Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Hamil?


__ADS_3

"Apa keluhan yang Bapak rasakan?" tanya seorang dokter wanita pada Fatih.


Seira mengajaknya ke dokter karena setiap kali selesai makan, Fatih selalu merasa mual dan muntah-muntah. Laki-laki itu menoleh pada istrinya, ketakutan mulai meraba hati, bagaimana jika dia menderita sebuah penyakit.


Istrinya masih muda dan cantik, pernikahannya juga barulah seumur jagung. Jika dia sakit? Bagaimana dengan wanita di samping? Apakah dia akan tetap setia menemani?


Pikiran-pikiran buruk satu per satu hinggap dan menganggu. Fatih gelisah, ia menunduk ketika Seira menoleh.


"Mas, Dokter tanya keluhan Mas apa?" Seira menggoyangkan tangannya yang digenggam erat Fatih.


Dokter menunggu dengan sabar, tersenyum-senyum melihat sepasang suami istri di depannya. Mereka terlihat dewasa, tapi seperti bujang dan gadis yang baru saja menikah. Malu-malu, dan mesra.


Fatih memejamkan mata, menarik napas berat sebelum bertatapan dengan dokter. Dahi dua wanita itu mengkerut melihat sikapnya yang aneh. Sudah seperti orang yang sakit parah dan akan mendengar berita tentang batas usianya.


"Mu-mual, pusing, muntah-muntah," jawabnya lirih dan bergetar.


Dokter wanita itu mengangguk-anggukkan kepala mengerti, ia mencatat keluhan Fatih sebelum kembali bertanya.


"Apa Bapak punya riwayat sakit magh atau keluhan lambung lainnya?" tanya dokter itu lagi sambil menatap Fatih dengan lekat.


Bibirnya tersenyum tipis, melirik bergantian mereka berdua.


"Nggak, Dok. Saya nggak punya riwayat penyakit magh atau lambung?" jawab Fatih lagi semakin cemas.


Keringat bermuculan di beberapa bagian tubuhnya, apa sebenarnya yang sedang dirasakan Fatih? Seira sendiri pun tidak mengerti. Kenapa suaminya itu takut berhadapan dengan dokter.


"Baik, coba kita periksa dulu, ya. Mari!" Dokter beranjak diikuti Seira dan Fatih menuju sebuah ranjang pemeriksaan yang terdapat di ruangan itu.


"Silahkan, Ibu naik dan berbaring di atas sini," pinta sang dokter pada Seira.


Baik Seira maupun Fatih, kedua-duanya terbengong.


"Dok, yang sakit suami saya. Bukan saya, mungkin suami saya yang harusnya tidur di sana," ucap Seira keheranan.


"Saya tahu, tapi saya hanya ingin memastikan sesuatu saja sebelum memeriksa Bapak," ucap dokter tersebut misterius.


Keduanya terlihat semakin bingung, tapi meskipun begitu Seira tetap menurut. Ia berbaring sambil menggenggam tangan Fatih, sedikit cemas memang. Maklum saja, mereka baru pertama kali berhadapan dengan kasus seperti itu.

__ADS_1


"Dok, kenapa istri saya yang diperiksa? Bukannya saya?" tanya Fatih ikut penasaran.


"Tenang dulu, ya, Pak."


Dokter tersebut mengenakan stetoskop dan memeriksa denyut jantung Seira. Ia juga menekan-nekan perut wanita itu mencari-cari sesuatu.


Seira teringat pada pemeriksaan pertamanya dulu saat ia dinyatakan hamil oleh dokter. Rasa haru menyeruak begitu saja, kini dia tahu kenapa dokter itu memeriksanya bukan Fatih?


Fatih tersentak saat genggaman tangan Seira menguat. Hatinya kalut, perasannya tak menentu. Berbagai kemungkinan pun menjejali pikirannya.


Dokter menyudahi pemeriksaan, ia tersenyum seraya meminta Seira untuk beranjak dan kembali ke kursi.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Apa ada yang salah?" Fatih menggenggam erat tangan Seira, bersiap menerima kenyataan walaupun belum tentu tepat.


Dokter wanita itu tersenyum, gemas melihat sikap Fatih yang tampak cemas.


"Bapak nggak usah cemas, semuanya baik-baik aja, kok. Bapak sehat, Ibu juga sehat. Cuma-"


"Apa, Dok!" sela Fatih dengan cepat.


Seira tersenyum, mengusap perutnya sambil melirik. Senang karena doanya diijabah. Ia memutuskan untuk melepas KB beberapa bulan lalu, berharap seorang janin akan tumbuh dan menyempurnakan kebahagiaan mereka.


