Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Pada Waktu Itu ....


__ADS_3

Side Story' Seira.


Hari itu Mas Zafran memintaku untuk membeli semua keperluan pernikahan. Aku ditemani Bi Sari karena dia lebih gesit dan lebih bisa diandalkan. Ibu sudah tua, tubuhnya yang ringkih sering sakit-sakitan. Jadilah aku meminta izin Ibu untuk mengajak Bi Sari menemaniku.


"Udah selesai semua, kan, Bi? Nggak ada yang ketinggalan, ya?" tanyaku sambil melihat-lihat barang yang kami beli dan mencocokkannya dengan daftar catatan yang aku buat di selembar kertas.


"Kayaknya udah, Non, tapi Bibi kebelet. Bibi ke toilet dulu, ya."


Aku tertawa kecil melihat wajah pias wanita paruh baya itu. Usianya berada di bawah Ibu, wajar saja beliau masih mampu mengangkat barang belanjaan yang banyak. Kuanggukan kepala memberinya izin, lantas menengok kian kemari mencari sebuah warung.


Terik sinar matahari membuat tenggorokanku seret dan kering. Berkali-kali pun kuteguk ludah, tetap saja tak mampu membasahinya. Kuedarkan pandangan ke sebuah warung pinggir jalan, tak apa aku akan menunggu Bi Sari di sana saja.


Aku meminta seorang remaja yang menjadi joki panggul di pasar untuk membawakan barang-barang yang tak dapat aku bawa. Duduk di warung tersebut sambil menikmati segelas es teh yang cukup memberikan rasa segar pada tenggorokanku.


Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselku, pesan dari Mas Zafran. Dia memang selalu begitu, bertanya apa pun yang dia ingin tahu sekalipun hanya hal sepele. Entah kenapa setiap kali menerima pesan darinya, bibirku selalu ingin tersenyum.


Mungkin ini yang dinamakan jatuh cinta, selalu membuat hati berbunga-bunga. Rindu membayang di pelupuk mata, padahal tinggal menunggu beberapa hari saja maka kami akan resmi menikah.


Aku tersentak ketika sesuatu yang basah lagi dingin mengguyur rambutku. Kujauhkan ponsel supaya tidak terkena percikannya. Berdiri dengan perasaan tak percaya seseorang telah sengaja menyiram tubuhku dengan air es itu.


"Jadi kamu, ya, calon istri Zafran? Lumayan, tapi kelasmu jauh. Aku heran kenapa Zafran bisa mau sama kamu, ya? Jangan-jangan kamu pake susuk atau guna-guna supaya dia mau sama kamu, iya? Hmm ... perempuan miskin yang mau naik derajat, emang selalu menggunakan banyak cara untuk bisa mencapai tujuannya. Ya, kayak kamu ini."


Sebuah suara bernada ketus dan mengejek mengusik telingaku. Suara yang tak pernah kudengar sebelumnya, tiba-tiba datang menyerbu dan menjejali telingaku. Riuh rendah suara warga yang berada di warung tersebut pun tak dapat kutolak. Terus merangsek masuk mengikis kesabaran.


Aku menghela napas panjang, menormalkan emosi. Terus mengingatkan diri bahwa saat ini sedang berada di keramaian. Kuhembuskan udara tadi perlahan-lahan, membuang emosi yang sempat singgah di hati.


Aku mengangkat wajah, menatap wanita berpakaian seksi di depanku. Kurasa saat ini alisku terajut sempurna. Siapa wanita di depanku ini? Kenapa dia memakai pakaian yang kekurangan bahan seperti itu? Atau apakah itu pakaian anak perempuannya? Oh, astaghfirullah! Memangnya ada perempuan berpenampilan seperti wanita ini?

__ADS_1


Tanpa sadar kugelengkan kepala, heran dengan wanita itu. Apakah dia sudah tidak punya rasa malu?


"Maaf, aku nggak kenal sama kamu. Kenapa kamu tiba-tiba siram aku? Bukannya itu nggak baik dilakukan oleh perempuan terhormat seperti kamu?" ucapku sambil mengulas senyum dengan tenang.


Desas-desus yang seperti suara lebah di telingaku tadi, berangsur-angsur menghilang dan hening. Kucoba bersikap setenang mungkin meski emosi terus berteriak memintaku untuk meluapkan amarah. Tidak! Aku tidak akan menuruti nafsu yang hanya akan merugikan diriku sendiri.


Cuih!


Perempuan itu meludah sengit, menatap jijik padaku. Entah apa dosaku padanya? kenal saja tidak, datang-datang membuat rusuh.


