Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Nasib


__ADS_3

"Gimana? Rayan suka tinggal di sini?" tanya Ibu sambil mengusap kepala anak itu.


Bocah gembil itu mendongak, menatap dengan matanya yang berbinar.


"Suka, Nek. Di sini ada banyak teman, Rayan jadi punya teman," katanya antusias.


Memang benar, riak wajahnya berseri disaat beberapa tetangga datang menghampiri untuk menyambut mereka. Warga di sini lebih ramah, maklum saja mereka memang berasal dari sana. Lalu, pindah saat Fatih membangun usaha restorannya.


Rumah itu diurus seorang tetangga yang dibayar Fatih secara rutin setiap bulannya. Keadaannya masih baik sama seperti saat mereka tinggalkan dulu. Bersih dan rapi, kamar-kamar juga tak ada yang berdebu. Benar-benar bertanggungjawab dan amanah.


"Rumah di sini nyaman, Bu. Tetangganya juga ramah, aku lebih suka tinggal di sini," sahut Seira sejujurnya.


"Wah, ibu Biya pulang. Pulang-pulang bahwa mantu, mana cantik banget," tegur seorang tetangga yang tak sengaja melintas di depan rumah merah.


"Iya, Alhamdulillah Bu Ningsih. Akhirnya saya punya menantu juga, ini saya juga udah punya cucu," jawab Ibu tersenyum sumringah.


"Syukur kalo gitu, saya ikutan senang. Semoga pernikahan kalian bahagia dan langgeng sampai maut memisahkan," ucapnya yang diaminkan Ibu dan Seira.


"IBU! KAKAK! Cepat ke sini!" teriak Biya dari dalam rumah.


Keduanya tersentak, lantas berpamitan pada tetangga tadi dan bergegas masuk ke rumah. Rayan yang turut terkejut membuntuti keduanya dengan berlari.


"Ada apa?" tanya Ibu cemas.


"Kak Fatih, dari tadi muntah-muntah terus. Mukanya juga pucet, Bu," lapor Biya sambil menunjuk ke dalam kamar mandi.


Seira terhenyak, gegas mendekat ke kamar mandi dan membuka pintunya dengan cepat.


"Mas!" Ia terpekik melihat Fatih yang duduk lunglai di lantai kamar mandi. Berjongkok di dekat Fatih dan mendekap laki-laki itu.


"Sayang ... Mas lemes banget, mual, kepala pusing," lirih Fatih sambil merintih kesakitan.


"Kita keluar dulu dari sini, baju Mas basah. Nanti tambah sakit," ucap Seira cemas.


Ia membantu Fatih beranjak, membawanya ke kamar yang berada di lantai satu. Wajah laki-laki itu pucat, napasnya juga tersengal, Fatih kelelahan. Seira menempelkan punggung tangan di dahinya, meraba suhu tubuh sang suami.


"Tapi badan Mas nggak panas. Mungkin Mas masuk angin, mau aku kerokin?" tawar Seira.

__ADS_1


Melihat gurat cemas di wajah istrinya, Fatih terenyuh. Ia mengusap pipi Seira, yang segera ditahan oleh wanita itu.


"Sakit nggak? Kalo sakit Mas nggak mau," katanya.


Seira tersenyum, ia mengecup telapak tangannya dengan mesra sebelum menyahut, "Kita coba dulu, ya. Kalo sakit nggak usah diterusin, kita ke rumah sakit aja."


Fatih mengangguk setuju, Seira mencari koin, tak jumpa ia mengambil sendok berikut minyak angin. Lalu, mulai melakukan gerakan naik turun, maju mundur, di permukaan kulit punggung Fatih.


"Sakit nggak?" tanya Seira di sela-sela acara mengerik punggung Fatih.


"Argh, nggak, sayang. Enak, terusin. Mualku agak berkurang," jawab Fatih keenakan.


"Mamah, Papah kenapa? Apa Papah sakit?" tanya Rayan yang menghampiri mereka di kamarnya.


Fatih mengangkat tubuh kecil itu, dan mendudukkannya di pangkuan. Seira tersenyum dari balik punggung suaminya melihat kedekatan mereka berdua.


"Nggak apa-apa, Papah cuma masuk angin aja. Abis dikerokin nanti juga sembuh. Mamah obat paling manjur kalo kita lagi sakit," ucap Fatih yang disetujui Rayan.


"Papah bener, Mamah emang hebat. Sayang Mamah!" sahut Rayan sambil menatap Seira dengan senyum manisnya.


Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh Fatih, membakar gelora jiwa yang sudah memanas. Ingin cepat-cepat malam saja, dan menuntaskan hasrat yang menggebu.


*****


Sementara di tempat lain, di sanalah Zafran berada. Di balik jeruji besi yang kokoh. Terpisah dengan Lita yang menangis tersedu-sedu di luarnya.


"Kenapa kamu sampai gelap mata, Mas? Kalo udah begini, gimana kelanjutan hidup kita?" tanyanya tak kuasa menahan kesedihan yang bergejolak dalam hati.


"Maafin aku, aku khilaf waktu itu. Aku pikir semuanya akan aman karena di sana nggak ada cctv, maafin aku. Semua itu aku lakuin demi kamu dan Naina," jawab Zafran turut menangis.


Terbersit sesal mendalam di hati, sungguh ia tak berpikir panjang saat mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Yang dia pikirkan saat itu hanyalah membuat istri dan anaknya tersenyum bahagia. Dengan sesekali mengajak mereka makan di restoran mewah.


"Terus gimana, Mas?" tanya Lita bingung. Dia harus merawat dua orang yang butuh pengawasan ekstra.


"Kamu tunggu aku, ya. Aku titip Ibu, tolong rawat Ibu selama aku di sini. Kamu bisa, 'kan?" pinta Zafran sembari memegang tangan Lita yang bergetar.


Malas banget, sih. Mending aku tinggalin aja mereka kalo dapet laki-laki yang kaya. Buat apa nungguin suami yang di penjara juga ngurusin mertua yang penyakitan. Bikin capek aja.

__ADS_1


Busuk memang hatinya, sungguh Lita tak memiliki perasaan. Dia sudah kehilangan hati nurani.


"I-iya, Mas. Kalo gitu, aku pulang dulu. Kasian Ibu sama Naina di rumah," ucap Lita sembari mengusap air matanya.


Ia meninggalkan Zafran sendirian, tak ada teman kecuali para penjahat yang sama seperti dirinya. Ia menjatuhkan punggung pada dinding sel, meratapi nasibnya yang malang. Ujian datang bertubi-tubi menimpa, sungguh ia tak siap menerima semuanya.


Sepanjang perjalanan Lita mengumpat, menendang udara kosong dengan kesal. Kesedihannya menguap begitu saja, berganti kekesalan yang tiada tara. Sampai-sampai menyebrang pun tak lihat jalan, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi mengarah padanya.


Bunyi klakson menyentak Lita, ia terperangah. Menutup wajah bersiap menerima nasibnya.


*****


"IBU!"


Prang!


Naina yang terlelap bangun karena terkejut dengan mimpi yang dia alami juga suara benda jatuh di dekatnya. Ia menatap sekeliling dan tak mendapati ibunya. Hanya ada wanita tua di kursi roda yang kesulitan menggapai gelas.


Ia duduk dengan wajah berkeringat, napasnya memburu sesak. Pandangannya terus melilau ke segala arah, mencari-cari sosok wanita itu.


"Ibu! Ibu di mana? Ibu!" panggil Naina bergetar.


Anak itu menangis karena yang dipanggilnya tak kunjung muncul. Menoleh ke belakang, menatap wanita tua itu.


"Nenek, Ibu ke mana?" Suara parau Naina bertanya. Isak tangisnya terdengar pilu, teringin Ibu menggapai kepala anak itu dan mengusapnya untuk memberikan ketenangan.


Namun, apalah daya, bergerak saja tak bisa. Naina beranjak dan mendatangi Ibu, mata mereka bertemu untuk beberapa saat lamanya. Hanya dengan begitu, Ibu bisa memberinya perintah untuk mengambilkan air minum. Naina mengerti, segera mengambil gelas dan memberikannya pada Ibu.


Ia tak lagi menangis, tapi isaknya masih tersisa.


"Nenek, Ibu ke mana? Kenapa Nai panggil nggak dateng-dateng?" tanyanya sedih.


Kepala anak itu menunduk, ia berucap sedih, "Ibu pasti sedih karena Nai nakal. Nenek, Nai nggak nakal, 'kan? Kenapa Ayah bentak-bentak Nai tadi? Nai jadi sedih."


Tak tahu harus menjawab apa, hanya air mata yang merembes menjatuhi pipi.


Kasian sekali kamu, Nak. Kamu nggak bersalah, tapi harus nanggung kesalahan orang tau kamu.

__ADS_1


__ADS_2