Sementara suaminya, termangu untuk beberapa saat lamanya. Hanya kelopak mata saja yang terlihat bergerak, rasa tak percaya memenuhi hati, tapi juga bahagia.


"A-apa, Dok? Ha-hamil? Istri saya hamil?" tanya Fatih.


Dokter mengangguk dengan yakin, rasa hangat mengalir ke seluruh tubuhnya hingga merambat pada kedua mata. Genangan air tercipta di kedua sudutnya, Fatih terharu. Ia melirik Seira, sekonyong-konyong memeluk istrinya itu.


"Alhamdulillah, ya Allah. Akhirnya istriku hamil, setelah sekian lama. Aku akan punya anak lagi!" pekik Fatih mengeratkan pelukannya.


Dokter itu terkekeh lucu, pemandangan yang selalu dia lihat setiap kali pasangan baru mengetahui kehamilan.


"Mas, sesak." Seira melirih.


Fatih buru-buru melepas pelukan, wajahnya yang tadi sendu dan terlihat cemas seketika saja berbinar senang. Senyum tak lepas dari bibir, hatinya berbunga-bunga.


"Ini saya buatkan resep vitamin, ada untuk Bapak juga. Jaga-jaga kalo nanti mual dan muntah lagi." Dokter tersebut menyerahkan secarik kertas yang telah dibubuhi tulisan tangannya.

__ADS_1


Fatih dengan cepat menerima dan keluar dari ruangan dokter. Tak sabar rasanya ingin segera tiba di rumah dan memberitahu mereka kabar baik itu.


Nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan, Sei? Setelah kepahitan yang harus kamu jalani, kini kebahagiaan datang secara perlahan dan pasti. Terima kasih, ya Allah. Sungguh nikmat-Mu tiada batas dan tiada tara.


Seira bergumam sambil mengusap perutnya. Tangan mereka saling bertaut di sepanjang perjalanan menuju rumah. Garis bibir lelaki itu bahkan tak terlihat turun barang sedetik pun.


*****


Di kontrakannya, Lita telah bersiap-siap dengan pakaian seksi yang memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya. Dandanan mencolok, yang sudah lama tak pernah ia lakukan lagi. Hal itu membuat Ibu curiga, tapi tak dapat melakukan apapun.


Lita juga menyewa orang untuk mengurusi kebutuhan mereka berdua di rumah saat dia pergi. Hati Ibu menjerit, prasangka buruk pun tak dapat ditolaknya lagi. Terus hadir dan menggerogoti kepercayaannya.


"Ibu! Ibu mau ke mana lagi? Kenapa sekarang Ibu sering pergi?" tanya Naina yang berdiri di belakang Lita.


Gadis kecil itu memeluk boneka baru, kemarin Lita bahkan membelikannya pakaian serta mainan baru. Makanan selalu tersedia di rumah, entah dari mana dia mendapatkan itu semua? Ibu tidak mengerti.


Lita beranjak dari cermin, mendekati putrinya yang sudah lebih ceria. Ia berjongkok dengan hati-hati, mengusap kedua bahu ringkih itu.


"Ibu mau kerja, biar Nai nggak kekurangan lagi. Nai sama Nenek di rumah, ya. Nanti Ibu belikan makanan kesukaan Nai," ucapnya sambil mengulas senyum.


Biasanya gadis kecil itu akan tersenyum sumringah dan mengangguk patuh. Kali ini berbeda, senyum itu tak terlihat bahkan kedua matanya memancarkan kesedihan dan kekhawatiran.


"Ibu jangan kerja hari ini, boleh? Nai mau main sama Ibu. Ibu di rumah aja, ya," pinta gadis kecil itu sambil memegang pipi ibunya.


Lita terenyuh, ia memeluk Naina penuh cinta untuk beberapa saat lamanya. Melepasnya lagi dan menatap kedua mata kecil itu.


"Nggak bisa, sayang. Ibu harus kerja supaya kita tetep bisa makan. Ibu pergi, ya. Nai di rumah aja," ucapnya memberi pengertian.


"Tapi, Bu-"


"Nggak ada tapi-tapi. Diam di rumah sama Nenek." Lita berdiri tanpa peduli pada tatapan cemas Naina, ia terus melangkah keluar rumah.


Gadis kecil itu mendatangi Ibu di kursi roda, memeluknya dengan sedih.


"Nai, nggak mau Ibu pergi hari ini." Ia menumpahkan isi hatinya.


Ingin rasanya Ibu mencegah, tapi dia juga tak berdaya. Jadilah, hanya bisa menangis ikut merasakan kesedihan Naina.

__ADS_1


__ADS_2