"Jangan sok baik kamu, perempuan perebut calon suami orang!" sengitnya semakin membuatku heran.


"Perebut? Calon suami?" Aku semakin bingung, apa maksud dari ucapannya. Siapa yang menjadi perebut? Siapa pula calon suami orang itu? Mas Zafran itu calon suamiku.


Rasanya aku ingin tertawa, mungkin saja dia salah orang, bukan.


Namun, teringat dia menyebutkan satu nama pada kalimat pertamanya tadi, senyumku tertarik kembali. Otakku berputar-putar mencari jawaban yang diajukan hatiku. Apa kaitannya perempuan ini dengan Mas Zafran?


"Kenapa? Kamu ingat sesuatu?" tanyanya ketus.


Kuangkat wajah yang sempat tertunduk tadi, menatapnya yang tersenyum sinis dan penuh kemenangan. Apa yang sudah dia menangkan? Tidak ada. Lalu, entah kenapa tawaku bisa pecah meski tidak terbahak.


"Oh, kamu itu mantan Mas Zafran yang pergi ke Luar Negeri itu, ya? Mas Zafran udah cerita semua tentang kamu. Dia nggak mau aku salah faham kalo-kalo kamu datang mengganggu. Kalian itu udah putus sangat lama, jauh sebelum aku kenal sama Mas Zafran," ucapku tetap tenang dan terus tersenyum.


"Jangan seenaknya kamu, ya. Aku nggak pernah terima putus sama dia. Dia tinggalin aku gara-gara kamu yang datang menggoda dia. Kalo dia nggak kamu goda, mustahil mau sama kamu. Perempuan miskin aja belagu. Pasti kamu rela ngelakuin apa aja buat dapetin ambisi kamu itu!" bentaknya semakin jauh memfitnahku.


Kulirik sekitar, ada banyak pasang mata yang menyaksikan perseteruan kami saat ini. Kuhela napas lagi, membuang emosi yang sebenarnya ingin meledak dan menghancurkan wanita di depanku ini.

__ADS_1


"Maaf, yang aku tahu kamulah yang ninggalin Mas Zafran demi mengejar ambisi kamu. Mau sejauh mana pun kamu fitnah aku, itu nggak akan menyurutkan langkahku untuk terus maju ke depan. Aku nggak takut apapun, kalo Allah sudah mengikat kami dalam benang jodoh, nggak akan ada yang bisa memisahkan kami. Sekalipun itu kamu."


Aku beranjak, kembali memanggil tukang panggul untuk membawakan semua barang belanjaanku. Namun, baru selangkah kakiku beranjak, sebuah tangan mencekal lengan dan menarikku kembali.


Tangannya melayang ke udara nyaris saja mendarat sempurna di pipi jika saja laki-laki gagah itu tidak sigap menangkapnya.


"Jangan pernah ganggu calon istriku, apalagi tangan kotor ini berani main kasar. Aku nggak akan segan buat patahin tangan kamu ini!"


Mas Zafran menghempaskan tangannya dengan kasar, aku pun sedikit tersentak. Baru kali ini kulihat kulit wajahnya yang memerah karena amarah. Seperti Itukah sosoknya saat marah? Sangat menyeramkan.


Kugenggam tangannya yang terkepal, mengurainya perlahan hingga terbuka semua.


"Sabar, Mas. Ini di tempat umum, nggak enak dilihat orang banyak," bisikku di telinganya.


Kulirik dia memejamkan mata sambil menarik napas panjang, kusapu lengannya dengan lembut membantu Mas Zafran menghilangkan emosi di hati.


Dia membuka mata, menatap tajam wanita di depan kami itu.


"Aku harap ini yang pertama dan terakhir kamu ganggu dia. Jangan lagi! Jangan pernah!" ancamnya dengan telunjuk terangkat tinggi.


Sejak saat itu, aku tak lagi melihatnya. Hingga hari ini, pada acara reuni Mas Fatih, sosoknya muncul dengan bara dendam yang membara di kedua maniknya. Masihkah dia mendendam?


Astaghfirullah, sakit rasanya hatiku mendengar semua kalimat cacian serta makian yang terlontar dari lidahnya yang tajam itu. Telingaku berdenging hebat, ingin kututupi saja supaya tak dapat mendengarnya.


Namun, sebuah suara datang bagai seorang super hero yang akan menyelamatkan pemeran utama wanita. Dia nampak gagah dan tampan, aku terpesona.


"Berhenti menghinanya!"

__ADS_1


__ADS_2