
"Kamu masih belum bisa lupain dia? Ingat, Fatih. Kamu udah punya istri."
Fatih tersenyum melihat wanita tua itu ada di hadapan matanya. Ia hampiri dan memeluknya dengan lembut. Sama seperti halnya dia yang menyayangi dan menjaga wanita paling berjasa dalam hidupnya itu, Fatih akan menyayangi dan menjaga Seira untuk tetap tersenyum selama hidup bersamanya.
"Sebenarnya Fatih udah nggak inget sama sekali sejak ketemu sama Sei, Bu, tapi nggak tahu kenapa tiba-tiba Fatih mimpi lagi."
Fatih mengurai pelukan, menatap pasti pada kedua manik berkabut milik Ibu. Bibir keriputnya tersenyum, dia percaya pada anaknya. Seperti percaya pada sang ayah yang telah meninggalkan mereka lebih dulu.
"Ibu cuma takut kamu terperosok pada jurang yang dalam yang mengakibatkan penyesalan nggak bertepi. Belajarlah dari mereka, jangan sesekali melakukan kesalahan yang sama seperti yang mereka lakukan." Ibu menyentuh pipi putranya.
Tangannya yang dingin digenggam Fatih dan diciumnya dengan lembut.
"Mereka ada bukan untuk kita tiru, Bu, tapi untuk dijadikan pelajaran dan agar kita mengambil hikmah dari kisah perjalanan hidup mereka."
Ibu terharu, air menggenang di pelupuk mata, dalam hati berdoa semoga anaknya mengerti apa yang dia ucapkan.
"Kenapa Ibu bangun?" tanya Fatih mengingat saat ini adalah dini hari menjelang subuh.
"Nggak apa-apa, Ibu tadi cuma haus aja. Pas ke dapur pintu belakang kebuka. Ibu kira karena angin dan lupa ngunci, nggak tahunya kamu," jawab Ibu.
Fatih merangkul bahunya, mengajak Ibu kembali ke kamar. Malam itu, mereka tidak tidur di lantai bawah, melainkan di lantai atas karena Rayan yang menginginkannya.
"Ya udah, Ibu balik lagi ke kamar, ya. Fatih juga udah selesai," ucapnya seraya menuntun Ibu berjalan menuju kamarnya.
Ia membaringkan tubuh renta itu di ranjang, menyelimuti serta mencium dahinya singkat. Tak berlama-lama Fatih segera keluar mengingat Seira akhir-akhir ini sering terbangun di malam hari dan pergi ke kamar mandi.
Senyumnya selalu hadir setiap kali bayangan sang istri muncul. Dia sama sekali berbeda seperti yang kebanyakan temannya ceritakan soal kehamilan seorang istri. Ia membuka pintu, terus tersenyum melihat wanita itu masih bergelung selimut di ranjang.
Tanpa berlama-lama, Fatih berbaring di samping istrinya, memeluknya dengan hangat. Menciumi tengkuknya dengan gemas. Seira menggeliat merasakan geli yang dihantar suaminya.
Seira berbalik, berhadapan dengan wajah sang suami. Senyum Fatih menjelma, tak segan menghujani wajah itu dengan ciuman. Seira mengernyit sebelum membuka mata, ia tersipu setelah mendapati wajah mereka yang begitu dekat.
"Mas." Seira mendekatkan wajah di dadanya, memeluk tubuh Fatih sambil tersenyum-senyum bahagia.
Satu kecupan mendarat di ubun-ubun berserta pelukan erat, meski harus hati-hati dengan perutnya yang membesar.
Kumandang adzan subuh saling bersahutan di surau-surau membangunkan semua insan untuk bersegera memenuhi panggilan Rob-nya. Meninggalkan alam yang selalu membuat hanyut dan lena.
Sholat jamaah subuh yang selalu diinginkan setiap pasangan, kerap mereka lakukan di rumah. Turun ke lantai satu dengan hati-hati, dan Fatih selalu sigap berada di sampingnya.
"Mas, nanti setelah lahiran aku mau Rayan mulai sekolah. Nggak apa-apa, 'kan?" ucap Seira sambil terus meniti langkah meski kepayahan.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, sayang. Biar dia bisa berbaur sama temannya juga." Fatih membantunya untuk duduk di sofa.
Dengan penuh perhatian, ia menawari Seira minuman. Fatih meninggalkannya ke dapur, tak lama setelah itu ponsel sang suami berdering.
"Mas, Pak Dirman telpon!" teriak Seira. Mungkin saja penting.
"Angkat aja, sayang!" Suara Fatih menjawab.
Setelah mendapat izin dari suaminya Seira mengangkat panggilan itu, kebetulan ada yang ingin ditanyakannya pada Jago.
"Ya, Jago. Assalamualaikum!" Suara Seira menjawab.
"Wa'alaikumussalaam, Ibu. Bapak ada?" Jago bertanya sopan.
"Bapak di dapur, ada apa?"
"Nggak ada, Bu. Cuma mau mastiin aja hari ini pergi jam berapa? Begitu," jawab Jago yang tak dapat dijawab Seira.
