Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Klarifikasi


__ADS_3

Sebuah ruangan disulap menjadi tempat pertemuan, di mana mereka akan berhadapan dengan para pemburu berita. Meja panjang disiapkan di bagian paling depan, di sanalah Fatih dan yang lainnya akan duduk.


Di hadapan meja tersebut, berderet-deret kursi juga dipersiapkan untuk para wartawan yang menyerbu restoran Fatih. Mereka bekerjasama membuat acara konferensi pers itu tertutup dari khalayak ramai dan tidak mengganggu jalannya rutinitas di gedung tersebut.


"Jago, giring semua wartawan ke rumah sakit!" Perintah singkat dari Fatih menejelaskan tempat yang dipilih untuk dijadikan pertemuan besar tersebut.


Ia berada di ruangan lain bersama semua orang, termasuk di dalamnya Zafran dan Dokter Ferdi. Mereka tidak membiarkan Zafran kembali ke ruangannya. Dia yang memiliki andil paling besar dalam masalah itu, dan harus menyelesaikannya secara tuntas. Membersihkan nama Fatih dan Seira, juga menghilangkan ketakutan di hati Rayan serta mengembalikan kepercayaan Naina pada sosok seorang Ayah.


Fatih terdiam menatap dalam-dalam sosok Zafran yang menunduk di atas kursi rodanya. Mungkin jika dia bukan seorang pesakitan, sudah dibuat babak belur oleh Fatih. Sayangnya, dia harus menahan semua itu.


Fatih terlonjak ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Dilihatnya nama si penelpon, gegas mengangkatnya tanpa menunggu lebih lama.


"Ya, sayang. Udah nggak ada masalah, 'kan?" tanya Fatih dengan cepat.


Ia melirik Zafran yang tiba-tiba mendongak mendengar panggilan sayang diucapkan Fatih. Tajam dan menusuk, juga mengancam membuat Zafran tak bisa berlama-lama menatapnya.


"Mas, mereka semua udah pergi, tapi Jago masih berjaga di depan. Ada apa, Mas? Emang bener mereka pergi ke rumah sakit? Aku takut Mas kenapa-napa," jawab Seira terdengar panik dan gelisah.


Fatih tersenyum, ia senang setiap kali Seira mengkhawatirkannya. Namun, senyum itu seketika berubah sinis, tatkala Zafran kembali mendongakkan wajah menatapnya.


"Kamu tenang aja, ya. Mas akan selesaikan semuanya di sini, apapun yang terjadi masalah ini harus selesai sekarang juga. Kamu di rumah baik-baik, jangan pergi ke mana pun," sahut Fatih yang tak lepas matanya dari menatap Zafran yang kerap mencuri pandang padanya.


Oh, hati Zafran mencelos nyeri. Teringat disaat dia masih bersama Seira. Wanita itu selalu menjadi yang terdepan jika terjadi masalah di gudang, apapun. Sedangkan dirinya, hanya bisa mengeluh dan mengeluh tanpa memberikan solusi. Sungguh sangat berbanding terbalik, bersama Fatih, mantan istrinya itu tak perlu melakukan banyak hal. Cukup diam di rumah dan tenang.


"Aku mau ke sana, aku nggak bisa tenang di rumah, Mas. Aku mau ke sana."


Suara Seira terdengar panik, Fatih tersenyum lagi dan Zafran melihatnya dengan pandangan cemburu. Sebegitu bahagianyakah laki-laki itu mendapat perhatian dari Seira? Oh, tentu saja. Dia pun begitu dulu, saat-saat bersama wanita yang tak pernah dia hargai sama sekali.


"Sayang, sayang. Denger! Kamu jangan pergi ke mana pun. Percaya aja sama Mas. Mas janji nggak akan kenapa-napa. Kamu percaya suamimu, 'kan?" jawab Fatih sembari meyakinkan Seira untuk tetap di rumah.

__ADS_1


Ia tak ingin Rayan sampai terekspos di seluruh saluran, biarlah anak itu tetap tersembunyi dan publik tak perlu tahu tentang sosoknya. Sosok yang menjadi topik utama dari permasalahan yang dibuat Zafran.


"Kamu janji nggak akan kenapa-napa?" Suara Seira melemah.


"Iya, sayang. Mas janji akan baik-baik aja. Kamu doakan di rumah semoga semua dapat terselesaikan dengan baik hari ini juga. Tenang, ya. Kalo kamu nggak bisa tenang, Mas juga nggak bisa fokus," bujuk Fatih sungguh-sungguh.


Tak hanya Zafran yang mendengarkan percakapannya, tapi juga Hendra dan Nisa, Gilang dan Dokter Ferdi. Terbetik rasa cemburu di hati Nisa, ia pun ingin Hendra bersikap seperti Fatih dapat dengan sabar menenangkannya.


Zafran melengos kala Fatih menutup sambungan dan kembali melayangkan tatapan padanya.


Tok-tok-tok!


