Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Bukan Papah Rayan


__ADS_3

Dua tahun berlalu sudah, dan selama itu pula Fatih terus bersabar menunggu kesiapan Seira untuk diboyongnya ke Jakarta. Dua tahun ini ia terus bolak-balik Jakarta dan itu tidak masalah baginya.


Sore itu Seira tengah membereskan toko bersama yang lainnya sebelum malam datang menjelang, sedangkan Rayan masih asik bermain dengan teman sebayanya.


"Non, apa Non akan begini terus? Kasian Den Fatih bolak-balik Jakarta. Apa Non juga nggak kangen sama kota kelahiran?" tanya Bi Sari disaat mereka duduk usai membereskan semuanya.


Seira menghela napas, seperti ini saja ia bahagia. Setiap kali mendengar kata Jakarta, entah kenapa rasa takut langsung saja menyerbu hatinya. Ia takut Rayan akan bertemu dengan Zafran, dan laki-laki itu akan merebut sang anak darinya.


Jika dia menolak mengakui pun, mustahil Zafran tidak mengenalinya. Wajah Rayan dominan Seira, tapi mata itu milik Zafran. Mata bulat dengan irisnya yang berwarna coklat.


"Aku nggak tahu, Bi. Aku cuma takut aja," sahut Seira.


Kali ini Bi Sari yang menghela napas, terlalu lama Seira menyimpan luka sehingga lama pula untuknya terlupa.


"Non, nggak kangen sama Ibu sama Ayah? Kita kunjungi mereka aja sekalian ajak main Rayan ke rumah neneknya. Nggak perlu tinggal di sana, jenguk aja mereka. Menginap beberapa hari rasanya nggak masalah, abis itu kita balik lagi ke sini. Kasian juga Ibu mertua Non, tiap kangen sama Rayan pasti jauh-jauh dateng ke sini," ucap Bi Sari membuat Seira menyadari semuanya.


Benar, tak perlu tinggal di sana. Cukup jenguk saja, lepas itu kembali lagi. Kemungkinan Rayan bertemu Zafran sangatlah kecil. Berbeda jika mereka tinggal di sana, maka setiap hari, setiap detik, bisa saja Zafran datang mencari.


Lagipula, dia merindukan kedua orang tuanya. Teringin sekali berziarah sekalian mengenalkan Fatih pada mereka.


"Bibi bener, ya udah nanti aku bilang sama Mas Fatih. Makasih, ya, Bi. Bibi selalu nasihatin aku," tuturnya sambil memeluk wanita tua itu.


Seira merasa beruntung atas kehadiran Bi Sari di sisinya, wanita tua itu amat gigih menguatkan hatinya disaat ia terpuruk dan putus asa.


"Alhamdulillah, Bibi seneng kalo Non masih mau denger nasihat Bibi." Bi Sari terharu.


"Siapa lagi yang mau nasihatin aku selain Bibi. Bibi Ibu keduaku, nggak mungkin aku nggak denger nasihat Ibu sendiri."


Keduanya tersenyum penuh rasa bahagia, tak henti hati berucap syukur pada Yang Kuasa atas segala nikmat yang diberikan-Nya.


"Mamah! Mamah!" Suara Rayan yang tiba-tiba, terdengar panik bahkan bergetar seperti sedang menahan tangis.


Seira beranjak dan tergopoh-gopoh menghampiri. Ia lekas memeluk tubuh Rayan yang terlihat menyeka mata.

__ADS_1


"Rayan! Kenapa, sayang?" tanyanya dengan hati cemas dan gelisah.


"Papah kapan pulang?" tanyanya menggunakan bahasa balita berusia tiga tahun. (Dibayangin aja, ya. Hehe)


Seira mengurai pelukan, merapikan rambutnya yang lembab karena keringat sambil mengusap pipi gembilnya.


"Kenapa? Rayan kangen sama Papah? Kan, baru satu Minggu Papah pergi kerja. Nanti malam juga Papah pulang lagi," jawab Seira mengingat malam itu adalah malam Minggu.


Seminggu sekali Fatih pulang dan akan menghabiskan waktu selama tiga hari bersama anak dan istrinya.


"Rayan mau temen-temen Rayan lihat Papah, mereka bilang itu bukan papah Rayan karena nggak ada di rumah setiap hari," adunya yang menohok hati Seira.


Dia memang bukan papah kamu, Nak, tapi tak mungkin lisannya berucap demikian.


