Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Keadaan Berbalik


__ADS_3

"Lita! Dasar perempuan nggak berguna, keluar kamu!"


Jago dan yang lainnya tersentak mendengar suara tinggi penuh amarah itu. Hal itu bahkan membuat Rani ketakutan sampai-sampai dia meremas pakaian ayahnya dengan cukup kuat.


"Ibu!" Naina bergumam pelan sebelum berlari menuju rumahnya. Menyusul Jago yang dengan cepat mengangkat tubuh Rani dalam gendongan.


Lita keluar dari rumah, wajahnya yang dulu selalu dipoles make-up tebal kini tampak pucat dan lesu. Ia berjalan pelan berhadapan dengan wanita paruh baya yang terlihat berang. Di tangannya memegang sebuah baju, mungkin itu yang memicu yang masalah.


"Ada apa, Bu?" tanya Lita. Suaranya bahkan terdengar lesu.


"Ada apa, ada apa. Nih!" Wanita itu melempar baju di tangannya tepat ke depan wajah Lita.


Lita tersentak, dipegangnya baju tadi dan dilihatnya dengan saksama.


"Kamu itu becus nyuci nggak? Masa nyuci baju aja sampe rusak kayak begitu? Kalo kamu nggak becus nyuci ogah saya nerima kamu jadi tukang cuci di rumah saya!" bentaknya tanpa perasaan.


Lita tercenung, ia masih memeriksa pakaian di tangan yang terlihat baik-baik saja. Tak ada robekan atau apapun itu.


"Maaf, Bu, tapi baju ini nggak kenapa-napa? Nggak ada yang rusak dan masih bersih," jawab Lita menunjukkan baju di tangannya yang tak berubah sama sekali.


"Apanya yang nggak kenapa-napa? Kamu buta, ya, sampe-sampe nggak bisa lihat kalo baju itu robek. Lihat tuh, kamu apapun baju itu sampe robek kayak gitu!" sentaknya lagi semakin meradang.


Sekali lagi Lita menelisik baju di tangannya, mencari-cari robek yang dimaksud wanita di depannya itu. Ternyata benar, ada robekan di bagian sampingnya. Kecil saja.


"Oh, ini. Ini emang udah robek waktu saya cuci, Bu. Ini cuma benangnya aja, kok, bisa dijahit lagi," ucapnya menunjukkan robekan tersebut pada si pemilik.


Wanita itu mendelik tajam, kedua bijinya saja hampir melompat keluar melahap Lita yang kini bertubuh kecil nan kurus.


"Sembarangan kamu klo ngomong! Baju itu mahal tahu nggak? Kamu ngumpulin uang selama setahun penuh juga nggak bakal bisa ganti baju saya itu. Enak aja bilangnya robek sendiri. Bilang aja kalo kamu nggak mampu ganti! Dasar orang miskin, emang bisanya cuma ngelak aja." Wanita tadi mencibir habis-habisan Lita yang hanya terdiam tanpa dapat menjawab.


Air matanya jatuh tak tertahan, rupanya seperti ini rasanya dihina dan direndahkan. Sakit bahkan lebih sakit dari luka sayatan sembilu. Di dalam rumah, Ibu turut meneteskan air mata. Kejadian yang ia dengar sekarang, seolah-olah mengingatkannya pada dosa-dosa masa lalu. Di mana dia mengusir Seira, memandang wanita itu rendah, menghinanya dengan kata-kata mandul pula.

__ADS_1


Tak hanya Seira, kedua orang yang bersamanya juga turut dia hina sebagai manusia miskin yang hanya bisa mengemis.


Namun, coba saksikan apa yang terjadi saat ini, dunia berputar itu benar adanya. Roda kehidupan selayaknya roda kereta kuda yang terus berganti tempat. Dalam kurun waktu yang tak pernah terduga. Bisa cepat ataupun lambat.


Ya Allah, ampuni hamba. Hamba bertaubat, ya Allah. Ampuni segala dosa-dosa yang sudah hamba lakukan terhadap mantan menantu dan pekerja hamba. Sei, maafkan Ibu, Nak. Ya Allah, pertemukan kami. Aku ingin sekali minta maaf padanya.


Ibu melirih dalam hati, pilu tak berperi. Beruntung dia tidak mati waktu itu dan hanya mengalami stroke. Diberi tambahan waktu untuk menyadari kesalahan dan memperbaikinya.


Ia terisak-isak di dalam rumah sendirian, di atas kursi roda tempatnya selama ini berdiam. Ibu mengeja setiap apa yang dia lakukan di masa dahulu hingga mendapat hukuman seperti sekarang ini. Benar-benar jahat, dan dia tidak menyadarinya.


