
"Maaf, Bu. Bukannya saya nggak mau ngerawat Ibu, tapi sepertinya Ibu akan lebih baik kalo saya titipkan ke sini," ucap Hendra pada Ibu di hadapan sebuah bangunan bercat putih, bertuliskan 'panti jompo'.
Ibu terenyuh dan ingin menangis, tapi terlalu malu karena Hendra bukanlah anak kandungnya. Rasanya tidak mungkin dia akan mau merawat orang lain selain keluarganya.
Ibu hanya bisa mengangguk sambil menahan tangis kesedihan. Pasrah pada jalan takdir yang digariskan Tuhan untuknya. Kelopak mata dan bibirnya terus berkedut saat Hendra mendorong kursi roda yang dinaikinya masuk ke halaman bangunan tersebut.
Seorang perawat seusia menantunya datang menyambut, ia tersenyum ramah seraya mendekat ke arah mereka berdua. Memperkenalkan diri sebagai Ida, dia yang akan merawat Ibu selama berada di panti.
Hendra mengisi data-data yang diperlukan, berikut membayar administrasi awal sebelum pergi meninggalkan Ibu seorang diri bersama orang-orang asing dan tempat yang asing pula. Berharap semoga tinggal di sana memang lebih baik daripada di luar sendirian.
Sementara di rumah sakit, Zafran tengah mencoba menggerakkan tubuhnya yang lemah. Ia kerahkan seluruh tenaga untuk dapat bangkit dari kursi pemalas itu. Sayangnya, disaat tubuh hendak terangkat, Zafran harus rela terjatuh lagi.
"ARGH! SIAL!"
Prang!
Barang-barang di atas meja kecil samping ranjangnya terjatuh dan berserakan di lantai saat tangan Zafran menepisnya kuat-kuat. Dadanya kembang-kempis, emosi kembali memuncak karena ketidakberdayaannya melawan sakit.
Zafran mengepalkan tangannya kuat-kuat, wajah laki-laki itu bahkan sudah terlihat menghitam karena gejolak amarah yang terus meluap-luap.
"Kenapa aku nggak bisa gerakin kaki aku, ya Allah. Kenapa? Aku mau cepet sembuh, aku mau cepet bangun, supaya aku bisa dengan cepat menemui anakku," racau Zafran.
Ia menangis, tertunduk dalam-dalam. Meratapi nasib yang ditakdirkan oleh Yang Kuasa. Teringat pada pernyataan Hendra yang membuat asa dan harapan raib seketika.
Beberapa saat sebelum Hendra pergi mengantar Ibu ke suatu tempat yang dalam pikiran pun tak pernah terlintas juga dalam benak Zafran. Dokter itu mengatakan hal yang tak ingin dia dengar.
"Kamu jangan gila, Zafran. Berapa banyak lagi orang akan menderita karena sikap kamu yang egois itu!" sentak Hendra sesaat setelah Zafran memintanya mengurus Ibu.
Wanita di kursi roda itu ingin rasanya pergi saja meninggalkan mereka, tapi apalah daya tubuh tak mengizinkan. Laki-laki itu bergeming, menundukkan kepala dalam-dalam. Ia sadar semua yang dilakukannya tak pernah melalui pemikiran matang. Selalu datang dengan tiba-tiba dan mendesaknya untuk menuruti.
"Kamu pikir sakit yang kamu alami sekarang ini, semacam flu biasa atau sekedar masuk angin? Bukan, Zafran! Sakit yang kamu derita ini terbilang langka dan baru. Jangankan obat, penyebabnya saja belum diketahui dan kemungkinan kecil untuk sembuh. Ingat, Zafran! Hidup di dunia ini ada batasnya, kamu jangan cuma mikirin buat sekarang aja, besok itu nggak ada. Aku nggak ngerti jalan pikiran kamu, Zafran. Sekarang terserah, aku nggak mau lagi terlibat urusan sama kamu," ucap Hendra seraya membawa Ibu keluar meninggalkan Zafran bersama kebodohannya.
Zafran tertawa getir mengetahui fakta bahwa kecil kemungkinan akan sembuh atau lebih tepatnya tidak akan pernah sembuh.
__ADS_1
"Hendra sialan! Emangnya kalian itu Tuhan, seenaknya aja ngomong," umpat Zafran sembari memukul ranjang frustasi.
Ia membentur-benturkan kepalanya pada sisi ranjang, kesal dan marah.
"Nggak! Aku harus sembuh, aku harus bisa sembuh. Penyakit ini pasti bisa disembuhin," gumamnya setelah puas dengan aksi konyol yang tak berguna itu.
