
Masih di gedung baru, tempat pertemuan pertama Rayan dengan Zafran. Fatih melenggang masuk, suara lirih Rayan yang menangis terdengar menggema di tempat acara tersebut.
Di sana, semua orang berkumpul termasuk Jago dan keluarganya. Fatih mengambil segelas air putih untuk diberikan kepada Rayan.
"Minum dulu, Kak. Udah nangisnya," ucap Fatih sembari memberikan air tersebut kepada Rayan.
Seira menerimanya, dan membantu Rayan untuk meminum airnya. Anak itu masih sesenggukan, entah apa yang menyebabkannya bersikap demikian. Menangis histeris tak ingin bertemu dengan Zafran.
Rayan menjatuhkan tubuh pada Seira usai menenggak setengah dari air tersebut. Sisa isak tangis masih terlihat, mata dan hidungnya memerah dan basah.
Tak ada yang berbicara, tak ada yang ingin bertanya karena tak ingin mengingatkan Rayan pada laki-laki itu.
"Mah, katanya dulu Mamah diusir sama orang itu, ya?" tanya Rayan sambil sesenggukan.
Deg!
Pertanyaan Rayan membuat jantung Seira jedag jedug tak menentu. Oh, siapa yang mengatakan itu pada anaknya? Pantas saja dia tidak ingin bertemu dengan laki-laki itu?
"S-siapa yang bilang?" Seira gugup sekaligus cemas.
Rayan diam, rasanya anak itu tidak berani membuka siapa yang sudah membongkar rahasia itu padanya. Namun, di antara mereka, ada sosok kecil yang diam-diam bersembunyi di balik tubuh ibunya.
Rayan bergeming pada kedua manik Seira, tak hanya wanita itu yang terkejut, tapi juga semua orang yang ada di sana. Termasuk Jago dan istrinya.
Laki-laki berpangkat kepala keamanan itu melirik sang istri, curiga padanya karena hanya dia berpotensi membocorkan rahasia besar yang disimpan Seira baik-baik. Dia menggeleng, menolak semua yang ada di pikiran suaminya.
Lirikan Jago jatuh pada sang putri yang terpejam di balik punggung ibunya. Dia mendesah berat, sudah pasti gadis kecil itu yang tidak bisa menjaga rahasia.
"Rani!"
"Ah ... ya, Ayah!" Rani terlonjak mendengar namanya dipanggil Jago, sampai-sampai dia menjerit tanpa sadar. Ia menutup wajah rapat-rapat takut pada kedua orang tuanya.
Semua orang beralih pada keluarga itu, istri Jago sibuk dengan pikirannya sendiri. Bagaimana mungkin Rani tahu perihal rahasia ini? Apakah dia pernah mendengar?
"Rani!" Wanita itu menarik tubuh Rani ke hadapannya. Menelisik wajah lucu yang tertunduk itu dengan dahi yang terlipat banyak.
__ADS_1
"Mbak ...." Seira menggelengkan kepala ketika istri Jago melihat ke arahnya. Memintanya untuk tidak terlalu menekan anak itu.
Dia mendesah, rasa yang meluap-luap ingin tumpah harus ditekannya dengan kuat. Pening. Nyeri menghantam kepala, sepertinya darah tingginya kambuh lagi. Seira mengalihkan pandangan pada Rayan, bocah itu juga sedang melihat ke arah Rani.
"Apa Rani, yang bilang?"
Rayan menoleh, mengangguk ragu.
"Apa katanya?" Seira bertanya lagi ingin tahu cara anak-anak berbincang.
Rayan kembali melihat temannya itu, Rani masih tertunduk merasa bersalah.
"Katanya, Rani nggak sengaja denger Om sama Tante bilang kalo dulu mamah diusir," ucap Rayan lirih.
Rani menganggukkan kepala tanpa ditanya, Jago dan istrinya tercenung. Merasa bersalah sendiri karena sudah ceroboh. Itu karena mereka tidak pernah melihat situasi bila berbicara mengenai perbuatan Zafran.
"Ya Allah, ini salah kami, Bu. Kami mohon maaf karena kami nggak tahu kalo Rani denger semua itu," ucap istri Jago tak enak hati.
Rani mengangkat pandangan, menatap wajah ibunya yang gelisah. Juga Jago yang merasa menyesal akan hal itu.
"Nggak apa-apa, Mbak. Namanya juga anak-anak, selalu merekam apa yang mereka denger dan lihat. Mungkin Rani nggak sengaja denger terus dia ngomong sama Rayan. Yah, anak-anak kadang emang suka semaunya. Nggak apa-apa, kok," ucap Seira lemah lembut.
