
"Jangan dekat! Jangan dekati aku. Aku ini kotor, aku nggak pantes kalian kasihani. Aku nggak pantes," lirih Zafran sambil menggeleng terus menunduk mengusap wajahnya sendiri.
Lita menangis tergugu, pun dengan ibu mertuanya. Mereka bergeming di tempat tidak berani mendekat. Namun, gadis kecil itu tidak takut apapun, dia hanya ingin melihat wajah sang ayah, dia hanya ingin memeluknya. Menumpahkan rindu yang selama ini dipendamnya dalam diam.
Naina melepaskan tautan tangannya dari Lita, melangkah pelan menghampiri Zafran meskipun laki-laki itu terus meracau menolak didekati. Naina tanpa segan memeluknya, menangis meluapkan seluruh rindu di hati.
Zafran menegang, ketakutan muncul dalam diri. Ia takut jika Naina menyentuhnya, anak itu akan tertular seperti yang orang-orang katakan. Reflek Zafran mendorong tubuh kecil itu hingga terjengkang ke belakang.
"Ayah!" Naina menjerit dan menangis histeris.
Sementara Zafran, berpaling merasa malu dan merasa bersalah atas apa yang dia lakukan. Bahunya berguncang karena menangis, sesenggukan menahan sesak yang merebak.
"Jangan dekati aku, jangan! Aku menjijikkan, kalian jangan dekat-dekat sama aku."
Zafran tersedu-sedan, ia tak akan pernah bisa seperti dulu lagi. Tubuhnya terus mengering, wajah semakin pucat pasi. Sungguh miris memang.
"Ayah." Naina kembali memanggil Zafran. Perlahan dia berdiri dibantu Lita, keduanya menatap Zafran dengan hati yang teriris.
Naina kembali mendekat, dia memang gadis yang pantang menyerah. Memiliki tekad yang kuat, meski harus melebihi tinggi tubuhnya. Naina kembali memeluk Zafran, kali ini lingkaran tangannya semakin erat di tubuh sang ayah. Dia takut Zafran akan menghempaskannya lagi.
"Lepas! Lepasin aku, Naina!" pinta Zafran bersungut-sungut, ia menggerakkan tubuhnya supaya Naina terlepas.
Namun, tangis anak itu justru semakin menjadi, semakin merapatkan tubuhnya pada Zafran.
"Naina! Lepasin Ayah, sayang. Ayah nggak mau kamu ketularan penyakit Ayah," pinta Zafran meski malu, tapi ia harus mengatakan yang sejujurnya pada mereka.
"Nggak! Nai kangen sama Ayah, Nai mau peluk Ayah. Kata Ibu, Ayah lagi kerja biar hidup kita bisa kayak dulu lagi, tapi kenapa Ayah di sini? Kenapa nggak ada yang kasih tahu Nai kalo Ayah sakit?" ucap Naina benar-benar mengiris perasaan Zafran.
__ADS_1
Dia teringat waktu itu, Zafran pernah membentaknya, memarahinya tanpa sebab, hanya karena dia terlahir bukan dari benihnya.
Astaghfirullah al-'adhiim, ya Allah. Ampuni dosaku. Aku nggak sadar kalo selama ini punya anak yang begitu baik walaupun bukan darah dagingku. Aku mohon ampun, ya Allah!
Hati Zafran bergumam lirih, pedih rasanya saat harus menerima kebaikan Naina, tapi sekali lagi dia ingat bahwa dia adalah pengidap HIV, penyakit berbahaya dan mematikan. Yang penting, menular.
Zafran menggerakkan tubuhnya lagi, Lita menangis memeluk tubuhnya sendiri. Isak tangis Ibu pun tumpah terdengar lirih.
Hendra menghela napas, dia mendekat dan berhadapan langsung dengan laki-laki menyedihkan itu.
"Dia kangen sama kamu, Zafran. Biarin aja dia peluk kamu," ucap Hendra santai.
Zafran meradang, menatap nyalang dokter di depannya. teringin sekali mencabik-cabik mulutnya yang tengil itu hingga dia tak dapat bicara lagi.
"Terus, biarin dia ketularan, begitu? Begitu yang kamu mau? Dia cuma anak kecil, Hendra. Dia nggak tahu apa-apa, perjalanannya masih panjang, nggak seharusnya dia nanggung semua beban itu sendirian. Kamu tega, Hendra," ketus Zafran sembari berpaling muka darinya.
