
Lita melangkah gontai meninggalkan hotel terkutuk tempatnya ternista. Sungguh sial hari itu, jika saja dia menuruti keinginan putrinya untuk tetap di rumah mungkin kejadian naas tak akan pernah ada. Semua sudah terlanjur, kata andai tak akan mampu mengembalikan semuanya.
Air mata tak henti berderai menjatuhi wajahnya yang pucat pasi. Bibir yang kering gemetar, menahan gejolak kesedihan yang terus meletup-letup. Seperti sebuah kawah berapi yang bersiap menyemburkan larva.
Terik matahari menyengat menyilaukan mata, Lita menutupi wajah dengan tas karena tak tahan dengan cahayanya. Berkali-kali meneguk saliva untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering kerontang.
Pandangannya melilau ke segala arah, mencari warung terdekat untuk membeli air. Ia menghela napas, melanjutkan langkah dengan tertatih. Dia butuh dokter, tapi tentu saja malu jika harus menceritakan sebab sakitnya.
"Gimana? Enak?"
Sebuah suara yang tak terlihat wujudnya mengusik telinga Lita. Ia berhenti dan mencari sosok yang bersuara tadi. Dahinya mengernyit karena menahan terpaan sinar matahari. Suara itu terdengar tak asing, rasanya ia pernah mendengarnya sekali, tapi di mana dan siapa?
"Siapa kamu?" tanya Lita dengan suaranya yang parau.
Ketukan sepatu di atas jalan membuat Lita berpaling badan ke belakang. Matanya menyipit menunggu seseorang yang perlahan muncul dari balik tanaman bunga yang sengaja ditanam di pinggir jalan.
"Ka-kamu ...?" Lidah Lita kelu, gemetaran tak menentu.
Sosok itu tersenyum sinis, terus mengikis jarak antara dirinya dan Lita yang bergeming. Hembusan angin tak membuat tubuhnya segar, yang ada justru malah semakin memanas.
Senyum itu sungguh membuat Lita muak, dia pernah melihatnya sekali dan membuatnya merasa kalah telak.
"Kenapa? Kaget lihat aku di sini? Hmm."
Dia mendengus, melipat kedua tangan di perut dengan angkuh. Wanita di hadapannya hanyalah butiran debu yang mudah disingkirkan. Terbukti, cukup sekali tepuk saja, dia sudah hancur lebur.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" Lita membeliak, "jangan-jangan ... kamu yang ada dibalik ini semua." Lita menuding lurus ke depan wajahnya.
Hati yang panas kian bergolak, terlebih saat melihat wajah di depannya tak merasa bersalah sama sekali. Dia tersenyum sinis, jelas sekali sedang mengejek Lita yang terlihat menyedihkan.
Tangan itu menepis perlahan telunjuk Lita yang mengarah padanya, menatap Lita dengan tajam dan penuh kebencian.
"Kalo emang iya, kenapa? Kamu mau apa?" lirihnya sembari mendekatkan wajah pada Lita.
"Kurang ajar! Jadi, benar kamu dalang dari semua yang terjadi sama aku? Maksud kamu apa? Kenapa kamu tega ngelakuin itu sama aku?" bentak Lita.
Kulit wajahnya merah padam, gejolak api amarah terus membumbung hingga menyentuh ubun-ubun. Kedua tangan mengepal erat, air mata pun tak terasa jatuhnya. Lita tidak peduli, jika saja memiliki sedikit tenaga lebih maka sudah pasti dia akan menyerang wanita di depannya itu.
"Kenapa kamu bilang? Itu udah pasti semua karena kamu rebut Zafran dari aku. Padahal, sedikit lagi dia bisa aku miliki, tapi gara-gara kamu melahirkan, dia jadi tinggalin aku lagi!" bentak wanita yang tak lain Mala itu.
Garis wajahnya mengeras, pancaran matanya penuh dendam. Tak terima karena kehilangan Zafran untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
"Itu wajar karena Mas Zafran itu suami aku!" sentak Lita tidak terima pula.
"Tapi dia cinta pertama aku! Dia harusnya sama aku, bukan sama kamu!" Mala tak kalah meninggi.
Kedua-duanya merasa benar dan tak mau saling mengalah. Lita menggelengkan kepalanya, ia tak lagi menangis karena untuk apa? Air mata tak menyelamatkannya dari situasi menjengkelkan itu.
"Ah ...!"
Tiba-tiba Mala tertawa, menatap sinis pada Lita dengan sudut bibir yang tertarik ke atas. Ia mengeluarkan ponsel, dan tersenyum aneh saat memainkannya.
Lita yang melihat mengernyit kebingungan, menunggu apa yang akan dilakukan wanita jahat di depannya itu.
"Gimana, ya, kalo misalnya Zafran tahu kelakukan istri tercintanya ini? Aku yakin dia pasti syok dan kamu akan ditendang dari kehidupannya. Setelah itu, aku akan datang merayunya, dan tentu saja mengajaknya menikah. Apa lagi?"
Mala tertawa senang, diputar-putarnya benda pipih di tangan, menunjukan sesuatu yang amat dikenali Lita.
