
Prang!
Seorang wanita tua tersentak di halaman depan rumahnya, ia tinggalkan segala pekerjaan hanya untuk memeriksa apa yang terjadi di dalam. Gunting, sapu, pengki, dan sebuah parang tergolek tak beraturan di bawah pohon-pohon bunga.
"Ya Allah, Rayan! Non Sei, Di mana?" teriak Bi Sari sambil meraih seorang bayi kecil yang tergolek di lantai.
Anehnya bayi itu tidak menangis, padahal jatuh dari ranjang dan menimpa beberapa mainan. Suara beberapa benda yang diletakkan secara sembarang pun terdengar dari arah belakang rumah.
Dengan langkah lebar, Seira datang tergopoh-gopoh. Pakaiannya basah dari ujung rambut hingga ujung rok yang ia kenakan.
"Ada apa, Bi?" Bertanya segera, wajahnya memucat karena terkejut mendengar teriakan Bi Sari yang menyebut nama anaknya.
"Astaghfirullah! Non dari sungai? Bibi bilang nggak usah, kita dateng ke rumah cuma bersih-bersih halaman aja. Kenapa Non cuci semua yang ada?" Bi Sari terlihat cemas melihat kesadaan Seira yang basah semuanya.
"Aku ganti baju dulu, Bi." Buru-buru ia berbalik, menyambar handuk dan baju ganti. Lalu, masuk ke kamar mandi membersihkan diri.
Bi Sari membawa bayi Rayan ke ruang tengah, terlupa belum mencuci tangan bekas membersihkan halaman tadi.
"Tunggu di sini, ya, anak ganteng. Nenek mau cuci tangan dulu." Bi Sari menutup pintu dan pergi ke dapur.
Mencuci tangan dengan segera karena Rayan bayi yang aktif dan banyak bergerak. Di usianya yang menginjak bulan ke tujuh, ia sudah pandai merangkak dan berdiri berpegangan.
"Astaghfirullah! Rayan!" Bi Sari memekik ketika melihat bayi itu sudah berada di pintu dapur.
Suara tawanya melenyapkan amarah, juga kekesalan di hati wanita tua itu. Ia bersegera datang dan menggendongnya kembali. Duduk menjaga bayi itu bermain sambil menunggu Ibunya selesai membersihkan diri.
"Bukannya tadi Rayan tidur, Bi? Kok, udah bangun aja," tanya Seira sambil menggosok-gosokkan handuk pada rambutnya yang basah.
Ia tersenyum ketika senyum sang anak menyambut.
"Iya, Bibi juga kaget tadi denger suara benda jatuh. Tahunya anak ini yang jatuh, tapi dia nggak nangis." Bi Sari bercerita sambil memeriksa tubuh Rayan.
"Oh, mungkin nggak ada yang sakit, Bi." Seira menggantung handuk pada sebuah tempayan yang terbuat dari tambang di depan kamar mandi.
"Ma ma mah!" Suara Rayan yang menggemaskan membuat hatinya berbunga setiap hari.
Ia duduk di samping Bi Sari, segera saja bayi itu merangkak dan mendobrak pakaian atasnya.
__ADS_1
"Oh, mau Mimi."
"Bibi tinggal, ya."
Seira mengangguk, bayi itu duduk anteng di pangkuan berhadapan dengan dua benda kesukaannya. Seira bersandar pada tembok sambil mengusap-usap kepalanya yang ditumbuhi rambut sedikit.
"Nggak kerasa bentar lagi kamu udah mau satu tahun aja, Nak. Padahal, waktu itu Mamah hampir aja nyerah. Maafin Mamah, ya," ucapnya melankolis.
Rayan tak peduli, terus asik bermain dengan benda kesukaannya. Dia anak yang baik, tidak rewel dan mau bermain dengan siapa saja. Hanya saja, perlu perhatian yang ketat karena sedang masanya mencari tahu segala hal yang dia lihat.
Terbayang kembali dalam benak Seira, malam di mana dia melahirkan Rayan. Kondisi tubuh yang lemah, tenaga hampir habis terkuras, tapi bayi itu tak kunjung menampakkan diri.
Putus asa, Seira hampir putus asa pada waktu itu. Air ketuban telah pun habis keluar, tapi kepala bayi tak kunjung muncul.
"Non, istighfar, Non! Non harus kuat, bentar lagi. Rambutnya udah keliatan, ngeden yang kuat, Non." Suara Bi Sari lirih terdengar di telinganya.
Mata Seira sayu dan terasa lemah. Ia berkedip, pandangannya memburam menatap para petugas puskesmas yang membantunya. Untuk pergi ke rumah sakit terlalu jauh, dan beruntungnya Fatih ada di sana.
Pada bulan terakhir Seira mengandung, ia sengaja sering datang ke desa karena tak ingin terlambat menolong wanita itu untuk pergi ke rumah sakit.
