
Di keremangan cahaya rembulan, wanita itu termenung seorang diri. Menatap kelamnya langit malam yang bertabur sang bintang. Sungguh ramai, tak seperti hatinya yang sepi dan tandus bagai gurun pasir yang tak bertepi.
Ia duduk di atas sebuah batu, menautkan jemari dengan erat, menengadah pada pemilik cahaya malam. Terang, tapi tak mampu menjadikan dunianya yang kelam tersiram cahayanya.
Lintasan semua peristiwa yang mengisi perjalanan hidupnya, terus bermunculan bagai sebuah kaset yang diputar ulang terus menerus. Helaan napasnya terhembus berat, bertabrakan dengan angin malam yang cukup kencang.
Wanita di dalam ingatannya, dia benar-benar wanita yang baik. Tak ada kesalahan yang pernah dia lakukan terhadapnya, tapi dialah yang justru telah menolongnya terbebas dari segala kejaran hutang yang membelit hidupnya.
"Maafin aku, Sei. Aku sangat-sangat berdosa sama kamu, tapi rasanya malu buat ketemu sama kamu. Aku juga malu nerima semua bantuan kamu. Aku cuma iri sama hidup kamu, Sei."
Ia tertunduk, menangis tergugu seorang diri di kesunyian malam. Tak ada siapapun yang tahu tentang penyesalan yang sedang dirasakan hatinya. Hanya dia saja dan Tuhan, tentunya.
Beberapa hari telah berlalu sejak Jago mengantar Naina pulang, dan selama itu pula dia terus merenungi semua yang diucapkan laki-laki itu.
"Ini semua dari Ibu Sei, Den Rayan yang ingin membelikannya buat Naina. Semua makanan ini, Den Rayan sendiri yang memilihnya."
Sore itu, Lita terus tertunduk ketika Jago memulai bahasan tentang asal-usul barang-barang yang dibawa Naina. Tak terasa air mata jatuh dengan sendirinya. Kenapa wanita itu masih saja baik seperti dulu? Kenapa wanita itu masih saja bodoh mau saja membantu orang lain.
Lita menggelengkan kepala, menolak isi pikirannya sendiri. Betapa dia sudah teramat jahat pada wanita yang notabene adalah sahabatnya sendiri. Orang yang selalu ada dalam suka apalagi duka di hidupnya.
"Ibu Sei nggak pernah benci sama siapapun, dia juga nggak dendam. Mungkin kalo Ibu bersedia meminta maaf dan memperbaiki hubungan, beliau nggak akan segan buat ngasih maaf itu. Sekarang ini bukan waktunya buat egois, tapi Ibu harus mulai memikirkan semua yang sudah terjadi. Semua itu saling berkaitan satu sama lain."
Kalimat selanjutnya menyentak hati Lita, lintasan kisah tentang kebersamaannya dulu kembali membayang menjadi kenangan paling indah yang pernah diukirnya dalam hidup. Seira selalu menjadi tameng ketika teman-teman yang lain mengganggunya.
Lita kembali menggelengkan kepala mengingat itu semua. Tak ada apapun yang pernah dia lakukan semasa kebersamaan itu, selalu dan selalu Seira.
"Saya pernah denger ceramah di tv, pergaulan itu terbagi dua. Baik pergaulan kita sama manusia, baik pula pergaulan kita sama Yang Kuasa. Sekarang semua terserah sama Ibu, saya yakin hidup Ibu sekarang ini nggak tenang. Bukannya saya sok tahu, tapi ... seperti mereka-mereka yang di sana, hatinya akan selalu dihantui."
__ADS_1
Jago mengakhiri pembicaraan, dia pergi setelah berpamitan pada Ibu yang memperhatikan mereka dengan air mata terus mengucur deras.
Mengingat itu, tangis Lita semakin menjadi. Tangannya yang tadi bertaut kini meremas jantung. Apakah dia egois? Tidak! Dia hanya terlalu malu untuk muncul di hadapan sahabatnya itu. Atau mungkin mantan.
"Aku emang jahat. Aku udah ngambil kebahagiaan Sei, pantaslah Tuhan sekarang mengambil kebahagiaanku juga. Pantas, sangat pantas," racaunya yang dihanyutkan angin malam, terus terbang membumbung tinggi ke langit.
