
Keadaan menjadi lebih baik dan tenang, hari-hari Seira dan keluarga tak lagi dihantui rasa takut. Naina dan Lita lebih ceria menjalani kehidupan meskipun hanya berdua, dan Zafran memiliki kedamaian di hatinya. Khusyuk beribadah memohon ridho dan maghfirah dari Yang Esa.
Di sana, di bagian lain kota tersebut, seorang wanita tua tengah menengadahkan tangan di atas kursi rodanya. Malam yang sepi tak ada suara apapun selain para binatang malam yang meramaikan, ia menangis lirih.
Menyerukan rasa rindu yang tak bertepi pada si buah hati yang telah lama tak menyambangi matanya.
Ya Allah, aku mohon jaga anakku di mana pun dia berada. Angkat penyakitnya, berikan dia kebahagiaan. Bukakan hati orang-orang yang telah disakiti olehnya untuk ikhlas memaafkan. Ampuni segala dosa anakku, ya Allah. Ampuni dosa-dosanya.
Ibu menangis tergugu sendirian di dalam kamarnya. Hampir di setiap malam, ia tak pernah melewatinya tanpa bermunajat kepada Allah. Ibu telah menyempurnakan iman dan islamnya, dengan menutup aurat secara sempurna.
Di luar, perawat Ida yang tak sengaja melintas di depan kamarnya menghentikan langkah ketika mendengar suara tangis Ibu yang lirih. Ia mendekatkan telinga pada daun pintu untuk dapat memastikan pendengarannya tak salah.
"Kenapa Ibu menangis? Apa dia sakit, ya?" gumamnya cemas.
Ia membuka pintu kamar Ibu dengan pelan, melongo ke dalam memastikan Ibu baik-baik saja. Sebab tadi siang dia tidak terlihat sakit. Perawat Ida menatap sendu wanita tua di atas kursi roda itu, dia sedang berdoa dengan khusyuk.
Entah apa yang dipanjatkan hanya ia seorang yang tahu. Ida memasuki kamar Ibu beberapa saat setelah wanita berumur itu mengusapkan tangan ke wajah meski bergetar dan sulit dilakukan.
Ia berdiri di belakang kursi roda Ibu, mengusap kedua bahunya yang ringkih penuh perhatian. Ida berjalan ke samping, berjongkok di hadapan Ibu yang masih berderai air mata.
"Ada apa, Bu? Ibu baik-baik aja, 'kan?" tanyanya dengan lembut.
Sungguh beruntung, di pantai jompo itu Ibu mendapatkan Ida sebagai perawatnya. Dia seorang wanita yang baik dan penuh perhatian. Pengertian, dan tidak pernah meninggikan suaranya di hadapan Ibu ataupun orang tua lainnya.
Ibu menggeleng, bibirnya berkedut-kedut ingin bicara, tapi tak mampu. Hanya bisa melipatnya sambil terus berurai air mata. Tangannya yang bergetar terangkat memberikan selembar foto kepada Ida untuk dilihatnya.
Ida menerima kertas tersebut dan membaliknya. Ia tersenyum saat melihat foto seorang laki-laki berparas tampan dan bertubuh tegap, tapi bukan laki-laki yang mengantar Ibu kemarin ke tempat itu.
"Apa ini anaknya Ibu?" tanyanya.
Ibu menganggukkan kepala pelan.
"Ibu kangen, ya, sama anak Ibu?"
Ibu kembali mengangguk menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
"Ibu pengen ketemu sama anak Ibu?"
Lagi, anggukkan kepala Ibu menjawab.
"Apa Ibu tahu di mana anak Ibu sekarang, mungkin saya bisa antar Ibu ketemu sama dia," tanyanya lagi memberikan harapan pada hati renta Ibu yang telah lama gulita.
Ibu mengangguk sambil tersenyum, hatinya senang perawat baik hati itu akan mengantarnya menemui Zafran.
"Mmm ... sebentar, ya."
Ida keluar karena bingung di mana alamat keberadaan sang anak. Bertanya pada Ibu percuma saja, karena wanita tua itu tak akan bisa menjawabnya. Tak lama, wanita itu kembali ke kamar Ibu dengan membawa sebuah kertas di tangan.
Itu peta.
Ida membentang peta di atas ranjang Ibu, peta kota mereka tinggal. Meminta Ibu untuk menunjukkan di mana alamat sang anak setelah menjelaskan dengan singkat tentang lokasi yang ada di peta.
"Sekarang tunjukkan di mana rumah anak Ibu?"