"Kalo kamu emang nggak becus cuci-cuci, jangan jadi tukang cuci. Bisanya cuma ngerusak baju orang aja. Emang kalo suaminya penjahat, istrinya juga pasti jahat." Dia lanjut memaki Lita tanpa peduli pada isak tangis wanita itu.


"Cukup, Bu!"


Suara seorang laki-laki menyentak tubuh wanita yang tengah berang itu. Baik Lita maupun wanita tersebut, sama-sama menatap ke arah datangnya suara tadi.


"Jago?" Lita bergumam lirih.


Lita yang heran dengan kedatangannya, memeluk sang anak sedih. Gadis kecil itu menoleh, menatap wanita yang menyilangkan tangan di perut.


"Jangan hina ibu Nai lagi. Ibu bukan penjahat, Ibu perempuan baik. Tante jangan hina ayah dan ibu Nai!" teriaknya, lantas kembali memeluk Lita.


Tangan Lita mengusap rambutnya, ia berjongkok di depan Naina dan memeluknya. Dalam hati meminta maaf, dan mengakui kalo dia memang jahat. Jika tidak jahat, tak akan mungkin dia merebut suami sahabatnya sendiri.


"Eh, Naina. Bapak kamu itu pencuri, sekarang dia ada di penjara. Kamu nggak tahu, 'kan?"


Bagai petir di siang bolong yang menyambar kesabaran Lita. Ia mendongak, menatap nyalang wanita angkuh di depannya itu.


"Cukup! Cukup kamu hina aku aja, jangan bawa-bawa ayahnya Nai. Dia nggak tahu apa-apa, apalagi anak aku. Dia masih kecil!" teriak Lita sambil bercucuran air mata.


"Halah-"

__ADS_1


"Cukup, Bu. Saya bisa saja melaporkan Ibu pada pihak berwajib karena telah membuat keributan di sini. Apa yang Ibu sudah lakukan dan semua omongan Ibu, bisa saya tuntut di pengadilan. Sekarang pergi!" Suara Jago menyela ucapan wanita itu.


Sekali lagi dia mendelik saat melihat Jago yang berseragam keamanan.


"Emangnya siapa kamu? Oh ... jangan-jangan kamu itu selingkuhan dia, ya. Sampe-sampe belain. Hmm ... cuma sekuriti, apa hebatnya. Nggak ada uangnya juga," cibir wanita itu sambil mendengus.


"Saya emang cuma sekuriti, untuk itu saya berhak mengamankan Ibu dan membawa Ibu pada pihak berwajib. Saya kaki tangan mereka, yang kalo lihat orang kaya Ibu ini bikin rusuh, bisa langsung dibawa ke PENJARA." Jago menekan kata penjara untuk menakut-nakuti wanita sombong itu.


Dia gelagapan, mati kutu dibuat Jago. Matanya mendelik gelisah, gerakan tubuhnya memperlihatkan ketakutan yang tengah melanda hati.


"Ok, ok, saya pergi." Dia berbalik, tapi baru beberapa langkah Jago kembali memanggilnya.


"Eh, Bu!"


"Apa lagi?!" Dia berbalik sambil melotot lebar.


"Ini bawa sekalian!" Jago mengambil baju di tangan Lita dan melemparnya ke arah wanita tadi. Dia memungutnya dengan cepat dan melanjutkan langkah.


Lita masih memeluk Naina, keduanya menangis sedih. Meratapi nasib diri ditimpa kemalangan yang tiada henti. Jago melirik ke arah mereka, begitu pula dengan Rani. Ada rasa iba yang berkumpul di hati melihat keadaan mantan majikannya itu.


"Ibu nggak apa-apa?" tanya Jago masih bersikap sopan padanya.


"Jangan panggil aku dengan sebutan itu, Jago. Aku bukan lagi majikan kamu," ucap Lita pilu.


"Nggak apa-apa, Bu. Sebaiknya jangan di sini, masuk aja ke rumah." Jago keukeuh.


Lita beranjak sambil mengangkat tubuh Naina, meski heran karena anaknya membawa boneka besar, tapi dia belum bertanya.


Teriris hati Jago melihat gubuk yang tak layak huni itu ditempati mereka. Apalagi Naina masih terlalu kecil untuk hidup di tempat seperti itu.


Ya Allah, takdir memang rahasia dan nggak ada satu pun manusia yang tahu.

__ADS_1


__ADS_2