
Beberapa hari setelah Lita mengalami pelecehan, Zafran selalu gelisah di dalam sel. Tak ada hari tanpa memikirkan Lita. Makan tak enak, tidur tak nyenyak. Dalam mimpi pun, wajah Lita yang kerap muncul sambil menangis menatapnya.
"Pak Zafran, saya lihat Bapak gelisah sekali, ada apa?" tanya seorang ustadz yang biasa memberikan ceramah agama kepada para tahanan.
Zafran masih belum menjawab, hari itu dia sengaja menemui ustadz secara pribadi untuk membahas hatinya yang selalu gelisah.
"Tenang, Pak. Baca istighfar dulu, tenangin hati Bapak," ucapnya lagi mengingatkan.
Zafran tersadar, buru-buru mengucap istighfar untuk mengusir gelisah yang menghantui hatinya. Ustadz di depannya manggut-manggut sambil tersenyum.
"Alhamdulillah, sekarang ceritakan sama saya ada masalah apa?" pinta ustadz tersebut dengan sabar dan tenang.
Zafran menarik napas dalam-dalam dan melepaskannya pelan-pelan. Ia menceritakan soal perbuatanya dulu terhadap Seira sampai keberadaanya di dalam penjara. Dia mengakhiri kisahnya dengan helaan napas panjang sebagai penutup.
"Begitu Ustadz ceritanya. Saya juga nggak tahu kenapa, setiap kali kepikiran istri saya, hati selalu nggak tenang, Ustadz," pungkas Zafran menutup kisahnya.
Laki-laki berjubah itu mengucap istighfar banyak-banyak dalam hati, memohon ampunan untuk seorang Zafran yang telah melakukan dosa besar. Beruntungnya dia berani mengakui dan merasa berdosa sendiri. Semoga Allah memberinya hidayah agar kembali ke jalan agama.
"Kalo Bapak emang udah menyadari semua itu, sekarang yang harus Bapak lakukan banyak-banyak beristighfar. Memohon ampunan dan ketenangan hidup kepada Allah. Kita ini sama-sama pendosa, Pak. Maka mari sama-sama kita mendekatkan diri kepada Robbul-'izzati supaya hati kita tetap tenang." Pak Ustadz berkata bijak.
Zafran menangis, lisannya tak henti mengucap istighfar memohon ampunan kepada Yang Kuasa.
"Saya berdosa, Ustadz. Sangat berdosa, apa Tuhan masih mau menerima saya, Ustadz?" Zafran meraung, menangis tergugu mengingat dosa-dosa yang pernah dia lakukan terutama dosa terhadap Seira.
"Alhamdulillah. Insya Allah, Allah adalah alghoffaar. Maha pengampun, seberapa banyak pun dosa yang sudah kita lakukan, kalo kita datang bersimpuh pada-Nya maka pintu taubat terbuka lebar, Pak Zafran. Mari kita sama-sama berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan lagi, agar kita tetap berada di jalan yang lurus," jawab ustadz sepuh itu sambil mengusap punggung Zafran yang berguncang hebat.
"Pesan saya, Pak Zafran. Kalo suatu hari nanti istri Bapak melakukan khilaf, atau ada sesuatu dalam dirinya yang nggak Bapak suka, jangan langsung mengambil keputusan. Pikirin dulu buat ke depannya, kebaikan-kebaikan yang udah dia lakukan. Jangan sampai menyesal untuk yang kedua kalinya."
__ADS_1
Zafran mengangguk mengerti, dimulai hari itu dia menjadi seorang muslim yang taat. Bertaubat di hadapan Tuhan, tak bosan berjanji pada-Nya untuk tidak mengulangi semua kesalahan di masa lalu. Setiap hari berharap Lita datang menjenguk, teringin meminta maaf padanya dan memperbaiki semua dari awal.
Sampai datang hari itu, hari di mana dia sedang melakukan shalat sunnah dluha di mushola, seseorang datang menjenguknya. Zafran menyudahi sholatnya, berganti pakaian tahanan sebelum menemui orang yang datang itu. Dia pikir itu Lita, senyum tersemat di bibir sepanjang perjalanan menuju ruang khusus.
Zafran tak sabar ingin bertemu, membuka pintu dengan cepat.
"Lita!"
Langkah Zafran terhenti di ambang pintu, senyum yang menghiasi bibirnya raib entah ke mana. Pandangannya berubah, dingin dan membara penuh dendam.
"Zafran!" Suara yang dilembut-lembutkan wanita itu tak membuat hati Zafran seketika berbunga. Yang ada, amarah tiba-tiba muncul memenuhinya.
Teringat pesan sang ustadz, Zafran buru-buru mengucap istighfar dalam hati seraya melangkah mendatangi Mala yang duduk menunggunya.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Zafran tanpa basa-basi, "apa masih belum cukup kamu buat hidup aku jadi kayak begini? Kamu benar-benar jahat, Mala," lanjut Zafran sembari menggeram menahan getar emosi yang meluap-luap.
