
"Pokonya Ibu mau buat pesta kalo kalian ke Jakarta, titik!" ucap Ibu dengan tegas.
Di hadapan mereka terhidang beraneka macam makanan, lauk pauk berderet rapi, sayur dan sambal berdampingan. Tak lupa pula lalapan sebagai pelengkap. Sejak semalam, Ibu tak henti memuji masakan Seira. Membandingkan dengan menu-menu di restoran Fatih, merekomendasikan masakan Seira ke dapur restoran itu.
"Iya, Bu. Kalo Sei udah siap, nanti buatlah pesta sesuai keinginan Ibu," sahut Fatih yang wajahnya pagi itu lebih sumringah dari pagi-pagi sebelumnya.
Biya terus-menerus melirik sang Kakak, dalam hati menyimpan ribuan tanya tentang sikap dinginnya yang hilang. Ia bahkan terlihat membaca majalah yang tak pernah disentuhnya itu.
"Bu, kenapa Kakak jadi aneh, ya? Tadi pagi juga Kakak bersiul, apa menikah bisa buat Kakak berubah?" tanya Biya tanpa berbisik dan semuanya bisa didengar Fatih.
Ia tak acuh, tersenyum dari balik majalah yang menutupi wajah.
"Nanti kamu juga tahu kalo udah nikah. Nggak usah banyak tanya sekarang," ucap Ibu sambil memperhatikan sederet menu yang disiapkan Seira sebelum subuh tadi.
"Rasanya Ibu nggak sabar buat makan," ucapnya lantas membalik piring dan mengisinya dengan nasi.
"Makan aja, Bu. Lagian nggak biasanya Ibu mau sarapan nasi. Ini dari semalam lahap amat," sindir Fatih tanpa menurunkan majalah dari wajahnya.
Ibu tak peduli, bibirnya tak lepas dari senyuman, tangan asik mencomoti apa saja yang diinginkannya.
"Abisnya masakan Sei lebih enak dari menu di restoran kamu, Nak. Ibu jadi nggak mau pulang, nanti lama lagi nggak makan masakan menantu Ibu ini," ucap Ibu memulai suapan pertamanya.
"Iya, Kak. Masakan Kak Sei kenapa enak begini, ya? Apa dia sekolah memasak juga kayak Kakak?" timpal Biya mengikuti langkah sang Ibu.
"Ini cuma masakan kampung, Bu, Biya, kalo sekolah memasak pasti masakannya internasional." Seira datang sambil menggendong Rayan dari arah kamarnya.
Lantai dua yang tak seberapa luas itu, benar-benar membatasi ruang gerak mereka. Maklum saja, itu bukan rumah. Biya dan Ibu menoleh, memperhatikan wanita itu dengan lekat.
"Kenapa Kakak pake syal? Sekarang, kan, bukan musim hujan," celoteh Biya.
Seira sontak saja memegang syal yang melilit leher. Rambutnya saja masih lembab tergerai, sisa pertempuran mereka semalam. Ia melirik Fatih yang bersikap biasa saja meskipun rona merah timbul perlahan.
"Hus! Nggak usah banyak tanya, udah makan aja," tegur Ibu memukul tangan putri bungsunya.
__ADS_1
"Sakit, Bu. Aku cuma heran aja, sekarang-"
Plak!
"Udah, diem. Abisin makan kamu," sela Ibu yang lagi-lagi memukul tangannya.
"Ish, Ibu! Apa-apaan, sih? Kok, pukul-pukul segala," sungut Biya cemberut.
Dia tak lagi bertanya meski rasa penasaran bersarang di hati. Terus menatap Seira yang berjalan tertunduk menghampiri Fatih.
"Sini anak Papah, sama Papah aja. Biar Mamah makan dulu, kasihan kecapean," ucapnya sambil menggoda dan mengundang semakin banyak tanya di hati Biya.
"Mas!"
Fatih terkekeh seraya mengambil alih bayi Rayan, membiarkan Seira makan lebih dulu, sedangkan dia sendiri menyuapi Rayan makan.
"Nggak apa-apa, Nak. Makan, benar kata Fatih kamu pasti kecapean," sambar Ibu pula menambah rona merah di pipi wanita itu.
Seira terus diam selama acara makan pagi itu hingga semuanya selesai, dan makanan hampir tak bersisa.
"Iya, udah kayak kambing nemu rumput aja." Biya menimpali sambil terkekeh. Keduanya memang tak percaya Ibu yang selama ini anti sarapan dengan makanan berat, justru hampir menghabiskan makanan di meja itu.