Menyentuh awan yang sejak tadi menatapnya kelabu. Cahaya rembulan pun menghilang ditelan gelapnya gumpalan hitam itu. Biarlah air mengguyur tubuhnya malam itu, biarlah semua dosa turut mengalir bersama air yang jatuh dari langit. Biarlah, biarlah. Dia masih ingin duduk di sana, merenungi setiap cerita yang melintasi kehidupannya.
*****
Sementara di tempat lain, wanita yang berbeda duduk termenung di dekat jendela kaca. Menatapi awan di langit yang tiba-tiba menggelap dan menutupi cahaya sang rembulan.
"Kenapa langitnya tiba-tiba mendung?" gumamnya tetap bergeming di sana.
Teringat pada kejadian beberapa hari lalu, di mana Rayan memberikan apa yang dibelinya kepada seorang gadis kecil di pinggir jalan. Dari pakaiannya, ia tahu itu adalah gadis yang sama seperti yang datang ke toko kue pagi harinya.
Terbersit keinginan untuk kembali ke sana dan menginap. Dia ingin mencaritahu tentang gadis kecil yang katanya selalu datang ke toko kue.
"Sayang!"
Suara Fatih menggema setelah membuka pintu. Ia masuk tergesa sambil membuka pakaiannya.
"Lho, Mas? Kok, basah?" tanya Seira seraya beranjak dari jendela dan menghampiri suaminya.
"Iya, di luar hujan deres. Ini cuma sedikit, sih. Mas lupa bawa payung tadi," jawab Fatih seraya memberikan pakaian tadi pada istrinya.
"Aku siapin air anget dulu, Mas. Takutnya nanti masuk angin." Seira bergegas masuk ke kamar mandi dan memenuhi bak mandi dengan air hangat.
__ADS_1
Selama Fatih membersihkan diri, Seira duduk termenung di tepi ranjang. Ia sedang menimbang keinginannya untuk menetap di sana. Selain ingin berada di toko kue, ia juga ingin mencaritahu siapa gadis kecil itu.
Seira tersentak ketika pintu kamar mandi terbuka. Fatih keluar dengan hanya mengenakan handuk yang melilit bagian bawahnya. Ia mengernyit, melihat sang istri yang tampak gelisah.
Senyumnya tersemat melihat piyama telah teronggok di sisi wanita itu. Ia mendekat dan memakainya.
"Ada apa? Mas lihat kamu kayak gelisah?" tanyanya sembari mengaitkan kancing piyama.
Seira berpaling dari tatapan sang suami, tak ingin kegelisahannya terbaca.
Fatih mengusap kepalanya, menariknya lembut seraya mengecup ubun-ubun sang istri.
"Bilang aja, apa yang sedang mengganggu pikiran istri Mas ini," ucapnya menekan-nekan pundak Seira dengan pelan.
"Mmm ... Mas, gimana kalo kita tinggal di sana aja. Aku lihat ada bangunan kosong yang nggak jauh dari toko kue. Aku ... aku pengen lihat sendiri keadaan toko, Mas," ucap Seira sedikit berbohong soal keinginannya untuk menetap.
"Kamu yakin?" Fatih memicingkan mata curiga. Hatinya merasa ada yang sedang disembunyikan istrinya itu.
Namun, ia menepisnya segera, mengingat Seira sedang hamil besar dan hanya tinggal menunggu beberapa bulan lagi, maka dia akan melahirkan. Lagipula di sana dekat dengan rumah sakit terbesar.
Seira menganggukkan kepala, menatap manik suaminya dengan pandangan penuh. Fatih tersenyum, tak mengapa jika dia ingin kembali menatap di sana. Fatih yakin dan percaya pada Seira bahwa dia bisa menjaga perasaannya.
"Ya udah, tapi tunggu sebulan, ya. Mas harus siapin tempat tinggal buat kita dulu," jawab Fatih yang diangguki Seira.
Ia memeluk suaminya dengan penuh rasa cinta.
Maafin aku, Mas. Sedikit bohong sama kamu, tapi aku bener-bener cinta sama kamu.
__ADS_1