berjauhan dan saling menjaga jarak. Teringat tugasnya untuk memberitahu perihal Zafran kepada Rayan, ia mendesah berat. Apakah Rayan siap menerima kenyataan tentang siapa ayah kandungnya?
Seira menunduk, menatap benda pipih di tangan di mana baru saja Fatih menelpon akan pulang telat malam itu karena sedikit masalah terjadi untuk acara esok.
"Mudah-mudahan semuanya lancar nggak ada masalah." Ia bergumam sendirian, mengusap layar ponsel yang bergambar keluarga kecil mereka.
Seira mengangkat pandangannya kembali, beberapa kunang-kunang datang menghampiri bunga-bunga di taman kecil itu. Binatang yang sudah langka, apalagi di kota besar.
"Mamah!" Suara Rayan yang serak khas bangun tidur mengalihkan perhatian wanita dua anak itu.
Ia tersenyum menjulurkan tangan menarik tubuh gembil sang anak. Mendudukkannya di pangkuan sembari mengusap-usap lembut rambutnya.
"Kenapa? Apa Rayan mimpi lagi?" tanya Seira berpindah mengusap punggungnya.
Rayan menjatuhkan kepala di dada sang ibu, melingkarkan tangan memeluk tubuh Seira, menikmati rasa nyaman yang selalu ia dapatkan.
"Mah, Mamah tahu kisah Zaid?" tanya Rayan tanpa mengangkat wajah.
Seira menautkan alis, mendengar pertanyaan dari sang putra.
"Zaid? Kenapa dengan Zaid, sayang?" tanya Seira teringin tahu ada apa dengan nama Zaid.
Hening. Tak ada sahutan dari Rayan untuk beberapa saat lamanya. Sampai suara Rayan berikutnya membuat Seira sedikit mengerti.
"Ada nggak, ya, orang yang beruntung kayak Zaid, Mah? Kata Kakak itu dia satu-satunya sahabat nabi yang diangkat jadi anak. Beruntung, kan, Mah?" Rayan menjauhkan kepala dari dada Seira, menatap kedua manik sang ibu yang selalu membuat hatinya damai.
__ADS_1
Mendengar itu, apakah sudah saatnya Seira memberitahu Rayan perihal Zafran. Ia tersenyum mengusap pipi anaknya dengan lembut.
"Oh, jelas ada. Mereka adalah orang-orang pilihan yang diberi keberuntungan oleh Allah. Memiliki orang tua yang baik meskipun bukan orang kandung. Memangnya Kakak itu cerita apa tentang Zaid?" ujar Seira. Ia ingin tahu apa tanggapan Rayan dari kisah Zaid ini.
"Katanya, dulu Zaid dikenal sebagai Zaid bin Muhammad, tapi dilarang sama Allah terus diganti jadi Zaid bin Haritsah. Kenapa begitu, Mamah?" tanya Rayan semakin lekat menatap mata Seira.
"Sayang, di dunia ini yang namanya orang tua nggak cuma yang melahirkan kita. Ada orang tua sambung, ada orang tua angkat dan lain-lain, tapi yang namanya orang tua tetap sama kewajibannya pada anak. Zaid bukan anak nabi, dia cuma anak angkat. Maka nggak bisa disamain garis keturunannya sama anak-anak nabi."
Seira mengusap-usap kepala Rayan, ada sesuatu yang mencubit hatinya kala mengingat Fatih bukanlah ayah kandung Rayan. Seandainya dan seandainya, tapi kata itu tak akan merubah segalanya.
Kerutan di dahi Rayan menjelaskan dirinya yang tengah bingung.
"Begini, kalo anak-anak nabi itu pasti belakangnya bin Muhammad, tapi karena Zaid bukan anak nabi maka harus diganti dengan nama ayahnya. Jadinya, bin Haritsah bukan bin Muhammad lagi karena bapak Zaid namanya Haritsah." Seira bingung bagaimana menjelaskannya kepada Rayan perihal status orang tua.
