Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Rasa Khas Sebuah Kue


__ADS_3

"Udah, Non. Jangan diterusin nanti, kan, ada yang ngerjain. Inget, kata Den Fatih Non nggak boleh turun tangan secara langsung," ucap Bi Sari sambil mengambil lap dari tangan Seira.


Wanita dengan perutnya yang sudah membesar itu menghela napas. Dia masih ingin bekerja, melakukan segalanya sendiri karena kecintaan pada pekerjaan.


"Tapi aku bosen, Bi. Cuma nyuruh-nyuruh aja, ini itu. Aku juga pengen ikutan kerja." Seira merajuk. Bibirnya mengerucut gemas, tapi Bi Sari khawatir mengingat kondisi tubuhnya yang lemah.


"Iya Bibi tahu, tapi Non juga harus inget. Non nggak sendirian, ada ini di perut. Kalo Ibunya kecapean, nanti dia juga ikut gelisah. Bibi nggak mau kejadian kayak waktu malam itu lagi, nggak ada Den Fatih di sini," cerocos Bi Sari tak ingin dibantah.


Mendengar itu Seira tersadar, ia pandangi perutnya itu seraya mengusapnya dengan lembut. Tersenyum bahagia karena ada banyak orang yang menyayangi juga meluapkan perhatian mereka untuknya.


"Bibi bener, ya udah. Kayaknya mereka juga udah dateng," ucapnya mengalah.


Keduanya berjalan keluar menyambut tiga orang pekerja yang dipilihkan langsung oleh Fatih sendiri. Ke semuanya wanita separuh baya yang sudah lihai dalam bekerja.


Seira membangun mimpinya meskipun hanya di kota kecil. Menuangkan hobinya yang suka memasak menjadi ladang bisnis yang menguntungkan. Dengan bantuan modal dari Fatih, Seira menyewa sebuah ruko membuka toko kue di sana.


Bersama-sama Bi Sari, mereka memulai dari nol. Selanjutnya, atas saran Fatih, Seira tak diizinkan turun langsung ke dapur membuat aneka macam kue. Laki-laki muda itu membawa tiga orang pilihannya yang bisa di andalkan dan sudah terlatih.


Usaha yang dirintisnya semakin berkembang, pesanan hampir setiap hari selalu ada. Terkadang ia mengambil beberapa orang lagi untuk turut membantu jika pesanan kue sedang membludak.


"Selamat pagi, Bu!" sapa ketiga orang itu dengan sopan.


"Pagi! Makasih, ya, udah pada dateng sepagi ini. Udah sarapan belum?" tanya Seira dengan ramah pula.


"Sudah, Bu. Kami mau langsung kerja aja, Bu," sahut salah satu dari mereka.


Seira tersenyum, ia menatap kepergian ketiganya ke dapur yang dipimpin Bi Sari langsung. Berkat usahanya kini, Seira dan Bi Sari tak lagi tinggal di desa. Keduanya memutuskan pindah dan tinggal di lantai dua ruko.


Meskipun hanya sewa, tapi keduanya tidak kekurangan tawa dan bahagia. Fatih belum datang lagi, ia tengah disibukkan oleh urusan perceraian Seira bersama sang pengacara. Sebenarnya, Seira ingin mengurus sendiri, tapi mengingat kehamilannya adalah sebuah rahasia dan dia tak ingin sampai Zafran mengetahuinya. Jadilah, semua itu diserahkan pada pengacara Fatih.


Seira berjalan ke dapur setelah membantu membereskan bagian depan toko. Ada karyawan khusus yang ditugaskan berjaga di depan dan ia kerap membantunya.

__ADS_1


"Bi, ini semua pesanan hari ini, ya. Tolong di persiapkan semuanya sesuai waktu yang tertera. Jangan sampai terlambat," ucapnya sambil memberikan sebuah buku catatan pada Bi Sari.


"Siap, Non!"


Seira tertawa, mereka semua akrab karena sang majikan tak pandang bulu apalagi merendahkan mereka. Seperti itu kehidupan Seira, tapi untuk kembali ke Jakarta ia belumlah siap. Mungkin beberapa tahun lagi, atau tidak sama sekali.


*****


Berbulan telah berlalu, Zafran baru saja datang dari pengadilan agama. Mendengarkan sidang putusan sambil berharap akan bertemu dengan Seira dan berbicara soal keinginannya untuk rujuk.


Namun, sampai sidang berakhir, sosok yang ditunggu tak kunjung menampakkan batang hidungnya di sana. Ia menjatuhkan diri di sofa, wajahnya terlihat lelah. Kuyu tak bercahaya.


