Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Kenangan


__ADS_3

"Ibu!"


Suara serak Naina mengusik telinga Lita yang membenamkan wajah pada lutut.


"Naina!" Dia bergumam, tapi menganggap itu hanya sebuah ilusi semata.


Berselang, Lita tak lagi merasakan air hujan menjatuhi kepalanya, perlahan-lahan ia mendongak. Hujan masih turun cukup deras, kenapa?


Lita menengadah, sebuah patung terbuat dari daun talas terhampar di atas kepala. Seketika kedua matanya membelalak teringat pada suara yang memanggilnya tadi. Ia buru-buru menoleh, mendapati gadis kecil itu tengah berdiri memayunginya.


"Naina! Sayang, kenapa kamu di sini, Nak?" Lita bergegas turun, merebut daun talas dari tangan Naina seraya menggendongnya dengan cepat.


Ia berlari menuju rumah sambil memayungi kepala sang anak. Lita gegas menurunkan tubuh kecil itu, dan membuka semua pakaian Naina. Lalu, membungkusnya dengan handuk dan memintanya untuk masuk. Sementara dirinya, pergi berganti pakaian sebelum menyusul.


"Hhmm ...." Suara Ibu terdengar, di dalam hati dia bertanya kenapa hanya memakai handuk?


"Nai abis nyusulin Ibu. Nenek belum tidur? Nenek abis sholat, ya?" tanya Naina melihat wanita tua di kursi roda itu yang tengah memakai ruku.


Ia mengangguk sebagai jawaban, memperhatikan Naina yang mengambil pakaian ganti dan mengenakannya sendiri. Dia pandai dan mandiri, juga tangguh dan pemberani.


Tak lama, Lita pun masuk sembari menggosok-gosok rambutnya yang basah. Ia melihat Naina yang sudah duduk di atas kasur menunggunya. Tak ada hiburan di rumah itu, hanya ada boneka beruang besar pemberian Rayan beberapa hari lalu.


"Sayang, kamu kedinginan?" tanya Lita melihat Naina memeluk erat boneka itu.


Gadis itu menggeleng, tak ingin membuat ibunya cemas. Lita teringat pada mie instan yang dibelikan Rayan dulu, ia masih menyimpannya. Lalu, pergi ke dapur dan memasak mie tersebut.


Dua bungkus mie instan akan mereka makan bertiga. Lumayan, bisa menghangatkan tubuh yang kedinginan akibat hujan.


"Nai, sayang. Emang kemarin Nai lagi apa? Kok, bisa ketemu sama Om yang kemarin?" tanya Lita usai menghabiskan mie buatannya.

__ADS_1


Ibu fokus mendengarkan saat Naina bercerita tentang pertemuan tak terduga dengan Rayan dan keluarganya.


"Kamu mulung? Buat apa, sayang? Ibu, kan, selalu kasih kamu uang buat jajan," pekik Lita tak percaya pada ucapan anaknya.


"Nai nggak mau repotin, Ibu. Uang Ibu, kan, untuk beli makan. Jadi, Nai cari uang sendiri aja. Nggak apa-apa, kan, Bu?" pinta Naina. Maniknya yang sayu terlihat memohon.


Lita sungguh tak tega, ia memejamkan mata sambil berpaling. Setetes air jatuh tanpa dapat ia tahan lagi. Hatinya merasa sakit mendengar permintaan si buah hati. Memang sejak donor itu, Naina tak lagi sakit. Dia terlihat bahagia.


Lita tak mampu menjawab, ia menarik tubuh Naina ke dalam pelukan. Menumpahkan segala rasa yang bergejolak hebat.


"Maafin Ibu, sayang. Maafin Ibu. Ibu yang salah, semua yang terjadi pada hidup kita itu karena dosa-dosa Ibu di masa lalu. Mudah-mudahan Nai mau maafin Ibu, ya."


Naina sama sekali tidak mengerti, akhir-akhir ini Lita sangat sering meminta maaf padanya tanpa tahu kesalahan apa yang diperbuatnya?


"Ibu nggak salah, kok. Kenapa minta maaf?" ucap Naina dalam dekapan ibunya.


Namun, Lita tetap bungkam, mengunci mulutnya sendiri. Ia merebahkan Naina, membantu Ibu, sebelum berbaring di samping gadis kecil itu.