"Yah, siapa yang nggak lahap kalo nemu makanan enak kayak gini." Ibu mencibirkan bibir.
"Kamu lihat aja, Biya. Nggak lama lagi perut Kakak kamu itu nanti kayak om gendut, tetangga samping rumah kita itu," ejek Ibu memainkan alisnya menunjuk Fatih yang sontak melebarkan mata.
Seira menggeleng-gelengkan kepala, ia beranjak hendak membereskan semua, tapi dengan cekatan tangan Fatih mencegahnya.
"Mau ngapain?" tanyanya tak suka.
"Beresin ini." Seira menjawab bingung.
"Nggak usah, sayang. Duduk aja, bentar lagi juga ada yang beresin. Kamu jangan capek-capek, Mas nggak mau kamu sampe sakit," jawab Fatih sambil menarik tangan Seira untuk duduk kembali.
__ADS_1
"Aku nggak apa-apa, Mas. Lagian siapa coba yang mau beresin?" ucapnya sedikit menatap curiga pada Fatih.
"Udah, kamu tunggu aja. Bentar lagi orangnya dateng ... bukan, sayang. Jangan berpikir yang nggak-nggak, ah," ucapnya Fatih sembari menggamit dagu Seira yang seketika saja murung.
"Benar itu, Nak. Kamu nggak usah banyak kerja, biar Fatih yang urus semuanya." Ibu menimpali, tapi tetap saja hati Seira masih tak tenang.
"Assalamu'alaikum, Pak, Bu. Maaf, saya terlambat." Seorang wanita dengan pakaian tertutup berdiri sopan di ambang pintu. Usianya mungkin lebih muda dari Bi Sari, ia juga sering membantu Seira di toko jika pesanan sedang membludak.
"Nggak apa-apa, Bu. Ibu udah tahu apa yang harus Ibu lakuin, 'kan?" tanya Fatih dari tempat duduknya.
"Udah, Pak."
Wanita itu dengan cekatan membereskan semuanya, sedangkan Fatih mengajak Seira dan yang lainnya untuk turun ke lantai satu.
"Mas!" Seira bertanya lewat sorot matanya.
"Dia butuh kerjaan, suaminya dipecat dari pekerjaan dan mereka harus bayar kontrakan. Nggak apa-apa, 'kan?" ujar Fatih sambil merangkul bahu Seira.
Entah seperti apa perasaan Seira kini, seperti terbang melayang-layang di awan. Ia mendekap Fatih tanpa malu-malu, bersyukur mendapat perhatian dari laki-laki yang menikahinya baru kemarin itu.
Mereka duduk di depan, menikmati keindahan suasana pagi. Menatap hilir-mudik manusia di jalanan, juga beberapa kelompok anak sekolah yang mengenakan seragam. Pun tak luput para pedagang keliling yang ikut mengais rezeki di kota tersebut.
"Ibu sama Biya jadi pulang hari ini?" tanya Seira mengalihkan perhatiannya dari deretan manusia yang terdiri dari berbagai profesi itu.
"Iya, mau gimana lagi? Biya masih sekolah, jadi nggak bisa lama-lama di sini, deh." Ibu berwajah muram.
"Nggak apa-apa, Bu. Nanti kita main ke sana, kapan-kapan," sahut Seira menghibur.
Ibu berbinar, tapi tercenung mengingat dua kata terakhir Seira. Kapan-kapan? Kapan tepatnya?
"Ya udah, tapi jangan lama-lama, ya. Secepatnya kalo bisa, Ibu udah kangen aja sama cucu Ibu itu padahal belum pergi," ucap Ibu gemas melihat Rayan yang sedang bermain dengan Bi Sari.
Semua orang memandang ke arah mereka, bayi itu sedang belajar melangkah. Mengejar apa yang dipegang Bi Sari, berusaha merebutnya.
__ADS_1
Sungguh tak terduga kehidupan Seira yang sempat down kini berubah. Kesakitan dan penderitaan terbayar lunas dengan kehadiran bayi mungil menggemaskan itu. Benar, Fatih sama sekali tidak mengenal siapa mantan suami Seira. Ia tak peduli hal itu, yang dipikirkannya saat ini adalah bagaimana membuat Seira dan Rayan tetap tersenyum dan bahagia.
Seira menjatuhkan kepala di bahu suaminya, tempat yang kokoh untuknya bersandar disaat dunia menindasnya. Tangan yang melingkar di bahu, adalah pegangan yang kuat untuknya tetap tegar menghadapi semua permasalahan. Setelah ini, semoga semua akan tetap baik-baik saja. Seira berharap dalam hati.