"Tim kami menemukan fakta lain pada diagnosa milik kamu, Zafran. Nggak ada virus HIV ataupun Aids, melainkan hanya sejenis penyakit baru dan langka yang nggak diketahui penyebabnya. Gejalanya sama persis seperti Aids, tapi kamu tenang aja. Penyakit itu nggak nular kayak Aids. Jadi, mereka yang peluk kamu nggak akan tertular," jelas Hendra membuat kemarahan Zafran mereda.
Ia kembali menatap sahabat dokternya, terpancar sebuah harapan untuk sembuh dan bertemu dengan Rayan.
"Apa aku bisa sembuh?" tanyanya lirih.
Semua orang menoleh termasuk Naina yang masih saja memeluk ayahnya. Setelah mendengar penjelasan Hendra, Zafran menarik tubuh Naina dan memeluk serta menciumnya.
"Aku nggak tahu, sejauh ini para peneliti bahkan belum menemukan penyebab dari penyakit ini. Yang pasti, kamu jangan putus asa dan terus minta sama Yang Kuasa agar diberikan kesehatan pada kalian," ucap Hendra bijaksana.
Zafran tergugu, Lita mendekat bersama Ibu dan berhambur memeluknya. Tak apa, jika setelah ini dia memiliki suami yang catat yang penting Zafran masih mau menerimanya sebagai istri. Mereka sama-sama bermain di belakang, jadi apa bedanya Zafran dengan Lita? Atau Lita dengan Zafran?
__ADS_1
"Jadi, Dokter, apa bisa Mas Zafran dirawat di rumah aja?" tanya Lita penuh harap.
Hendra menatapnya, sebenarnya dari pandangan mata mereka saja Lita sudah tahu jawabannya.
"Tunggu setidaknya saat kondisi Zafran lebih baik dari sekarang ini. Untuk sementara, biarin dia dirawat di sini aja. Di sini ada banyak dokter ahli yang akan memantau perkembangan keadaan Zafran," ucap Hendra terlihat peduli terhadap Zafran dan keluarganya.
Hari itu, mereka melepas rindu. Lita mengatakan alasannya kenapa tidak pernah datang menjenguk. Selain bekerja untuk menyambung hidup, dia juga harus merawat Naina dan Ibu yang sakit dan tidak dapat melakukan apapun tanpa bantuan mereka.
Mendengar keterangan Lita, hati Zafran menyejuk. Betapa ia berhutang budi pada Lita karena telah merawat ibunya dengan baik. Ia tidak tahu akan seperti apa jadinya jika saja Lita meninggalkan mereka berdua.
"Makasih, makasih banyak kamu udah rela ngerawat Ibu selama ini, makasih karena kamu nggak ninggalin Ibu. Makasih, Lita," ucap Zafran penuh dengan rasa syukur yang tak terhingga.
Kilas balik cerita melintas bergantian, berseliweran di dalam pikiran. Memperlihatkan semua yang telah mereka lakukan di sama lalu hingga tiba pada saat kehidupan mereka yang sekarang.
Tangis Zafran semakin histeris disaat bayangan Seira yang menjatuhkan air mata terpampang di hadapannya. Dalam hati berharap semoga kapan saja waktunya mereka akan dipertemukan.
"Gimana selama ini kehidupan kalian? Dari mana kalian makan? Mas selalu kepikiran itu," tanya Zafran. Ia ingin mencari jawaban dari kegundahan hatinya selama ini.
Ibu melirik Lita, ada sebuah rahasia yang tak boleh terbongkar. Dia tidak ingin mereka mendapatkan masalah lagi. Lita tersenyum, ia menunjukkan kedua telapak tangannya yang kasar pada Zafran. Biarkan dia melihat sendiri betapa Lita sudah bekerja keras selama ini untuk menghidupi mereka.
Zafran mengusap-usap tangan itu, tak kuasa untuk tidak menangis. Dikecupnya tangan Lita penuh rasa sesal, merasa tak berguna menjadi seorang suami.
"Maafin Mas, ya. Udah biarin kamu kerja keras kayak gini," ucap Zafran penuh sesal.
Lita tak mengapa, ia menggeleng sambil tersenyum. Namun, ingatan tentang Mala yang datang dan membawa foto-foto itu kembali mengusik ketenangan Zafran.
"Itu artinya yang Mala tunjukkin waktu itu cuma fitnah, 'kan? Semua itu nggak bener, 'kan?"
__ADS_1
Lita terhenyak, tak tahu harus berkata apa.