Di bangku duduk orang tua mereka memperhatikan sambil tersenyum penuh kebahagiaan melihat kedekatan mereka.


"Pokoknya kalo udah besar nanti, kamu nggak boleh nikah sama orang lain. Harus sama Kakak, ya?" Bocah itu berbicara dengan lantang hingga para orang tua dapat mendengarnya dengan jelas.


Gadis kecil dengan rambut diikat dua itu menoleh tak senang, gerakan tangannya yang memainkan tumpukan pasir terhenti.


"Kenapa? Kok, aku harus nikah sama Kakak? 'Kan, sama aja," jawabnya polos.


Bocah laki-laki itu mendesah, lidahnya berdecak ringan mendengar jawaban gadis kecilnya.


"Karena orang lain nggak bisa buat kamu tertawa, juga nggak bisa lindungin kamu. Cuma Kakak yang bisa melakukannya. Percaya saja sama Kakak, ya?" Bocah itu menegaskan kepemilikannya.

__ADS_1


Adegan berganti di mana gadis tadi menangis sambil melambaikan tangan. Mereka terpaksa harus berpisah, dengan hati yang berat juga air mata yang menganak sungai, gadis kecil itu sungguh tak rela.


Fatih terbangun dengan napas tersengal-sengal, dan peluh membasahi kulitnya. Bibir Fatih tak tahu bergumam apa. Ia melirik Seira, gegas beranjak turun dari ranjang, masuk ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya sendiri.


"Ya Allah, kenapa mimpi itu selalu muncul? Ampuni aku, ya Allah. Gadis nakalku ...."


Fatih memejamkan mata, tertunduk di hadapan cermin di dalam kamar mandi. Hujan tak lagi turun mengguyur bumi, gerimis pun tak lagi melanda dunia. Hanya jejak kehadirannya saja menempel pada daun dan genangan air di jalanan.


Fatih berjalan keluar kamar menuju lantai satu rumah. Terus tembus menuju dapur dan berdiri berhadapan dengan sebuah pintu yang membatasi antara dirinya dan dunia yang ada di balik papan kayu tersebut.


Fatih mengangkat tangan memegang handle pintu, membukanya dengan pelan supaya tidak terkena debu. Entah tempat apa itu? Yang pasti seperti dunia lain yang dipisahkan darinya.


sebuah taman usang yang tak lagi terpakai. Ditinggalkan begitu saja, hampir seumur hidup tak pernah dilihatnya. Fatih mulai meniti langkah, halaman belakang itu selalu tertutup dan tak pernah dia datangi lagi.


Di sanalah kedua anak itu bermain, saling berjanji satu sama lain. Fatih berjongkok di depan sebuah kolam ikan yang mengering. Di atas sebuah batu, dia pernah mengukir wajah mereka.


Tangan Fatih meraba batu tersebut, kesedihan menyeruak begitu saja memenuhi hatinya.


"Aku melupakannya, aku melupakan dia. Aku yang berjanji, tapi aku juga yang mengingkari. Gadis nakalku, di mana dia sekarang?" Ia bergumam lirih.


Mengapa setelah sekian tahun lamanya, semua itu kini muncul seolah-olah mengingatkannya pada janji yang pernah dia buat di waktu dulu. Fatih menangis tergugu, memikirkan seperti apa nasibnya sekarang.


"Kakak udah nikah sekarang. Kayaknya kita emang bukan jodoh, ya. Nggak apa-apa, Kakak doain kamu mudah-mudahan kamu hidup bahagia di mana pun berada. Kayak Kakak sekarang ini, menikah sama dia."


Fatih mengusap air mata, mengingat Seira yang tersenyum padanya ia sadar bawah sekarang sudah tidak sendiri lagi.


"Maaf, ya. Kakak juga harus lupain kamu, Kakak nggak mau nyakitin hati istri Kakak karena gimana pun kalian sama-sama perempuan."


Fatih mengakhiri kenangannya. Ia bangkit dari batu tersebut, memandang sebentar sebelum pergi.

__ADS_1


"Kamu masih belum bisa lupain dia? Ingat, Fatih. Kamu udah punya istri."


__ADS_2