Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Dampak Berita Zafran


__ADS_3

Berita itu tersebar cukup cepat hingga menjadi trending topik teratas. Orang-orang menyebutnya dengan istilah viral. Tak hanya di televisi, tapi di media-media sosial pun menjadi deretan berita paling atas dan banyak dicari oleh netizen.


Demi kesehatan mental Rayan, Seira tak pernah beranjak keluar dari lingkungan rumahnya. Televisi tak dinyalakan, khawatir video itu masih disiarkan di berbagai saluran televisi.


Bersama Rani yang setiap hari akan datang dengan ibunya, mereka belajar bersama di rumah. Langsung pada Seira. Mungkin untuk beberapa hari ke depan, mereka tak akan pergi ke mana-mana.


Meski tidak ada yang tahu siapa anak yang dimaksud Zafran, tapi jika nama Fatih terangkat tidak menutup kemungkinan para netizen akan memburu mereka, dan yang paling tidak diinginkan adalah datangnya para pemburu berita ke restoran.


Sementara di kontrakan kecil mereka, Naina sedang asik bermain dengan bonekanya. Sore itu mereka baru saja tiba di rumah. Lita bergegas membersihkan diri karena hampir seharian bekerja. Dia tetap saja lelah meskipun bekerja di dalam ruangan.


Naina tersentak saat mendengar suara Zafran di televisi yang sengaja dinyalakan Lita untuk menemaninya bermain.


"Ayah?" Ia bergumam kecil, berdiri dan mendekati televisi meninggalkan mainannya.


Betapa hati kecilnya rindu pada sosok itu, ingin memeluk dan bercengkerama dengannya. Namun, mengingat terakhir kali mereka bertemu, Zafran tak sehangat dulu padanya. Ia menahan segala kerinduan itu.


"Pasti anak itu bukan aku," katanya sedih.


Ia mengusap sudut mata yang tiba-tiba berair. Pelan-pelan dia mengerti bahwa Zafran tidak pernah menginginkannya. Ditambah video yang tersebar itu, semakin membuat yakin hati Naina bahwa ada anak lain yang diharapkan ayah sambungnya itu.


"Naina? Sayang, kenapa deket-deket lihat tv-nya?" tegur Lita sambil mengeringkan rambut dengan handuk.


Naina bergeming beberapa saat sebelum berbalik dengan wajahnya yang memerah. Lita tersentak, melempar handuk pada kursi plastik di dapur dan berhambur mendekati anaknya.


"Sayang, ada apa? Kenapa kamu nangis?" tanyanya sembari mengusap-usap kedua bahu Naina.

__ADS_1


Tubuh kecil itu menyingkir, supaya Lita bisa melihat berita di televisi. Wanita itu menegang, melihat Zafran yang menangis meminta dipertemukan dengan anaknya.


Lita memeluk tubuh Naina yang terasa bergetar. Rasa cemas yang hadir membuat jantungnya berdegup tak menentu. Untuk beberapa saat mereka saling berpelukan, tangan Lita bergetar saat mematikan benda tersebut. Ia memejamkan mata, sedih dan kecewa.


Apakah Zafran lupa pada sosok Naina? Anak yang dia rawat dari sejak dilahirkan meskipun bukan anaknya. Apakah dia lupa bahwa gadis kecil itu sangat menyayanginya, setiap hari bertanya kapan akan menjenguk ayah karena rasa rindu pada sosoknya.


Rencana akhir pekan ini akan menjenguk Zafran, sepertinya tak akan terlaksana. Hati Lita terlanjur kecewa, sepertinya memang Zafran sudah tak menginginkan mereka lagi. Biarlah, mereka hidup masing-masing saja.


Mengingat Zafran, Lita pun teringat pada ibu mertuanya. Di mana wanita tua itu tinggal, dia tidak tahu. Bagaimana kabarnya, dia ingin sekali melihat keadaan ibu mertua. Lita mengurai pelukan, tersenyum sambil mengusap pipi Naina yang sedikit berisi saat ini.


Gadis kecil itu terlihat lebih sehat, lebih ceria, dan lebih aktif. Lita secara rutin membawa Naina melakukan pemeriksaan ke rumah sakit, tapi tidak berniat menjenguk Zafran.


"Apa Nai kangen sama Ayah? Mau ketemu Ayah?" tanya Lita sembari menahan getaran di lidah.


