Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Membuat Ulah


__ADS_3

Beberapa hari berlalu setelah acara pembukaan cabang restoran Fatih, mereka memutuskan untuk tetap tinggal di rumah kecil belakang restoran. Seira merasa nyaman karena selain tempatnya yang asri, ada saja karyawan yang menemaninya untuk sekedar berbincang.


Bi Sari sendiri kembali ke rumah Ibu karena ingin menemani mereka di rumah besar tersebut. Mereka mengerti karena sekarang banyak yang dikelola Fatih, dan tidak mungkin untuknya bolak-balik setiap hari.


Pagi itu, Seira telah bersiap dengan pakaian barunya yang kini menutupi seluruh aurat. Dia tampak semakin cantik dan Fatih selalu jatuh cinta setiap harinya. Ia sedang mendandani Rayan dengan seragam sekolah, hari itu Seira memutuskan untuk memulai pendidikan anak sulungnya.


"Kak Rayan! Udah siap belum?" Suara Rani menggema di halaman, gadis kecil dengan rambut panjang yang diikat dua itu tampak menggemaskan.


"Ya, Rani! Tunggu bentar, ya!" teriak Rayan dari dalam rumah.


Gadis kecil itu duduk di gubuk menunggu tanpa jemu. Ia diantar ibunya tadi, tapi wanita itu langsung pergi karena harus menjajakan dagangan di pasar.


Rayan keluar bersama Seira, seragam mereka sama karena keduanya akan bersekolah di tempat yang sama pula. Rani melompat turun dan bergegas menghampiri mereka, menyalami Seira dengan penuh hormat seperti yang biasa dia lakukan.


"Kamu cantik sekali hari ini? Seragamnya pas banget sama kamu," puji Seira tidak berbohong.


Gadis kecil itu tersenyum malu-malu, ia senang dipuji seperti tadi.


"Apa itu bakal makan Kakak?" tanya Rani saat melihat kotak bekal milik Rayan.


Seira mengangguk dan melihat kotak bekal milik gadis itu. Rani berubah murung karena kotak bekalnya tidak dibungkus rapi dengan tas seperti Rayan.


"Tunggu, ya," ucap Seira, seraya pergi kembali ke dalam untuk mengambil sesuatu.


Berselang, ia datang lagi dengan membawa sebuah tas yang serupa hanya berbeda warna saja.


"Kebetulan Ibu ada satu lagi, ini buat Rani ajak. Nggak apa-apa, kan, warnanya merah? Karena cuma ada ini aja," ucapnya seraya memberikan tas tersebut kepada Rani.


Gadis kecil itu mengibaskan rambutnya, senang bukan kepalang. Katanya, "Nggak apa-apa."

__ADS_1


"Udah siap!" Suara Fatih mengalihkan mereka semua.


Kompak ketiganya mengangguk, dan bersama-sama berjalan menuju parkiran. Tak lupa si kecil Fathiya turut pula diajak untuk bersekolah.


Namun, mereka dikejutkan oleh sebuah pemberitaan, yang menyiarkan video seorang laki-laki sedang menangis memohon belas kasihan untuk dipertemukan dengan anaknya. Seira terhenyak, ia segera saja menoleh pada layar besar di dalam restoran.


"Mas!" Tangannya mengangkat kemeja Fatih agar melihat berita tersebut.


"Tolong, saya mohon. Saya cuma mau ketemu anak saya, itu aja. Tolong pertemukan saya sama anak saya. Saya merasa umur saya nggak akan lama lagi, saya cuma mau lihat anak saya sebelum pergi. Pengen peluk, pengen cium dia sebelum maut datang. Tolong pertemukan kami."


Bibir Seira terbelah hingga membentuk celah yang tak sedikit. Menganga menyaksikan Zafran yang berbicara sambil menangis di depan sebuah kamera.


Oh, berbagai tanggapan netizen bermunculan, kebanyakan mereka merasa iba dengan kondisi Zafran yang terlihat tak sehat. Dia duduk di kursi roda dengan mengenakan pakaian pasien, wajahnya yang pucat dengan bibir yang mengering pula, semakin menambah kesan menyedihkan pada sosoknya.


"Untuk anakku. Nak, ini Ayah. Ayah cuma mau ketemu sama kamu, sayang. Ayah kangen, pengen peluk sama cium kamu. Kenapa kamu takut sama Ayah? Ayah bukan orang jahat, Nak. Ayah cuma dipisahkan oleh mereka dari kamu, sayang. Ayah mau ketemu sama kamu, Rayan."