Tangan bergetar Ibu mulai terangkat dan meraba permukaan kertas tersebut. Sampai pada sebuah bangunan yang menyerupai rumah sakit, tangan Ibu berhenti.
"Rumah sakit?" Ida menatap Ibu bingung, tapi anggukan kepala Ibu menjawab pertanyaannya.
"Anak Ibu kerja di rumah sakit?" tanyanya lagi.
Ibu menggelengkan kepala kali ini. Kedua ujung alis Ida yang lebat beradu hingga tak ada jarak yang memisahkan.
"Maksud Ibu dia nggak kerja di sana?"
Ibu mengangguk. Lidahnya gatal ingin berucap, bibirnya terus berkedut-kedut tak henti. Rasanya ingin menceritakan pada wanita itu tentang kondisi Zafran saat ini.
"Kalo dia nggak kerja di sana apa dia ...." Kalimat Ida menggantung disusul bibirnya yang ia gigit kuat-kuat.
Wajahnya mendongak menatap Ibu, wanita sepuh itu mengangguk sambil berderai air mata.
"Maaf, bukannya saya mau buat Ibu sedih, saya bener-bener nggak tahu soal ini. Maafin saya, Bu. Jangan nangis, besok saya akan izin sama kepala panti untuk bawa Ibu ke rumah sakit. Sekarang sebaiknya Ibu segera tidur supaya besok terlihat lebih segar," ucapnya menenangkan hati Ibu.
__ADS_1
Ibu mengangguk setuju, hatinya senang bukan main. Senyum di bibir terus terukir, tak sabar menunggu esok hari tiba. Ia berbaring patuh, demi bertemu dengan anaknya, malam itu Ibu tidur lebih cepat.
Ida menyelimuti tubuh Ibu, membelai rambutnya yang telah memutih semua sebelum meninggalkan kamar Ibu.
"Ida!" Sebuah suara menegurnya.
Ida berbalik dan mendapati seorang wanita setengah baya yang tak lain adalah kepala panti tersebut.
"Ibu, kenapa di sini? Bukannya Ibu harus tidur?" ucap Ida dengan lembut.
Wanita itu tersenyum, membawa langkah mendekati pekerjanya yang rajin dan tidak mengeluh. Dia baru di panti itu, tapi sudah menjadi panutan bagi pekerja lainnya. Contoh yang baik untuk semua rekan yang bekerja di sana.
"Saya udah denger obrolan kalian, kamu boleh bawa Ibu itu ketemu anaknya. Itu akan jadi ladang pahala buat kamu, Nak. Membahagiakan seseorang apalagi seorang Ibu pahalanya sangat besar. Jangan menunda kebaikan jika ia sudah datang. Lakukan secepatnya sebelum kata sesal yang datang," ucap wanita itu sembari menggenggam tangan Ida dan menepuknya.
Ida tersenyum, mengangguk pasti setelah mendengar nasihatnya. Mereka berpisah, Ida kembali masuk ke kamar dan memikirkan tentang rencana besok.
*****
Di malam yang sama, di tempat berbeda, Seira tengah berkumpul bersama keluarga kecilnya. Ada Ibu dan Biya juga Bi Sari datang berkunjung untuk memastikan keadaan Rayan baik-baik saja.
"Rayan senang ketemu Ayah, ya?" tanya Biya menggoda.
Bocah itu menganggukkan kepala tanpa memalingkan wajah dari mainan.
"Terus gimana sama Papah?" Biya cemberut sedih. Ia menatap kakaknya yang sedang berbincang dengan para orang tua.
"Papah? Ya, nggak gimana-gimana, Aunty. Papah akan tetap jadi papahnya Rayan, dong. Cuma sekarang Rayan jadi punya dua papah. Satu Ayah, satu lagi Papah," jawab bocah itu sambil tersenyum lebar.
Biya mendengus, berpaling wajah dari Rayan dengan kesal.
"Mah, hari Minggu nanti boleh nggak Rayan main sama Ayah? Sama Papah juga? Pasti seru kalo main bola sama-sama," teriak Rayan hingga membuat semua kepala menoleh ke arahnya.
Seira tertegun, melirik Fatih tak enak. Khawatir laki-laki itu merasa tidak nyaman dengan permintaan Rayan.
"Ok, siapa takut! Tapi Mamah tetap di rumah," sahut Fatih sambil melirik Seira dan tersenyum aneh padanya.
__ADS_1
"Hore!"
Bahagianya hati Rayan, Seira tersenyum. Ia akan patuh pada perintah Fatih untuk tetap di rumah.