Mata Lita sontak membelalak, ia mendekat dan ingin merebut benda itu, tapi Mala dengan sangat mudah mempermainkannya.
"Jangan, Mala. Aku mohon, jangan kasih tahu itu sama Mas Zafran. Aku mohon!" pinta Lita sambil bersimpuh di kaki Mala.
Meratap meminta agar Mala tak memberitahu Zafran soal foto-foto yang diambil tiga wanita tadi.
"Kenapa aku harus nurut sama kamu? Ini ponsel aku, bukan punya kamu. Ya udah, ya. Aku pergi dulu, mau jenguk kekasih hati di penjara," katanya seraya memasukkan kembali ponsel tersebut ke dalam tas dan melenggang pergi.
Lita tak mampu berlari mengejar Mala yang sudah lebih dulu masuk ke mobilnya. Ia memaksakan diri untuk berlari, tapi tak mampu. Lita terjatuh di jalan, menangis pilu dan meratap lirih.
"MALA!"
Sekali lagi berteriak sebelum pasrah pada takdirnya.
******
"Sayang! Kamu di mana?" Suara Fatih yang menyeru memanggil Seira, menggema di ruang tengah rumah.
"Ada apa, Mas? Kenapa datang teriak-teriak?" Seira muncul dari tangga, baru saja menidurkan Rayan di kamarnya.
"Hati-hati, sayang. Kenapa nggak pindah ke bawah aja? Aku, kan, udah bilang di kamar bawah aja. Biar kamu nggak usah naik turun tangga," ucap Fatih cemas.
Laki-laki itu bahkan menyambut tubuh Seira khawatir akan terpeleset ataupun terjatuh. Padahal, perut Seira masih rata belum ada beban yang dibawanya. Wanita itu tersenyum geli, tapi tetap menerima dengan baik sambutan sang suami.
Fatih menuntunnya mendekati sofa, duduk berdampingan seraya mengusap-usap perut sang istri.
__ADS_1
"Perut aku masih rata, Mas. Nggak apa-apa, kok. Nanti kalo udah besar, baru aku juga nggak berani naik turun tangga," ucap Seira sambil mengusap rambut lembab suaminya.
Fatih mendongak, menggeleng cepat.
"Nggak, nanti aku nyuruh orang buat pindahin barang-barang Rayan. Biar kamarnya dampingan sama kamar kita di bawah sini," katanya tegas.
Seira mendesah, tapi tak menolak keinginan Fatih. Betapa ia mengerti kecemasan laki-laki itu, maklum ini adalah anak pertamanya dan dia ingin menjaga mereka dengan sebaik mungkin. Sama seperti saat Seira mengandung Rayan.
"Ya udah. Tadi kenapa Mas teriak-teriak? Gimana keadaan restoran? Nggak ada masalah, 'kan?" tanya Seira penasaran.
Fatih tiba-tiba duduk tegak, berbalik menghadap Seira. Matanya memancarkan keraguan apakah dia harus mengatakannya pada Seira atau ia rahasiakan saja sendiri.
"Mas? Jangan bikin aku penasaran, deh." Seira mencubit pelan pinggang suaminya.
Fatih terlonjak karena geli sambil menahan tangan nakal istrinya.
"Mmm ... kamu udah denger kabar terbaru?"
"Kabar terbaru apa? Tumben Mas tanya gosip, apa ngidam gosip juga?" Seira tertawa geli.
"Bukan, sayang, tapi soal mantan suami kamu," ucap Fatih ragu.
"Kenapa sama laki-laki itu?" Seira mendengus, dia benar-benar tak ingin ada pembahasan tentang mereka. Tentang orang-orang yang pernah terlibat di masa lalunya.
"Jangan cemberut, cantiknya ilang nanti." Fatih menggoda.
"Lagian Mas, dateng-dateng malah bahas dia. Bikin mood aku rusak," ucap Seira memberengut.
"Iya, maafin Mas. Bukannya mau bikin kamu jengah, tapi Mas rasa kamu perlu tahu soal dia."
Seira memalingkan wajah tak suka.
"Dia masuk penjara karena mencuri, ibunya stroke, dan anaknya sakit parah. Itu kabar yang Mas denger saat di restoran tadi," ucap Fatih teringin melihat reaksi Seira.
Wanita itu termangu beberapa saat, sebelum menoleh kembali padanya.
"Terus, istrinya gimana?" Teringat pada Lita yang telah merebut Zafran darinya.
"Mas nggak tahu, nggak denger kalo soal itu, tapi ya udahlah. Mereka punya kehidupan sendiri, 'kan. Kita urusin aja kehidupan kita," ucapnya lagi sambil menangkup wajah sang istri.
Seira tersenyum, hatinya setuju dengan ucapan Fatih. Semua punya urusannya sendiri, tak perlu sibuk dengan urusan orang lain. Ia mengangguk dengan senang hati, Fatih membawanya ke dalam pelukan.
__ADS_1
Seira mencoba untuk tidak peduli pada mereka, orang-orang yang menghina dan menyakitinya di masa lalu.