Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Siapa Laki-laki Itu?


__ADS_3

"Kenapa kamu pukul istri kamu, Nak? Apa salah dia?" tanya Ibu sambil memeluk Lita yang masih meringkuk di lantai.


Beruntung, keadaan malam itu di rumah sakit sedikit sepi walau ada beberapa orang yang lalu-lalang di sekitar lorong tempat mereka berada. Zafran bergeming dengan sorot mata tajam menyalang pada Lita.


Sungguh tak dinyana wanita yang dia cintai, wanita yang dia pilih menjadi istri bahkan rela mengusir wanita sempurna seperti Seira, telah menipunya selama ini. Oh, benar, orang tuanya pun seorang penipu. Buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya.


"Dia udah nipu kita, Bu! Sama kayak orang tuanya dulu yang nipu aku sampe bangkrut kayak sekarang," geram Zafran dari balik gigi-giginya yang merapat.


Jago mengernyit, ia tak tahu kisah hidup Zafran setelan kepergian Seira meskipun masih bekerja di gudang tersebut. Pantas saja laki-laki itu terlihat lebih kusut sepeninggal istri pertamanya. Ternyata, hidupnya sudah sengsara di awal pernikahan mereka.


"Nipu? Apa maksud kamu nipu kita? Nipu apa?" tanya Ibu semakin tak mengerti.


Ibu menatap anaknya yang dulu tak pernah marah seperti sekarang apalagi sampai main tangan. Dulu, Zafran orang yang tak mampu mengendalikan amarah. Setelah Seira datang, semuanya menjadi terkendali. Seperti seekor kerbau yang dikekang oleh seutas tali. Lalu, wanita itu pergi dan tali itu lepas yang kemudian menjadikannya bebas kembali.


Rasa kecewa memancar lewat tatapan mata Ibu, menyesali semua yang terjadi. Kehancuran hidupnya dimulai dari sejak kepergian wanita yang selalu mereka hina. Kesengsaraan terus datang silih berganti membawa ujian pada hidup mereka.


Apa yang terjadi merupakan akibat dari perbuatan mereka. Tak akan mungkin ada asap jika tak ada api.


"Anak itu ... bukan anak aku!"


Duar!


Tak hanya Ibu yang tersentak hingga terperenyak di lantai, tapi juga Jago yang berdiri di belakang Zafran bersiap siaga menahan tubuh laki-laki itu. Sepasang mata mereka melotot nyaris keluar dari tempatnya.


"Argh!"


Ibu memegangi dada kiri yang tiba-tiba sesak dan sakit, tapi masih bisa menahannya. Jago membeku di tempat, rasa tak percaya pada apa yang ditangkap pendengarannya.


Lita pun turut terkejut mendengar suara menggeram Zafran, ia mendongak dengan air mata yang berderai membanjiri pipi. Memandang Zafran seperti seorang budak yang meminta pengampunan.


"Bilang sama aku sama Ibu anak siapa Naina?" geram Zafran sambil mempertajam bola matanya.

__ADS_1


Lita sungguh tak pernah menduga, rahasia yang disimpannya akan terbuka secepat ini. Disaat kondisi mereka sedang sulit dan tak memiliki apa-apa. Semuanya berakhir, semua sudah berakhir. Wanita itu menunduk menghindari tuntutan Zafran lewat sorot matanya.


"Ng-nggak, Nak. Kamu jangan bilang begitu, Naina itu anak kalian. Ibu yakin," ucap Ibu lirih, tapi mengandung keragu-raguan di dalam hati.


Mata elang Zafran beralih pada wanita tua paling berjasa dalam hidupnya itu, sama sekali tidak mengendurkan emosi seolah-olah tak peduli apa yang bisa saja terjadi.


"Aku ngomong yang sebenarnya, Bu. Hendra bilang darah kami nggak ada yang cocok buat Naina, sedangkan dia sangat butuh darah itu sekarang supaya bisa tetap hidup. Aku cuma mau tahu anak siapa Naina? Siapa laki-laki itu?" sahut Zafran masih dengan amarah yang meletup-letup.


Jago tersadar, lekas menatap sekeliling dan mendapati beberapa orang memusatkan perhatiannya pada mereka.


"Pak, sebaiknya jangan di sini. Malu dilihat orang, ini aib, Pak." Jago mencoba menyadarkan Zafran.


Sekali lagi matanya berkeliling dan masih mendapati mereka di sana. Memperhatikan sambil berbisik-bisik, menunjuk-nunjuk Lita meski tidak secara langsung.


"Aku nggak peduli, Jago. Aku cuma mau dia bilang siapa ayahnya Naina? Anak yang aku rawat itu ternyata bukan darah daging aku. Dia anak orang lain, tapi SIAPA?!" Suara Zafran meninggi sampai-sampai menyentak Hendra yang sedang di ruangan.


Dokter muda itu buru-buru pamit pada rekannya, berlari keluar sambil membuka masker. Ia menghela napas menyaksikan pemandangan yang memang tak seharusnya terjadi.