Ia tak ingin terlihat menyedihkan di mata sang anak, ia ingin menjadi wanita paling kuat di mata putrinya itu. Naina menggeleng, ekspresi wajahnya terlihat sedih dan kecewa.


"Kenapa Ayah nggak cariin Nai? Apa Ayah nggak kangen sama Nai, nggak mau ketemu sama Nai?" tanyanya terdengar pilu di hati Lita.


Demi apapun, hati Lita terkoyak rasanya. Sungguh perih bagai diremas dan dihancurkan, remuk redam rasanya mendengar jeritan hati Naina.


"Nai tahu, Ayah punya anak lain dan udah nggak mau sama Nai." Tangis Naina semakin perih menusuk relung jiwa Lita.


Apakah semuanya berakhir di sini? Naina harus tumbuh tanpa seorang Ayah. Biarlah, dia akan mengambil peran ganda untuk kehidupan putrinya itu.


"Nggak apa-apa, sayang. Masih ada Ibu yang akan selalu temenin Nai, Ibu nggak akan pernah ninggalin Nai. Jangan sedih, ya," ucap Lita menahan pilu di dada.

__ADS_1


Naina mengeratkan pelukan, semakin histeris tangisannya. Zafran memang keterlaluan, tidakkah dia berpikir tentang perasaan Naina? Gadis kecil yang pernah merasakan kasih sayangnya dulu meskipun tidak lama.


Apa yang dilakukan Zafran membawa dampak buruk untuk beberapa orang. Termasuk di antaranya, gadis kecil yang selama ini percaya bahwa sang ayah bukanlah seorang penjahat. Hanya dia yang yakin ayahnya adalah sosok yang baik lagi sempurna di matanya.


Namun, semua itu pudar setelah menyaksikan sendiri betapa Zafran tidak menginginkannya lagi. Dia hanya ingin anak yang lain, anak yang Naina tidak ketahui siapa dan di mana.


"Ibu berjanji nggak akan ninggalin Nai? Kalo Ibu juga pergi, Nai sama siapa? Nggak ada yang mau ngurus Nai, Bu," pinta gadis kecil itu dengan sedih.


Tumpah juga air mata yang ditahan Lita, ia turut menangis mendengar permintaan anaknya. Benar, jika dia pergi siapa yang akan mengurus Naina? Dia akan sendirian, mungkin terlunta di jalanan.


Ya Allah, membayangkannya saja rasanya Lita tidak sanggup. Menyesal karena perbuatannya dulu Naina harus menanggung hidup yang berat. Gadis kecil itu masih terlalu rapuh untuk dihadapkan pada permasalahan duniawi yang tiada akhir.


"Iya, sayang. Ibu berjanji, Ibu janji nggak akan tinggalin Nai. Ibu janji kita akan sama-sama terus. Ibu janji," ucap Lita meyakinkan anaknya.


Naina tersenyum, tak apa kehilangan ayah asal jangan kehilangan Ibu. Selama hidup berdua, Naina tidak pernah kekurangan kasih sayang dan perhatian dari Lita. Naina kecil bersyukur memiliki Ibu yang selalu ada di dekatnya. Meskipun hanya hidup berdua, tapi mereka bahagia.


Lita mengurai pelukan setelah mengusap air matanya, tersenyum pada sang putri seraya mengusap air mata Naina.


"Sekarang, anak cantik jangan nangis. Akhir pekan ini kita akan pergi jalan-jalan, Ibu dapet bonus lebih dari atasan. Mau, ya?" ucap Lita menahan getir di dada.


Naina tersenyum, lantas mengangguk senang. Mereka selalu menghabiskan waktu berdua jika Lita mendapat jatah libur dari bekerja. Wanita itu bertekad membuat masa kecil Naina bahagia.


****


Di tempat lain, Nisa menggeram marah melihat seluruh saluran televisi menyiarkan berita tentang Zafran. Satu sosok yang terlintas dalam pikirannya, Hendra, suaminya sendiri.

__ADS_1


Nisa menitipkan Hana pada ibunya, dia akan pergi ke rumah sakit untuk mengkonfirmasi berita tersebut pada suaminya. Di sepanjang perjalanan, Nisa mengancam akan meninggalkan Hendra jika saja laki-laki itu terbukti membantu menyebarkan video tak sedap Zafran.


Brak!


__ADS_2