"Siapa yang bilang? Wah, berani banget mereka bilang begitu sama anak Papah!" Suara Fatih menyela ucapannya.


Bocah gembil itu berbalik, wajahnya terus saja sumringah.


"Papah!" Ia berlari dan memeluk kaki laki-laki yang menjadi ayah sambungnya itu.


Ia berdiri di ambang pintu toko, menunggu kedatangan suaminya. Toko tutup lebih awal hari itu, kue-kue di etalase telah habis dan pesanan telah usai semuanya. Seira bahkan menambah satu bangunan lagi yang dijadikan tempat tinggalnya, sedangkan lantai dua toko, menjadi tempat karyawan yang ingin menginap.


"Mas!" Seira meraih tangan Fatih dan menciumnya dengan takzim disambut kecupan mesra pada dahi serta ubun-ubunnya.


Hal itu selalu membuat iri karyawan dan berangan-angan memiliki kehidupan seperti sang majikan. Mereka tak tahu saja perihnya perjalanan Seira. Keduanya masuk dengan Rayan di gendongan Fatih, Bi Sari memilih ke dapur berniat membuatkan minuman.


"Nggak usah, Bu. Ini tugas saya," sergah asisten yang ditunjuk Fatih hari itu.


Bi Sari kehilangan pekerjaan, berganti menjadi nyonya karena Seira dan Fatih tak mengizinkannya melakukan pekerjaan apapun.


"Nggak usah, Bi, biar saya aja. Bibi boleh pulang, makasih, ya." Seira muncul mengambil alih gelas dan membuat minuman sendiri untuk Fatih.


Asisten itu pamit karena waktu bekerjanya hanya sampai sore saja. Bi Sari cemberut merasa tak berguna lagi.

__ADS_1


"Nggak usah cemberut, Bibi nggak aku biarin kerja di rumahku sendiri. Duduk aja dan istirahat, jangan capek-capek," ucapnya sambil melengos dengan segelas teh hangat yang mengepulkan asap.


Terenyuh hati tuanya, tersungging senyum di bibir keriput itu. Rasa hangat menjalar ke seluruh pembuluh darah, terus langsung ke ulu hatinya. Merayap hingga ke urat-urat mata menciptakan embun yang menggenang di pelupuk mata.


"Non Sei emang orang yang baik, dia pantas bahagia dan nggak pantas disakiti. Mudah-mudahan Allah limpahkan terus kebahagiaan serta kemudahan hidup padanya. Aamiin."


Jarinya menyeka sudut mata, melengos meninggalkan ruang dapur dan pergi ke halaman belakang.


"Diminum tehnya, Mas." Seira duduk di samping Fatih yang asik bermain dengan Rayan.


"Rayan ngajak Mas main ke lapangan, dia pengen teman-temannya lihat-"


"Biar mereka nggak ngejek Rayan terus, Mah. Biar mereka juga tahu kalo Papah sering pulang," sela Rayan dengan celotehannya yang menggemaskan.


Seira merasa lidahnya kelu seketika, ia bungkam tak tahu harus menjawab apa. Fatih berinisiatif mengambil tubuh Rayan dan memangkunya. Menarik bahu Seira seraya mendaratkan kecupan di pipi keduanya.


"Ok, besok kita akan jalan-jalan. Bener-bener jalan. Jalan kaki sekalian olahraga dan nyapa teman-teman Rayan. Gimana?" Tangan yang mencengkeram bahu Seira mengerat. Ia tahu apa yang tengah dirasakan istrinya itu.


"Mmm! Ok, Pah." Rayan menyahut dengan riang gembira.


*****


Malam datang menyelimuti bumi, kegelapan menghampar menutupi jagat. Seira duduk di ruang depan sengaja menunggu kedatangan Fatih yang pergi ke masjid.


"Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumussalaam, Mas!" Seira sontak berdiri dan menyambut kedatangan suaminya.


"Tumben di sini, mana Rayan? Udah tidur?"


Seira mengangguk, ia menarik tangan Fatih untuk duduk di sofa. Bingung yang dirasakan laki-laki itu, tapi ia menurut sambil berpikir ada apa dengan wanitanya?


"Ada apa? Kayaknya ada yang mau kamu omongin?" tanyanya sebelum Seira menjawab.

__ADS_1


"Mmm ... iya, Mas. Itu ...."


__ADS_2