"Zafran, jangan mempermalukan diri kamu sendiri. Lihat, ada banyak orang yang memperhatikan kalian. Ikut aku ke ruangan, kamu bisa menyelesaikannya di sana," ucap Hendra sambil membawanya pergi dan masuk ke ruangan.


Ibu menguatkan hati dan dirinya, dibantu Jago wanita tua itu beranjak dari lantai. Pun dengan Lita yang tak tertinggal. Dia pasrah, menerima takdir yang akan menimpa hidupnya. Siapa laki-laki yang menjadi ayah Naina? Dia sendiri tidak tahu.


Di dalam ruangan, Hendra bertindak sebagai penengah. Zafran masih terlihat geram, kedua tangannya mengepal teringin sekali menguliti wajah Lita yang memuakkan.


Sementara wanita itu, terus menunduk dengan kedua bahu yang terguncang. Dia menangis tersedu-sedu, menyesali semua yang sudah terjadi pada hidupnya.


"Lita, kamu harus akui siapa ayah dari anak kalian!" tanya Hendra dengan nada pelan sambil menatap geram padanya yang telah menghancurkan kehidupan dua sahabat yang dia sayangi. Terutama kehidupan Seira, wanita yang pernah bertakhta di hatinya.


Lita menggelengkan kepala, terus tertunduk dan terisak tanpa tahu tangisnya akan berakhir.


"Kamu nggak tahu apa nggak mau jawab?" Pertanyaan lanjutan dari Hendra membuat Zafran melirik. Kedua tangan yang mengepal semakin erat terlihat, laki-laki itu tak dapat mengontrol emosinya saat ini.

__ADS_1


"Aku nggak tahu," jawab Lita bergetar.


Plak!


Sekali lagi tamparan mendarat di pipi Lita, merobek salah satu sudut bibirnya hingga darah merembes. Lita jatuh tersungkur dari kursi, bayangkan betapa kerasnya pukulan Zafran itu.


"Zafran! Kamu nggak bisa main tangan sembarangan, ada undang-undang yang melarang melakukan KDRT. Ingat, Zafran, kamu suaminya sekarang." Hendra berdiri untuk mencegah Zafran melakukan hal yang berlebihan.


Ia tak ingin temannya itu terlibat dengan pihak berwajib karena tak dapat mengontrol diri.


"Aku nggak peduli, Hendra. Aku nggak peduli. Dia dan orang tuanya udah nipu aku, mereka penjahatnya, Hendra. Mereka! Bukan aku!" bentak Zafran menuding Lita di lantai.


"Maaf, Mas. Maafin aku, bukannya aku mau nipu kamu, tapi aku nggak tahu siapa ayah Naina. Aku ... aku dinodai, Mas," kilah Lita membela diri.


Ide itu muncul tiba-tiba, dalam hati Lita tersenyum berharap Zafran akan mempercayainya.


"Dinodai? Siapa yang melakukannya, kalo kamu emang dipaksa pasti kamu tahu gimana muka orang itu, 'kan? Atau kamu bingung milih laki-laki mana yang harus kamu jadikan korban buat bertanggungjawab atas bayi dalam kandungan kamu waktu itu. Terus kamu milih aku karena cuma aku yang bisa kamu lihat. Begitu, 'kan?" bentak Zafran berang.


Benar, semua itu benar. Lita bingung harus meminta pertanggungjawaban siapa waktu itu karena ia pernah tidur dengan beberapa orang laki-laki beristri. Menjadi simpanan para hidung belang demi sejumlah uang. Pada akhirnya teringat Zafran, suami sahabat yang sudah menolongnya.


Memang sulit menaklukkan Zafran waktu itu, tapi pada akhirnya berhasil juga hingga saat ini tiba. Saat semuanya hancur dan meluluhlantakkan kehidupannya. Kepalanya semakin dalam tertunduk.


Zafran tertawa sumbang, menertawakan dirinya sendiri yang begitu bodoh. Ibu yang melihat dan mendengar, semakin syok. Dadanya semakin sempit terasa, wajah tuanya pucat pasi.


"Berapa laki-laki yang udah tidur sama kamu sebelum kamu lari sama aku? Aku bener-bener nggak nyangka, kamu itu cuma seorang j*l*ng yang menjijikkan. Aku nggak sudi lagi punya istri kayak kamu, aku ...."


"Argh!" Suara rintihan Ibu menghentikan kalimat Zafran.


Semua orang menoleh dan dikejutkan oleh kondisi Ibu yang terkapar di lantai sambil memegang dada kirinya.


"Ibu!" Zafran dan Hendra cepat-cepat berlari ke arah Ibu, panik.

__ADS_1


"Hendra, cepat tolong Ibu, Hen. Cepat!" pinta Zafran.


Hendra keluar ruangan memanggil rekannya untuk membawa Ibu ke ruang IGD. Mereka pergi meninggalkan Lita sendirian. Tidak, Zafran meminta Jago untuk mengawasinya.


__ADS_2