
Lita ambruk di halaman, suara riuh rendah manusia tak lagi didengarnya. Semuanya raib ditelan ringkikan suara Mala yang menusuk-nusuk jiwanya. Mulut yang terbuka itu menghirup udara memburu, air mata bercampur dengan peluh yang terus turun menghujani kulit.
Tamu undangan perlahan membubarkan diri, Ibu yang terlihat bingung pun mendorong kereta Naina mendekati orang tuanya. Zafran membenturkan kepala pada dinding rumah, sedangkan Jago rasa tak percaya kelakuan menjijikkan dari majikannya.
Ia membawa semua orang kembali meninggalkan keluarga Zafran yang benar-benar dalam skandal. Banyak cibiran dan cemoohan yang terlontar dari mulut-mulut para tamu undangan, mereka jijik terhadap keluarga itu.
"Tega kamu, Mas. Kenapa kamu selingkuh dari aku? Apa kurang aku selama ini?" rintih Lita tak kunjung beranjak dari tanah yang menjadi alas tubuhnya.
Zafran memukul dinding, udara memburu paru-paru terasa sesak dan sakit. Rasa malu pun hadir memenuhi hati, Mala benar-benar membuatnya terpuruk.
"Apa kamu nggak inget sama aku, sama anak kita waktu kamu selingkuh sama dia, Mas?!" bentak Lita sedikit melirik pada Zafran yang masih berhadapan dengan dinding rumah.
Tak sadarkah Lita, dia pun pernah berada di sisi Mala. Menjadi simpanan laki-laki itu, lebih parahnya merebut Zafran dari sahabatnya sendiri.
"Kenapa kamu ngelakuin ini semua, Nak? Kamu udah punya anak sama Lita, harusnya udah cukup jangan kayak gitu lagi," ucap Ibu yang terlihat kecewa pada putra satu-satunya itu.
Suara Naina berceloteh menjadi gada berduri yang menghantam jiwanya. Penyesalan pun datang, kesalahan yang sama seperti yang dia lakukan pada Seira dulu. Bedanya, Seira tak langsung melabrak mereka. Berpura-pura tak tahu dan berniat memperbaiki semua, jika saja Zafran tak menceraikannya waktu itu.
"Maaf, maafin aku. Aku khilaf," lirih suara Zafran yang terdengar bergetar.
Ibu menggelengkan kepalanya, membantu Lita untuk bangun.
"Bawa Naina ke dalam, dia nggak boleh lihat orang tuanya bertengkar," ucap Ibu pada Lita.
Wanita itu masih tampak kesal, tapi ia mewanti-wanti Zafran. Ketakutan itu datang lagi, takut diceraikan dan dibuang begitu saja sama seperti Seira waktu dulu.
"Tapi, Bu ...."
__ADS_1
"Udah, percaya aja sama Ibu. Masuk dulu," sela Ibu tidak menerima penolakan. Sepertinya wanita tua itu terlanjur sayang terhadap Lita terlebih setelah kehadiran Naina yang memberi tawa padanya setiap hari.
Lita menurut, pergi membawa Naina masuk dan menunggu di dalam rumah. Acara yang seharusnya berjalan penuh kebahagiaan itu, harus hancur karena kedatangan Mala yang tak terduga.
Masih terngiang jelas di telinga, kalimat pedih yang meleburkan seluruh hatinya diucapkan Mala tanpa tahu malu.
"Dia pernah datang ke rumahku, dan selalu datang padaku saat bermasalah sama kamu, istrinya. Dia nikmati tubuh aku tanpa ingat sama istri dan anaknya. Dia juga janji sama aku akan menceraikan kamu karena katanya nggak bahagia hidup sama kamu. Hampir setiap hari, siang dan malam, dia naik ke atas ranjangku. Menumpahkan nafsu yang nggak bisa dia lakuin sama kamu, tapi aku nggak kayak kamu."
"Kamu mau tahu apa yang dia bilang waktu itu? Kamu sama orang tua kamu itu benalu, bisanya cuma nyusahin dan cuma ngabisin uang aja. Aku juga bodoh, mau aja ditipu. Dia curi uang aku dan kamu tahu berapa? Bahkan kalo rumah sama mobil di sini dijual, itu nggak akan cukup buat balikin uang yang udah dia makan."
Telinga Lita berdenging hebat, kepalanya berdenyut nyeri. Ia meremas rambut sambil meringis kesakitan. Ingin menjerit, tapi itu hanya akan semakin membuatnya malu.
