Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Di belahan kota lain dua orang wanita berbeda usia baru saja turun dari mobil mereka yang terparkir di depan toko Seira. Keduanya melangkah beriringan dan berdiri di depan etalase toko. Melihat-lihat setiap kue yang terpampang, amat menggiurkan.


"Apa bener ini tokonya, Bu? Nanti salah lagi," tanya wanita yang usianya masih belasan tahun itu.


"Kamu nggak liat namanya apa?" bisik wanita yang dipanggilnya Ibu.


Mereka melongo ke dalam, penjaga di depan belumlah ada, maklum saja keadaan masih pagi dan toko baru saja buka. Gadis penjaga keluar, tergopoh-gopoh datang melihat dua orang pelanggan.


"Iya, Ibu, mau pesan apa?" tanyanya segera sambil mengenakan sarung tangan plastik.


"Mmm ... semuanya, deh. Kami mau makan di sini. Bisa, 'kan?" tanya wanita tua itu pada penjaga.


"Bisa, Bu. Silahkan duduk, saya siapkan dulu pesanan Ibu," ucap penjaga sambil menunjuk tempat yang disediakan untuk pengunjung menikmati hidangan di toko tersebut.


Tiga piring kue terhidang dengan berbagai jenis di atasnya, dua gelas teh hangat beraroma melati yang menenangkan mereka terima setelahnya.


"Maaf, bisa kami ketemu sama yang punya toko?" tanya wanita itu sambil tersenyum.


"Sebentar, Bu. Saya panggilkan."


Gadis penjaga pergi meninggalkan mereka, memanggil sang majikan yang baru saja selesai memandikan anaknya.


"Tehnya wangi, Bu. Enak lagi nggak bikin enek. Kok, bisa seenak ini, ya? Padahal, 'kan, sama aja teh juga," seloroh sang anak sambil menyeruput teh hangat buatan toko Seira.


"Iya, kuenya emang beneran enak," sahut sang Ibu sambil mengunyah kue.


Bunyi derap langkah menyentak keduanya, senyum-senyum aneh terukir di bibir mereka. Ibu menghabiskan kue di tangan dan menepuk-nepuknya.


"Selamat pagi!" sapa Seira dengan ramah, bersamanya seorang anak laki-laki yang berparas tampan turut berdiri menatap mereka.


Seira melirik tangan gadis remaja yang meremas pergelangan tangan ibunya, seolah-olah gemas melihat mereka. Oh, atau mungkin gemas pada Rayan yang kini usianya sudah sampai di tahun pertama.


Tinggi tubuhnya berbeda dengan anak seusianya, lebih tinggi dari usia yang sebenarnya.


"Pa-pagi! Apa bener ini toko kue yang lagi viral itu?" tanya wanita tua itu tak lepas senyum di wajahnya.

__ADS_1


Seira berjalan mendekat dan duduk di hadapan mereka. Ia memangku Rayan, agar bayi itu tak bermain ke mana pun.


"Saya nggak tahu kalo viral, tapi pembelinya emang lumayan. Apa Ibu mau pesan buat acara?" Seira tertawa, mengandung makna lain dari suara yang ia perdengarkan itu.


"Yah, saya emang mau pesan kue-kue di sini. Buat nikahan anak saya, tapi sayang belum ada calon istrinya. Gimana kalo kamu aja yang jadi calon istri anak saya? Mau, 'kan?" Wanita itu sedang menggoda Seira.


Ia terkekeh, hal itu memang sering terjadi padanya. Tak hanya sekali itu saja, terkadang bahkan mereka datang bersama anaknya untuk menggoda Seira seperti itu.


"Ibu bisa aja, berapa banyak kue yang mau dipesan?" Seira mengalihkan pembicaraan.


Ibu itu menarik diri, tetap tersenyum sambil menatap wanita cantik beranak satu itu.


"Ibu mau pesan menantu buat anak Ibu." Mata Ibu melirik Rayan, wajah tampan perpaduan Seira dan Zafran melekat di sana.


Ia tengah asik memakan kue yang diberikan Seira tadi.


"Berapa umurnya? Dia pasti butuh sosok Ayah," ucap Ibu itu.


Sekilas Seira melihat tatapan iba dilayangkan wanita tua itu. Mendengar kalimatnya, hati Seira serasa tercubit. Disapunya kepala Rayan, senyum yang diukir pun perlahan hilang. Apa sebenarnya yang diinginkan wanita tua itu? Kenal saja tidak.


"Bu, jangan ngomong yang macem-macem!"