Zafran mengusap rambutnya, bayangan senyum Seira melintas dalam pikiran. Menertawakan dirinya yang sama sekali tidak dapat melupakan semua kenangan tentangnya.


"Mas! Udah pulang?"


Disaat begitu, suara Lita bahkan terdengar seperti ringkikan keledai yang memekakkan telinga. Tak sedap didengar, yang ada membuat telinga menjadi sakit karenanya.


"Hallo, sayang. Sini sama Ayah." Zafran mengambil alih bayi berusia hampir satu tahun itu. Memangkunya dan bermain dengannya tanpa rasa lelah.


Lita duduk di sampingnya setelah meminta asisten rumah tangga membuat minuman segar untuk Zafran. Dia tidak berubah sama sekali, tetap seperti dulu menjadi ratu.


"Gimana sidangnya, Mas? Kok, tadi keliatan loyo banget," tanya Lita sambil memperhatikan riak wajah suaminya.


Zafran tak acuh, tak ingin membahas hal itu. Rasa kecewa hadir di wajah wanita beranak satu itu, sejak permalasahan kedua orang tuanya sikap Zafran belum kembali lagi. Bahkan setelah laki-laki itu mengajaknya pindah tempat tinggal karena satu hal.


Alasan yang diterima Lita adalah karena Zafran ingin menghapus semua kenangan bersama Seira. Namun, riak wajah suaminya yang kuyu hari itu, menandakan sebuah rahasia yang disimpannya.


Asisten rumah tangga mereka datang dengan segelas jus jeruk untuk Zafran. Ia meletakkannya di atas meja, melirik sang majikan dengan kagum. Lita benar-benar tidak suka melihat tingkahnya yang genit, tapi Ibu yang membawa wanita itu ke rumah. Dia tak bisa melakukan apa-apa.


"Udah sana! Ngapain kamu masih di sini?" ketus Lita disaat pembantunya itu justru berdiri di hadapan Zafran.

__ADS_1


"I-iya, Bu."


Bergegas dia pergi kembali ke dapur, sedikit mengumpat pada sang majikan perempuan yang begitu cerewet dan suka mengatur. Dia tidak suka.


Lita mendengus, perhatiannya kembali pada Zafran dan anaknya yang asik bermain. Ketukan langkah yang mendekat menyita perhatian Lita. Ibu datang membawa sebuah box kue dengan bungkus yang cantik.


"Apa itu, Bu?" tanya Lita.


Ibu duduk di sofa seraya meletakkan bawaannya di atas meja.


"Ini kue, tadi Ibu abis arisan. Pemilik rumahnya ngasih oleh-oleh ini, kue-kuenya enak. Beda dari kue biasa yang suka kita beli. Katanya, ada toko kue baru di depan swalayan yang ada di ujung jalan itu. Cobain, deh, enak," ucap Ibu sambil menyerahkan kue tersebut pada Lita.


Wanita itu mengambilnya, menggigit sedikit dan merasai. Memang enak rasanya beda dari kue yang biasa mereka beli.


"Bener, enak. Mas, ini Ibu bawa kue. Enak, lho," tawar Lita pada Zafran yang dunianya teralihkan pada sang anak.


"Kue sama aja, sayang. Enakan ini, anak Ayah!" Lita dan Ibu tersenyum, turut gemas melihat tingkah keduanya. Mereka bahagia, gudang beras berjalan stabil tanpa hambatan.


"Ini beda, Mas. Cobain, deh," ucap Lita lagi sambil terus mengunyah kue tersebut.


Zafran tak acuh, tetap bermain dengan anaknya.


"Mmm ... Bu, nanti pas ulang tahun Naina aku mau pesen kue di toko ini aja. Nggak apa-apa, kan, Bu. Abis enak-enak kuenya," ucapnya teringat pada ulang tahun sang anak yang tinggal beberapa hari lagi saja.


"Boleh, bagus juga. Ibu denger kalo pesen banyak pasti dapat potongan harga. Baik banget yang punya toko," sahut Ibu setuju.


"Coba kayak apa, sih, rasanya. Perasaan semua kue sama aja," ucap Zafran sembari mengambil sebuah kue berbungkus daun pisang.


Ia memakannya, dulu Seira juga sering membuat kue-kue seperti yang dimakannya. Untuk dibagikan kepada anak-anak yatim dan orang-orang di jalanan. Hanya satu gigitan, kue itu membawanya pada kenangan masa lalu.


Rasa yang disuguhkan kue itu benar-benar khas dan melekat di lidahnya.

__ADS_1


Ini ... nggak mungkin!


__ADS_2