Namun, di antara mereka juga ada yang menyadari wajah Zafran. Desas-desus di kalangan para karyawan tak terelakan. Menerka siapa Rayan yang dimaksud laki-laki dalam video itu.


Fatih menggeram, begitu pula dengan Seira. Kedua tangannya mencengkeram erat pegangan kereta bayi Fathiya, bergemuruh dada menyaksikan kebohongan besar yang dibuat Zafran.


Brak!


"Rayan nggak mau sekolah!"


Anak itu melempar tasnya dan berlari kembali ke belakang restoran di mana mereka tinggal. Seira dan Fatih tersentak, gegas menoleh pada anak yang terlanjur emosi itu.


"Rayan!" panggil keduanya seraya mengejar anak itu bersama-sama dengan Rani.


"Sayang! Rayan!" panggil Seira yang tak diindahkan oleh anak itu.

__ADS_1


"Rayan nggak mau sekolah, pokoknya nggak mau!" jerit Rayan dari dalam rumahnya.


Seira buru-buru menyerahkan kereta Fathiya pada papahnya dan menyusul Rayan ke dalam rumah. Wanita itu mematung melihat anaknya yang berdiri di dekat sofa dengan air mata berderai deras.


"Rayan nggak mau sekolah, Mah. Rayan nggak mau," katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Tangisannya terdengar pilu, ada sebuah rasa sakit yang menimpa ulu hati Rayan kala melihat Zafran di televisi tadi. Seira melangkah pelan mendekati, memeluknya dengan lembut, memberi ketenangan pada hati Rayan yang sedang terguncang.


"Iya, sayang. Rayan nggak pergi sekolah hari ini, Rayan di rumah aja, ya. Udah jangan nangis," ucap Seira menahan getar kesedihan yang membuncah dalam jiwa.


"Mah, kenapa dia bilang begitu? Bukannya dulu Mamah diusir sama dia? Dia juga nggak pernah ada kalo Rayan sakit. Cuma ada Papah aja di samping Rayan, kenapa baru sekarang dia ngomong pengen ketemu." Rayan mengurai pelukan, menatap manik sang ibu dalam-dalam.


Menyelami segala rasa yang terpancar lewat sorot kedua retina itu. Ada kesedihan yang tergambar jelas di sana membuat hati Rayan berdenyut-denyut nyeri.


"Nggak apa-apa, sayang. Usia Kakak saat ini yang nggak memungkinan buat ngertiin situasi yang terjadi. Yang pasti, dia memang ayah Kakak, tapi Mamah nggak bisa maksa kalo Kakak emang belum mau ketemu sama dia. Udah, sekarang jangan nangis lagi. Malu, lho, sama Rani," ucap Seira yang tak ingin membebani hati dan pikiran bocah itu.


"Iya, sayang. Ya udah, buat hari ini nggak usah sekolah dulu. Kakak diam aja di rumah sama Rani, Papah mau pergi dulu, ya." Fatih datang memberikan Fathiya pada mamahnya.


Ia segera saja pergi menemui temannya yang entah siapa. Seira memeluk Rayan yang masih sesenggukan karena video tadi. Entah bagaimana perasaan anak itu, tiba-tiba dia menangis histeris.


"Mah, Rayan nggak mau ketemu sama dia. Kata Nenek dia sering bikin Mamah nangis dulu. Dia juga nggak ada waktu Mamah lahirin Rayan. Yang jagain Rayan dari kecil itu Papah, bukan dia. Papah Rayan cuma satu, Rayan nggak mau papah yang lain," ungkap anak itu dengan sisa tangisannya.


Seira mengangguk, entah bagaimana menjelaskannya kepada Rayan, dia sendiri tidak tahu.


"Tapi dia ayah Rayan, ayah lagi sakit. Pikirin baik-baik, ya, sayang. Umur nggak ada yang tahu, kita yang sehat hari ini siapa yang tahu esok akan mati. Jadi, dia cuma pengen ketemu sama Kakak. Terserah Kakak apa cuma mau dari jauh, atau peluk ayah Kakak. Mamah nggak apa-apa, kok." Seira mengusap rambutnya yang basah.


"Tapi sekarang Rayan nggak mau, Mah. Rayan takut." Anak itu kembali menangis, Seira menenangkan sambil mengusap-usap punggungnya.


Sungguh berat ujian untuk Rayan, dihadapkan pada sebuah kenyataan pahit yang harus dia terima.

__ADS_1


__ADS_2