"Jadi, harus nama ayahnya, Mah? Nggak boleh nama yang lain?" tanyanya masih belum mengerti dengan benar.
"Yah, begitu aturannya. Walaupun dia diurus oleh orang tua yang lain, tetap aja kembalinya sama orang tua kandung," jawab Seira sedikit nyeri di ulu hati kala mengingat semua perlakuan Zafran.
Pertanyaan Rayan bagai gada berduri yang menghantam relung jiwa Seira. Dari mana anaknya ini tahu tentang semua itu. Apa ada orang yang diam-diam membuka rahasia ini padanya.
"Siapa yang bilang?" tanya Seira dengan kerutan di dahi, lidahnya bergetar terus sampai ke ulu hati. Antara lega dan kesal sendiri.
"Nggak ada, Rayan sering mimpi orang yang ngaku-ngaku jadi ayah Rayan. Emang siapa ayah Rayan, Mah?" tanyanya yang lantas terdiam menunggu jawaban.
Seira tak mampu menjawab, ia terus bungkam. Lidahnya tiba-tiba kelu tak dapat digerakkan. Ia hanya menatap bola mata Rayan yang bergerak bergantian.
"Kalo Rayan udah tahu, gimana menurut Rayan? Apa ...."
Seira meggigit bibir kuat-kuat, tak mampu melanjutkan kalimat yang ingin diucapkannya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, papah Fatih tetap papah Rayan. Rayan sayang sama Papah," ucapnya manis sekali.
Seira memeluk tubuh itu, menumpahkan air mata di balik punggung sang anak. Tak tahu harus berkata apa, dia hanya diam.
"Papah juga sayang Rayan walaupun Papah bukan papah kandung Rayan." Suara Fatih menyentak keduanya.
Bocah itu menoleh seraya melepaskan pelukannya dari Seira. Ia berjalan mendatangi Fatih yang telah berjongkok dan memeluknya. Seira mengusap air mata yang diam-diam dia tumpahkan dan semua itu disaksikan Fatih yang terus melirik ke arahnya.
"Rayan sayang Papah." Suara gumaman Rayan membentuk garis lengkung sempurna di bibir Fatih.
Fatih melepas pelukan, mengusap kedua bahu kecil itu sambil tersenyum.
"Rayan anak yang hebat. Apa Rayan kecewa karena Papah bukan papah kandung Rayan?" tanya Fatih.
Hatinya sedikit nyeri, tapi juga lega karena semua itu terbuka dengan sendirinya. Terlebih, Rayan yang bisa menerima kenyataan.
Bocah itu menggelengkan kepala, dia sendiri tidak tahu seperti apa perasaannya saat ini. Yang dia tahu, Fatih adalah sosok ayah yang baik untuknya selama ini.
"Papah tetap papah Rayan. Rayan nggak mau papah yang lain, Rayan cuma mau Papah Fatih," ucap Rayan sambil memeluk Fatih lagi.
Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh Fatih hingga ke ulu hatinya. Bukan dia ingin merebut posisi Zafran sebagai ayah kandung Rayan, tapi dia terlanjur sayang terhadap Rayan dan menganggapnya bukan anak sambung.
Seira yang mendengar terenyuh, air matanya kembali jatuh, tapi ketakutan itu sedikit mengusik ketenangan hatinya. Semoga saja Zafran tidak merebut kebahagiaan mereka. Semoga saja dia berlapang dada menerima takdirnya.
Seira tak akan menghalangi pertemuan mereka jika takdir menginginkannya, tapi dia tidak rela jika Zafran mengambil alih hak asuh Rayan. Bagaimanapun, Zafran memang ayah kandung Rayan dan mereka tidak bisa menutup-nutupi kenyataan. Lebih baik semuanya terbuka agar tidak menjadi beban di hati mereka.
****
Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
__ADS_1
(Q.S. Al-Ahzab : 40)