"Pak, mereka semua udah di sini!"


Fatih mengernyit, itu suara Jago. Bukankah kata Seira dia di restoran? Oh, laki-laki itu memang seperti penyihir yang mudah berpindah tempat hanya dengan teleportasi.


Gilang membuka pintu, sesuai perintah dari Fatih, keduanya membawa semua wartawan menuju gedung yang telah disiapkan. Menyusul Fatih dan yang lainnya.


Hari itu, seluruh saluran televisi menyiarkan berita mereka. Seira duduk di depan televisi, begitu pula dengan Lita. Ibu dan Biya juga Bi Sari yang berencana mendatangi restoran urung karena tak ingin tertinggal berita klarifikasi tersebut.


Zafran tertunduk, berbeda dengan Fatih yang duduk tegak menatap semua kamera. Aura mereka berdua sangat bertolak belakang, Fatih terlihat lebih menonjol dari yang lainnya. Ia menautkan jemari di atas meja, membenarkan pengeras suara yang berada di depannya.


"Ekhem." Berdehem menekan gugup.


"Hari ini, tidak ada tanya jawab. Hari ini kita semua akan mendengarkan klarifikasi dari orang yang bersangkutan dalam video tersebut. Semoga setelah ini, pemberitaan tentang video yang sedang beredar akan redam dan menghilang karena yang mengalami dampak paling besar dari masalah ini, adalah anak saya dan satu anak lainnya. Silahkan!"


Fatih menyerahkan pengeras suara kepada Zafran, mata-mata wartawan semua berputar menyoroti Zafran yang masih tertunduk dengan bahu terguncang.


"Dasar pecundang! Kamu nggak pantes disebut Ayah, Zafran!" umpat Lita sembari mencibir laki-laki itu.

__ADS_1


"Pengecut kamu, Zafran. Angkat kepalamu seperti saat kamu membuat heboh seluruh jagat agar semua orang bisa melihat wajahmu itu!" geram Seira tak sabar ingin mendengar apa yang akan diucapkan Zafran.


Hendra menyenggol Zafran, meminta laki-laki itu untuk secepatnya berbicara. Meminta maaf pada semua orang perihal kebohongan yang telah dia buat.


"A-aku ... a-aku minta maaf pada semuanya. Khususnya pada orang-orang yang terkena dampak dari tersebarnya video saya. Saya hanya ingin meluruskan bahwa mereka ... mereka tidak pernah melarang saya untuk bertemu dengan anak saya. Yah, itu memang hanya karangan saya semata karena ingin segera bertemu dengannya, tapi ternyata saya salah. Semua itu justru membuatnya semakin jauh dari saya, dan juga ...." Zafran mendongak.


Menatap kamera dengan matanya yang merah lagi basah. Kali ini dia terlihat sungguh-sungguh, dan penuh penyesalan.


"Saya minta maaf, Ayah minta maaf sama kamu, sayang. Naina, tolong maafin Ayah. Tolong jangan benci Ayah, sayang. Maafin Ayah." Zafran tersedu-sedan.


Lita terhenyak, ia menegakkan tubuhnya saat nama Naina disebut.


"Ayah juga minta maaf sama kamu, Nak. Rayan, maafin Ayah. Kalo kamu emang belum siap nerima Ayah karena masa lalu Ayah yang buruk, Ayah akan bersabar nunggu kamu. Ayah cuma berharap, bisa memeluk kamu sebelum kematian menjemput. Maafkan Ayah, Nak, karena Ayah nggak pernah ada di masa pertumbuhan kamu. Maafkan Ayah."


Tangis Zafran semakin pilu. Semua wartawan diam mendengarkan, tak tega rasanya melihat laki-laki itu menangis menyesali semua perbuatannya.


"Sei, maafin aku, Seira. Ampuni aku, aku mengaku salah dan berdosa sama kamu. Tolong maafin aku."


Seira bergeming sembari menahan sesak di dada. Sekalipun kejadian itu telah lama, tak mudah untuk Seira melupakan semua kesakitan yang pernah ditorehkan Zafran di hatinya. Matanya berkedut menahan tangis, sebulir cairan bening jatuh dan langsung disapunya dengan cepat.


Tiba-tiba tangan kecil Rayan mengusap pipinya, ia menggeleng ketika pandang mereka bertemu.


"Jangan nangis, Mah. Lupain semua, supaya hati Mamah tenang. Rayan udah bisa nerima semuanya, Rayan juga udah bisa nerima Ayah."


Seira memeluknya, menumpahkan tangis di atas pundak kecil itu.


*****


"Nai udah maafin Ayah. Walaupun Ayah bukan Ayah Nai, tapi Nai tetap sayang sama Ayah."

__ADS_1


Lita menoleh pada putrinya. Gadis kecil itu tersenyum, ia tampak selalu tegar dan kuat. Lita menarik tubuhnya ke dalam dekapan, merasa bangga karena memiliki Naina sebagai anaknya.


__ADS_2