"Aku nggak tahu. Eh, Jago. Aku mau tanya soal anak yang kamu antar kemarin, kamu tahu di mana rumahnya?"
Jago terdiam cukup lama, entah apa sebabnya sehingga kerutan di dahi Seira timbul dengan sendirinya.
Setelah beberapa saat lamanya, Jago pun menjawab.
"Kamu ketemu orang tuanya? Apa mereka sengaja menyuruh anak kecil itu buat cari uang? Atau emang keadaan mereka ... begitu?" tanya Seira.
Itulah yang dia ingin tahu, keadaan orang tua dan keadaan rumahnya. Dia hanya khawatir ada eksploitasi terhadap anak kecil. Bukan hal yang tabu lagi, tapi sudah lumrah dilakukan oleh orang-orang yang merasa dirinya berkuasa dan memiliki hak penuh atas diri seseorang.
"Maaf, Bu. Emang keadaannya yang begitu, tapi apa Ibu mau tahu siapa orang tua anak itu?"
Jago bertanya teringin tahu reaksi Seira.
"Mereka itu udah jahat sama Ibu Sei, Pak. Janganlah dibaik-baikin, nanti besar kepala. Nolong orang kaya gitu tuh, kayak nolong anjing kejepit. Abis ditolong malah ngegigit."
Suara nyaring istri Jago membuat Seira menautkan alis semakin dalam. Menebak-nebak dalam hati ke mana maksud ucapannya.
"Iya, Bu. Bapak tahu, tapi kalo Ibu lihat keadaan mereka sekarang, Ibu juga pasti ngenes."
Semakin dalam kerutan di dahinya. Apa yang sedang dibicarakan suami istri di seberang telepon itu.
"Jago, siapa yang kalian bicarakan?" Suara teguran Seira membuat Jago tersadar mereka masih tersambung.
__ADS_1
"Mmm ... maaf, Bu. Itu ... anak yang kemarin itu, anaknya mantan suami Ibu. Mereka tinggal di rumah yang nggak layak huni, ibunya Pak Zafran juga sakit, Bu. Beliau stroke dan nggak bisa ngapa-ngapain."
Boom!
Entah suara bom dari mana, tapi itu cukup menyentak hati Seira. Ia diam beberapa saat, sampai suara Fatih datang menegurnya.
"Sayang? Kok, melamun?"
Seira mendongak, persis seseorang yang tengah dibodohi. Ia menggeleng, dan menyerahkan ponsel suaminya. Fatih menerima, duduk di samping istri tak lupa melingkarkan tangan di bahunya.
"Ya, Pak Dirman. Nanti kita berangkatnya agak siang aja, ya. Saya masih di rumah soalnya," ucap Fatih segera.
Dia tahu apa yang ingin ditanyakan Jago, jadilah segera menjawabnya tanpa ditanya lagi. Sambungan ditutup, diletakannya lagi benda itu di atas meja.
"Mas, emangnya mau pergi ke mana?" tanya Seira sambil melirik ke arahnya.
Fatih tersenyum, menyapu rambutnya dengan lembut dan penuh cinta.
"Mas mau lihat rumah yang ditawarkan orang sama Mas kemarin, bukannya kamu mau pindah ke sana?"
Seira menyurutkan senyum, seketika murung. Mendengar ucapan Jago, hatinya menjadi gamang. Fatih menangkap kegelisahan di wajahnya, ia lantas memeluk Seira.
"Kenapa?" Bertanya dengan lembut.
Ia mendongak dalam pelukan, manik keduanya beradu untuk beberapa saat lamanya.
"Kayaknya nggak usah, deh, Mas. Aku mau di sini aja, ya. Ada Ibu sama Bi Sari di sini, juga Biya. Kalo di sana sendirian aja, sedangkan anak kita bentar lagi juga lahir," ucapnya setelah menimbang dalam hati.
Bukan Seira tak ingin memaafkan dan berdamai dengan masa lalu, bukan ia tak ingin hidup berdampingan dengan mereka, tapi sudah cukup cerita tentang mereka di buku perjalanannya. Jangan ada lagi coretan tentang mereka, cukup tentangnya saja dan keluarga kecil mereka.
"Kok, gitu?"
Seira menggelengkan kepala.
"Nggak apa-apa."
Fatih mendekapnya erat, ia bingung sendiri dengan keputusan sang istri. Apakah itu yang dinamakan mood seorang wanita hamil. Dia tidak tahu, yang pasti apapun yang membuat Seira senang itu yang akan menjadi pilihannya.
Kenapa mereka tega sekali membiarkan anak sekecil itu mencari uang? Dia nggak bersalah, dia hanya korban dari keserakahan orang tuanya. Kasihan sekali kamu, Nak.
Hati Seira bergumam, mungkin saja dia akan mengirimkan bantuan, tapi tidak dengan mendatangi mereka. Cukup uluran tangannya saja yang sampai, tak perlu menampakkan diri.
__ADS_1