Sebuah teguran dari suara seorang laki-laki, membuat jantung Seira berdebar-debar. Perlahan ia menoleh memastikan telinga tak salah mendengar. Pipinya menghangat hingga menggapai daun telinga tatkala mata mereka saling berserobok menuangkan rindu.


"Mas Fatih?" Seira bergumam.


Wanita tua di sana tersenyum, melirik pada gadis remaja di sampingnya sambil memainkan wajah. Fatih berdiri tak jauh dari etalase, tersenyum seperti dulu setiap kali mereka bertemu.


"Gimana kabar kalian?" tanya Fatih setelah mengambil tempat duduk di samping Seira.


Wanita itu menunduk menyembunyikan rona merah di pipi yang terus menghangat hingga ke ulu hati.


"Baik, Mas," lirih suara Seira menjawab pertanyaan Fatih.


"Wah, anak Papah udah gede. Sini, sama Papah!"

__ADS_1


Tanpa segan Fatih mengambil Rayan dan tidak ada penolakan dari bayi itu. Kalimat spontan yang terucap lugas dari bibirnya, semakin membuat hati Seira menghangat. Seolah-olah rasa yang telah lama hilang, kini kembali membawa sejuta kebahagiaan.


"Anak Papah? Kapan kalian nikah?" Ibu berjengit. Begitu pula dengan gadis remaja di sampingnya, kedua-duanya menatap heran pada Fatih, tapi juga senang bukan kepalang.


Sementara Seira, semakin dalam menunduk. Rasanya malu, setelah satu tahun menghilang, mereka dipertemukan kembali dalam rasa yang berbeda.


"Hari ini, aku mau menikahi Sei hari ini. Semuanya udah aku urus, abis dzuhur nanti acaranya," jawab Fatih terus bermain dengan Rayan.


Tak hanya Seira, Ibu dan gadis remaja itu pun dibuat tercengang oleh pernyataan Fatih. Diam-diam Bi Sari tersenyum penuh syukur dari balik tembok ruangan. Ia menguping pembicaraan mereka bersama karyawan lainnya.


"Kok, kamu nggak bilang sama Ibu?" Wanita tua itu terlihat kesal, tapi pancaran matanya penuh dengan kebahagiaan.


"Iya, ih, Kakak." Gadis remaja itu pula mengerucutkan bibirnya. Bukan karena mereka tak senang, tapi keduanya telah merencanakan pernikahan yang wah untuk mereka.


"Sebenarnya udah lama, aku sengaja ngambil hari ini karena hari ini adalah tepat dua tahun pertemuan kami. Pertemuan yang nggak sengaja, tapi selalu buat aku ketar-ketir setiap hari. Sei, kamu mau, kan, nikah sama aku? Hari ini?"


Lamaran seperti apa itu? Tak ada cincin, tak ada kejutan makan romantis, tapi sudah membuat Seira terbang melayang.


Wanita itu masih menunduk, Ibu dan anak bungsunya memperhatikan dengan cemas.


"Kenapa dadakan kayak gini, Mas. Kamu juga ngilang selama setahun ini, aku belum minta penjelasan itu dari kamu," ucapnya lirih.


Tiba-tiba lidahnya kelu dan bergetar, ingin berkata 'ya' saja, tapi ia teringat pada Fatih yang menghilang selama setahun ini.


"Aku akan jelasin setelah kita resmi menikah nanti. Aku nggak mau dan nggak bisa nunggu lebih lama lagi. Kepalaku pusing, kupingku berdenging sakit setiap kali denger Mang Udin bilang ada banyak laki-laki yang datang melamar kamu. Makasih, ya, kamu udah rela nungguin aku dengan sabar," ungkap Fatih dengan segenap cinta yang memancar di sorot matanya.


Pelan-pelan kepala Seira terangkat, pandang mereka bertemu untuk beberapa saat lamanya. Laki-laki itu jujur, tatapannya selalu membuat hati Seira tenang.


"Lagian, Aden, ngilang gitu aja. Giliran banyak yang lamar pusing sendiri, 'kan?" Suara Bi Sari ikut memenuhi obrolan mereka.


Seira memutuskan pandangan, Ibu dan gadis remajanya tersenyum senang. Tak sabar rasanya ingin segera memboyong mereka ke Jakarta. Tinggal bersama di satu atap, rumah yang dipenuhi celoteh anak kecil sudah terbayang dalam benak.


"Ya elah, Bi. Kayak yang nggak ngerti aja. Aku nunggu Rayan gede, Bi, biar bisa ...." Fatih memainkan alisnya menggoda.


Satu pukulan Seira mendarat, rona di pipinya semakin terlihat nyata. Jadilah, siang itu Seira resmi melepas status jandanya.

__ADS_1


__ADS_2