"Kurang ajar kamu, Mas. Aku nggak mau bernasib sama kayak Seira, kamu nggak bisa giniin aku. Kamu nggak boleh selingkuh dari aku. Nggak boleh."
Lita menutup wajahnya, menangis tersedu-sedan sendirian. Ia bahkan tak peduli pada Naina yang melihatnya dari kereta roda.
"Bukan, Lita. Bukan karena itu." Suara Zafran memangkas isi kepala Lita yang tanpa sadar terlontar lewat lisannya.
Wanita itu berpaling wajah, enggan bersitatap dengan manik laki-laki yang telah tega mengkhianatinya. Isak tangis masih berlanjut, sesekali tangannya terlihat menyeka air yang jatuh.
"Aku nggak masalah kamu nggak cantik kayak dulu, aku juga nggak masalah kamu gendut, tapi ...."
Kalimat Zafran terpotong sebab lidah tiba-tiba kelu tak dapat melanjutkannya. Ia berkacak pinggang sebelah sambil mengusap wajah lelah.
"Terus karena apa, Mas? Nggak mungkin kamu selingkuh gitu aja kalo nggak ada sebab." Suara Lita bergetar.
Setengah hatinya sadar akan karma dari perbuatan yang dia lakukan dulu. Namun, keegoisannya menolak semua, menyatakan bahwa apa yang terjadi pada Seira dulu adalah takdir yang harus dijalaninya.
__ADS_1
"Kamu lupa? Kamu nggak inget kenapa aku dulu sampe pergi dari rumah? Aku stress, Lita. Aku frustasi karena permasalahan gudang waktu itu. Satu pun dari kalian nggak ada yang bantu aku, nggak ada yang peduli. Lebih-lebih orang tua kamu yang udah nipu aku."
Lita menegang, begitu pula dengan Ibu. Kedua-duanya tertohok oleh ucapan panjang Zafran. Benar, disaat itu tak satu pun dari mereka yang memberi solusi. Mereka bungkam, terlebih lagi Lita yang seketika saja diserang rasa malu yang tak berkesudahan.
"Dan waktu itu aku sakit, kalian juga nggak tahu, 'kan? Beruntung ada Mala yang waktu itu nyelamatin aku. Dia ngerawat aku dan kasih aku modal yang nggak sedikit, tapi aku juga mengakui waktu itu aku khilaf. Semua itu disebabkan kamu dan orang tua kamu."
Zafran terus meluapkan apa yang ia simpan dalam hatinya selama ini.
"Tapi kamu jual perhiasan Ibu sama punya Lita juga." Ibu menyela teringat pada saat Zafran memelas meminta perhiasan mereka.
"Ibu pikir yang Ibu sama Lita kasih itu cukup buat bangun usaha yang kayak sekarang ini? Nggak, Bu. Kalo nggak ada uang dari Mala, usaha aku nggak akan segede sekarang ini. Paling-paling cuma bisa bikin warung kecil aja."
Zafran mendengus, sungguh ia tak lagi menahan diri untuk berbicara.
"Tapi aku sadar, saat Naina lahir aku nggak mau pernikahan aku hancur. Aku putuskan buat ninggalin Mala dan ... ya, di sini kita sekarang," pungkasnya sambil mengangkat tangan sebentar.
"Jadi, ini alasan kamu kenapa kita pindah ke sini?" tanya Lita merasa hatinya tercubit. Ia sudah salah duga.
"Yah, semua itu aku lakuin buat ngehindar dari Mala, tapi aku nggak nyangka dia akhirnya bisa nemuin kita juga. Gimana kalo dia minta uangnya, kita harus siap-siap kehilangan rumah ini," ucap Zafran lesu.
Matanya menatap Lita dengan sayu dan putus asa. Ibu terlihat syok, ia tak ingin kehilangan semuanya lagi. Hidup susah tidak ada dalam jalan pikirannya.
"Nggak bisa, Mas! Kalo ini dijual kita mau tinggal di mana? Kasihan Naina, dia masih kecil," tolak Lita sambil melirik sang anak yang bermain di keretanya.
"Mau gimana lagi? Daripada aku dipenjara ... kamu mau aku dipenjara?" Zafran melotot.
Lita membuang wajah, tak pernah menduga kehidupannya yang mulai kembali bahagia kini harus diterpa masalah lagi. Hening, tak satu pun dari mereka yang menjawab.
__ADS_1
Zafran yang lelah pergi meninggalkan rumah, ia ingin melihat kekacauan di gudang dan membereskannya bersama Jago juga yang lainnya.