Zafran diam, kedua matanya memancar penuh tekad. Tangannya terkepal kuat, semangat dalam jiwa meronta-ronta membakar.
Setiap kali sosok Rayan yang dilihatnya di pinggir jalan membayang, setiap itu juga harapannya untuk sembuh bangkit. Dia harus bertemu dengan anaknya. Dia harus bermain dengannya.
"Aku ayahnya, aku lebih berhak atasnya daripada laki-laki itu. Enak aja dia mau rebut posisi aku sebagai ayahnya," geram Zafran sembari mengetatkan rahang penuh tekad.
Rencana-rencana pun tersusun dengan sendirinya, demi sang anak dia harus sembuh. Zafran kembali berlatih lagi, untuk dapat bangkit dari kursi roda itu.
Begitu setiap hari, meski lidah mati rasa tak dapat merasai makanan apapun, dia tetap makan dan menghabiskannya. Obat diminumnya dengan cepat dan tak pernah malas lagi.
Namun, fakta membuktikan, kondisi Zafran justru semakin menyedihkan. Dia tetap di kursi roda, tidak mengalami perubahan sama sekali.
****
Karena suatu hal, Hendra berpamitan pada Nisa untuk pergi sebentar. Dia berjalan ke bagian lagi dari taman tersebut, niatnya untuk membeli makanan sebagai taman menunggu.
Namun, langkahnya dikejutkan oleh sesosok anak laki-laki yang sedang bermain dengan seorang anak perempuan. Hendra berdiri di balik pagar bunga, memperhatikan anak tersebut dari kejauhan.
"Apa itu anaknya Sei, ya? Tapi di mana Seira?"
Dia bergumam sambil mencari-cari sosok Seira yang tak terlihat. Hanya ada Bi Sari di sana yang duduk menjaga seorang bayi perempuan.
"Kakak, aku mau bunga itu. Bisa Kakak ambilkan?" pinta anak perempuan itu sambil menunjuk pada bunga kecil di hadapan Hendra.
Buru-buru laki-laki itu memetiknya dan menunggu Rayan datang. Ia duduk di atas rumput sambil sesekali mengintip pada arah kemunculan anak itu.
"Hati-hati, sayang!" Bi Sari memperingatkan.
__ADS_1
"Iya, Nek," sahut Rayan seraya berjalan mendekati pagar bunga di mana Hendra bersembunyi.
"Di mana bunga-bunga tadi, ya?" Rayan menggaruk kepalanya sendiri.
"Ssstt ... ssstt."
Sebuah suara mengejutkan Rayan, ia terlonjak ringan dengan mata membelalak.
"Sini! Ini bunganya udah Om petikin," ucap Hendra sembari melambai memanggil Rayan.
Bocah itu ragu, melihat ke arah Rani dan Bi Sari sebelum menghampirinya. Ia menerima bunga itu dari Hendra dan mengucapkan terima kasih.
"Mmm ... siapa nama kamu?" tanya Hendra menatap lekat-lekat wajah bocah itu.
"Rayan, Om," sahut Rayan sedikit menjaga jarak darinya.
Hendra tersenyum, tetap di tempatnya berjongkok.
"Lihat kamu Om kayak lihat teman Om sendiri, muka kamu mirip banget sama dia. Mau lihat?" tawar Hendra.
Rayan memicing, bocah itu mundur ketika Hendra semakin mendekat. Tubuhnya tegang dan waspada mengingat kata-kata Seira tentang orang asing.
"Maaf, aku harus pergi," ucap Rayan seraya berbalik dan berlari ke tempatnya kembali.
Melihat ketegangan di wajah Rayan, Bi Sari segera bertanya padanya, "Ada apa? Kakak kelihatan takut begitu?" Wanita tua itu mengusap punggung Rayan.
Napas sang bocah memburu, peluh bermunculan di wajah dan lehernya.
"Itu, di sana ada orang aneh, Nek. Rayan takut, kita ke Mamah aja, yuk, Nek." Rayan menunjuk semak di mana dia tadi memetik bunga.
Bi Sari terhenyak, ia segera menempatkan Fathiya ke atas keretanya dan mengajak mereka semua pergi. Seira dan Fatih berada di bangunan baru untuk memastikan semuanya telah selesai.
Jangan-jangan dia laki-laki itu dan mau nyulik Rayan. Nggak, bukannya dia di penjara?
__ADS_1
******
Maaf teman-teman, semalam saya gak up karena si kecil demam tinggi. Mohon doanya supaya cepat sembuh. Terima kasih banyak.