Seira bingung, Bi Sari di belakang mereka ingin sekali berteriak sekencangnya dan mengatakan 'ya, dulu dia mengusir mamah Rayan waktu Rayan dalam kandungan?'.
"Astaghfirullah al-'adhiim!" Bi Sari mengusap wajah menepis keinginan bar-bar yang sempat meracuni pikirannya.
"Kenapa, Bi?" bisik Biya yang kebetulan duduk di sampingnya.
Wanita tua itu terhenyak, kemudian tersenyum dan menggeleng.
"Nggak ada apa-apa," jawabnya pelan.
Fatih merasakan kebingungan Seira, ia mengusap punggung Rayan penuh perhatian.
"Itu cuma salah faham aja, sayang. Untuk sekarang, mungkin Rayan nggak akan ngerti, tapi nanti kalo udah gede pasti Rayan bisa ngerti. Udah, ya, kasihan Mamah. Tuh, sampe kebingungan gitu," ucap Fatih menunjukkan ekspresi Seira yang memang tampak bingung.
__ADS_1
Rayan menatap mamahnya, pandang mereka beradu. Melihat genangan air di pelupuk mata Seira, tangan kecil Rayan menyapunya. Dipeluknya tubuh sang mamah, menyesal karena telah membuat wanita itu kebingungan.
"Mamah jangan sedih, jangan nangis. Rayan nggak mau Mamah sedih. Maafin Rayan, Mah," ucap Rayan lirih dalam pelukan Seira.
Jatuh juga air mata wanita itu, tapi cepat disapu Fatih. Ia menggeleng tatkala Seira meliriknya. Senyum mereka bertemu, Seira mendekap hangat tubuh Rayan.
"Nggak apa-apa, sayang. Udah, Kakak nggak usah mikirin itu lagi, ya. Mamah nggak akan maksa Kakak buat ketemu sama ayah," sahut Seira yang dibalas anggukan kepala oleh Rayan.
Ada satu sosok kecil yang paling merasa bersalah dalam hal itu, Rani menangis tanpa ada yang menyadari.
"Maaf, Rani nggak tahu kalo itu ayah Rayan. Maafin Rani," ucap anak itu sambil menangis sesenggukan.
Jago dan istrinya terkejut, segera menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukan. Seira melirik dan mengurai dekapannya.
"Ssst ... jangan nangis! Udah nggak apa-apa, jangan nangis," pinta istri Jago menyesal karena sempat melotot padanya.
"Rani sayang. Nggak apa-apa, kok, udah jangan nangis. Makasih, ya, Rani udah jadi anak yang hebat dan berani. Rani teman yang baik buat Rayan, ke depannya kalian akan bersekolah sama-sama. Jadi, jangan nangis lagi. Nanti cantiknya hilang, lho," ucap Seira menahan haru yang membuncah dalam hati.
Rani memang anak yang pemberani dan tangguh meskipun seorang perempuan. Dia juga aktif dan ceria. Membawa hal yang positif untuk Rayan. Seira menyukainya, ia hanya khawatir setelah kejadian ini anak itu justru enggan datang dan bermain bersama Rayan lagi.
"Tuh, nggak apa-apa. Udah jangan nangis, bilang makasih sama Ibu," bisik istri Jago di telinga anaknya.
Rani mengusap mata, melepas pelukan ibunya dan berbalik menghadap Seira.
"Makasih karena Ibu nggak marah sama Rani. Rani janji nggak akan ceroboh lagi," ucap gadis kecil itu terdengar manis sekali.
Seira tersenyum senang, dia sangat manis. Manis wajahnya, manis juga ucapannya.
"Nggak apa-apa. Rayan seneng, kok, main sama Rani. Kata Mamah nanti kita sekolah sama-sama," sahut Rayan mengundang gelak tawa dari semua orang.
Terbongkar satu rahasia, seolah-oleh beban yang dipikul Seira sedikit menjadi ringan. Tak apa, seiring berjalanya waktu dan bertambahnya usia, Rayan pasti akan mengerti dengan sendirinya dan dapat menilai sendiri mana yang baik dan mana yang buruk untuk dilakukan.
Hanya saja, Seira berharap jangan sampai ada istilah buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
****
__ADS_1
Namanya anak-anak, ya, emang belum pandai jaga rahasia. Terkadang rahasia Mak bapaknya aja dia buka-buka. Ini pengalaman pribadi karena anak didik othor juga usianya lima tahun ke bawah. Gak bisa disebut sekolah TK, sih, cuma sekolah terbuka untuk anak-anak pra SD aja yang gak bisa pergi ke TK.
Maaf, ya. Jadi curhat. Selamat membaca, jangan lupa tekan jempol dan tinggalkan jejak. Terimakasih.