"Nggak perlu emosi kayak gitu, Zafran. Aku datang cuma pengen jenguk kamu aja. Nggak boleh?" Mala berkilah, tapi Zafran tahu ada sesuatu yang membawanya datang.
"Nggak usah berbelit-belit, Mala. Aku tahu kamu itu kayak apa. Nggak mungkin kamu datang tiba-tiba tanpa ada maksud dan tujuan tertentu." Zafran mendengus.
Mala tertawa mendengarnya seraya berucap, "Kamu emang bener. Aku datang ke sini karena peduli sama kamu. Aku pengen kasih kamu penawaran, Zafran. Kalo kamu mau menuruti aku, maka aku bisa aja keluarin kamu dari tempat ini. Itu juga kalo kamu mau, kalo nggak, ya udah." Mala menghendikan bahu tak peduli.
"Apa yang kamu mau?"
Senyum Mala terbuka lebar, seperti berhasil memerangkap mangsa yang dia incar.
"Tinggalin istri kamu dan balik lagi sama aku. Aku sayang sama kamu, Zafran. Kenapa kamu itu nggak ngerti-ngerti?" ucap Mala merubah ekspresi wajahnya jadi menyedihkan.
__ADS_1
Zafran mendengus, betapa tekad Mala begitu kuat ingin hidup bersama dengannya. Dia memang wanita yang ambisius. Harus selalu mendapatkan apa yang dia mau, bagaimanapun caranya.
"Maaf, Mala, tapi aku udah nggak mau melakukan kesalahan yang sama kayak dulu. Aku udah dapet pelajaran dan nggak mau menyesal kayak dulu lagi. Lagian, kenapa kamu nggak cari laki-laki lain aja. Kamu itu cantik, pasti banyak laki-laki yang mau sama kamu," ucap Zafran memantapkan hatinya.
Mala mendelik tajam. Bibirnya mencibir keyakinan Zafran sambil mengumpat dalam hati dan menyumpahinya tiada henti.
"Tapi aku cuma mau sama kamu. Lagian kamu juga nggak tahu, kan, apa yang dilakukan istri kamu di luar sana? Dia itu bukan perempuan baik-baik, Zafran. Dia main serong sama laki-laki lain." Mala mencoba meyakinkan Zafran.
Namun, laki-laki itu menggelengkan kepala, tak percaya.
"Kamu jangan asal ngomong, Mala. Jangan fitnah dia cuma demi ambisi kamu aja. Sadar, Mala. Kita ini bukan jodoh, sekeras apapun kamu kita nggak akan bisa bersatu," ucap Zafran geram sendiri.
"Udahlah, Mala. Percuma kamu fitnah Lita, aku nggak akan tinggalin dia. Apalagi cuma demi kamu. Hidup kami emang kekurangan sekarang, tapi dia nggak pernah tinggalin aku. Dia juga mau ngerawat Ibu aku. Kalo aku tinggalin dia, apa kamu mau ngelakuin hal yang sama kayak dia?" Zafran tersenyum sinis saat wajah Mala memerah.
Wanita itu terdiam beberapa saat sebelum akhirnya tertawa kecil. Alis Zafran saling beradu satu sama lain bergidik ngeri melihatnya tertawa.
"Baik, kalo kamu nggak percaya sama aku. Aku punya buktinya, dan kamu harus lihat sendiri." Mala mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya dan memberikan benda itu kepada Zafran.
"Di dalam sini, bukti-bukti kalo istri kamu itu main serong sama laki-laki lain. Kasihan kamu, Zafran. Kamu mendekam di sini, sedangkan dia asik masyuk sama laki-laki lain. Nggak inget sama suami, selama ini kamu nggak tahu, kan, kenapa dia nggak pernah datang buat jenguk? Hmmm ...." Mala mendengus, seraya beranjak meninggalkan Zafran sendirian yang termangu menatap amplop coklat itu.
Ragu. Apakah dia perlu membukanya, tapi penasaran setengah mati ingin membuka dan melihat isi di dalamnya. Jantungnya berdegup kencang, tangannya gemetar dikala mulai membuka. Pelan, berlembar-lembar foto ia keluarkan.
Seketika air mata tumpah begitu saja melihat gambar Lita yang tampak menyedihkan. Sakit hatinya, serasa diremas-remas dan diremukkan. Zafran membanting gambar tersebut dengan penuh emosi, dadanya bergemuruh hebat. Ia memukul meja dengan kuat.
Oh, tak ingatkah kamu pada perasaan mantan istrimu ketika memergoki kalian sedang bercinta?
*****
__ADS_1
Sekarang, setelah melihat Mala berada di penjara, dia sadar dan meyakinkan hatinya jika apa yang terjadi pada Lita itu semua pastilah perbuatannya.