"Ayo, Bu. Keluarkan tenaga Ibu, bayi Ibu sudah terlihat." Suara bidan dan yang lainnya berdenging di telinga.
"Bi!"
"Alhamdulillah, Non. Bayi Non udah lahir, dia sehat dan laki-laki." Ucapan Bi Sari memberikan tenaga lebih pada Seira yang sudah melemah.
Ia tersenyum melihat bayi yang sedang ditangani seorang perawat. Tak memperhatikan dirinya yang juga sedang ditangani bidan. Suara tangis Rayan amat menggema, tanpa sadar bibir Fatih yang menunggu di depan ruangan tersenyum senang.
"Di mana Ayahnya? Ini bayinya perlu diadzani," tanya sang perawat sambil menatap Seira dan juga Bi Sari.
Tangan hangatnya menyentuh lengan wanita tua itu, rasa cemas segera saja berhamburan membuat tubuhnya gemetar.
"Saya di sini!"
Tanpa diduga, Fatih membuka pintu ruangan dan berjalan mendekati tempat bayi berada.
Laki-laki itu tampak gagah, seperti seorang Arjuna yang turun dari kahyangan. Seira terenyuh, begitu pula dengan Bi Sari. Air mata tak henti menetes, dia bukan ayahnya, tapi dialah yang selama ini siaga menjaga Seira dan bayinya.
__ADS_1
Ya Allah, makasih udah ngirim laki-laki baik kayak Den Fatih buat jaga Non Sei.
Bi Sari bergumam haru.
Ya Allah, dia emang bukan ayah dari bayi aku, tapi dia begitu baik. Padahal aku bukan siapa-siapa buat dia, tapi dia udah rela berkorban waktu buat aku.
Hatinya bergumam, tak lepas pandangan dari sosok Fatih yang membacakan adzan dan iqamah bergantian di kedua telinga sang bayi. Laksana seorang Ayah, dia benar-benar laki-laki idaman. Pantas saja banyak wanita yang mendekat, dan ingin merebut hatinya.
Seira tersenyum mengingat waktu itu, tapi sejak hari itu Fatih belum lagi datang. Pikiran buruk pun muncul, Seira pasrah pada takdirnya.
*****
Gemuruh datang tiba-tiba, tiada angin tiada hujan, tapi payung itu roboh dengan sendirinya. Ke mana diri akan berlindung, semua tempat tak lagi selamat, dikelilingi hitamnya awan mendung.
Zafran menegang, sosok yang dia hindari selama satu tahun ini muncul bagai Dewi Kali yang membawa kehancuran. Mala berdiri dengan pakaiannya yang sama sekali tidak berubah.
Seksi dan menampilkan setiap lekuk tubuhnya, Zafran mereguk ludah. Ia pernah terbuai tubuh itu, sedangkan Lita membara. Tubuh Mala jauh sekali dengan dirinya yang berlemak. Rasa iri bermunculan di hati, tapi rasa takutlah yang mendominasi.
Diam-diam melirik Zafran yang tak berkedip menatap wanita itu. Hatinya memanas, cemburu membakar seluruh jiwa. Akan tetapi, senyum Mala tersungging sempurna. Kedatangannya saja sudah membuat heboh, apalagi jika ia sampai berbicara semua hal yang terjadi.
"Siapa kamu?" tanya Lita ketus.
Mala tetap berdiri di tempatnya, tersenyum puas melihat wajah pucat Zafran. Wajah itu seolah-olah tak dialiri darah, putih seperti mayat.
"Kenapa kamu nggak tanya aja suami kamu itu? Siapa tahu dia mau cerita soal siapa aku?" sahut Mala sembari mencibirkan bibirnya yang dipoles gincu merah.
Lita kian meradang, Zafran buru-buru memalingkan wajah darinya. Segala rasa berkecamuk, tak dapat ditutupinya. Mengalir sampai ke setiap urat di wajah, tegang, dan semakin pias.
"Siapa dia, Mas? Kenapa tiba-tiba dia datang dan buat kekacauan. Apa hubungan kamu sama dia?" tekan Lita yang berbicara dari balik kedua belah gigi yang saling merapat.
Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jari terlihat memutih. Tak peduli jika pun akan terluka, hatinya lebih sakit.
"Kenapa kamu diem, Mas! Bilang sama aku siapa dia?" Suara Lita meninggi, tapi Zafran tak kunjung menjawab.
"Biar aku yang jelasin!"
Sontak kepala laki-laki itu menoleh, bibirnya gemetar, kedua kaki seolah-olah mati rasa dan membeku.
__ADS_1
******
Hallo, semuanya. Saya Aisy Hilyah, terima kasih untuk semua dukungan yang kakak-kakak berikan. Selamat membaca semoga suka.