
Bersamaan dengan Zafran yang keluar restoran, Bi Sari dan Ibu turun dari mobil dibukakan pintu oleh Jago. Keduanya tersenyum mengucapkan terima kasih yang disambut anggukan kepala oleh laki-laki itu. Mereka diantar Jago menuju pintu masuk, tapi kemunculan Zafran dari dalam restoran menghentikan langkah ketiganya.
Pandang mereka beradu, sama-sama terkejut. Tentu saja, tapi detik berikutnya senyum terulas dari bibir Bi Sari yang terlihat lebih segar daripada saat dia meninggalkan rumah dulu.
"Hei, kalian berdua, awas datang lagi ke rumah ini dan minta pekerjaan. Kalian nggak diterima selamanya di rumah ini, dasar orang-orang miskin nggak tahu diri!"
Bayangan wajah Ibu saat mengusir dan menghina mereka dulu melintas begitu saja dalam benak. Menjadi sebuah mimpi buruk yang tak ingin diingat lagi, tapi juga membawanya pada kehidupan yang lebih baik seperti saat sekarang ini.
Ibu dan Lita diam di tempat, tak membalas senyum. Tubuh mereka mematung beku, terpaku di depan pintu restoran. Langkah Bi Sari terus berlanjut, diantar Jago hingga berdiri di hadapan mereka.
"Kita ketemu lagi, Pak, Bu. Gimana kabar kalian?" tanya Jago dengan pelan.
Ibu dan Bi Sari diam memperhatikan riak wajah ketiga manusia durjana di hadapan mereka. Pucat bagai mayat, kaku seperti patung.
"Ja-jago ... ka-kamu ...?" Lidah Zafran kelu, bertanya saja gagap dan tak mampu.
Jago mengulas senyum, senyum terbaik untuk malam itu dia berikan pada mantan majikannya.
"Iya, Pak. Ini saya, Alhamdulillah saya udah dapet kerjaan lebih baik walaupun cuma security, tapi saya merasa senang dan tenang," balas Jago sengaja menyindir dua orang itu.
Zafran tak tahu harus berkata apa, ada rasa malu yang berkumpul di hati mengingat pekerjaannya yang sekarang tidak lebih baik dari Jago, mantan mandor di gudangnya dulu.
"Apa kabar, Bu? Saya lihat Ibu udah bahagia karena sekarang punya cucu," tanya Bi Sari pada Ibu sambil melirik Naina yang lemah di gendongan Lita.
Penampilan Bi Sari bahkan lebih baik dari pada dirinya malam itu. Ia bandingkan dengan melirik tubuh sendiri, sungguh miris. Ada kusut di beberapa bagian karena tak disetrika, sedangkan wanita yang dia hina dulu tampil dalam balutan busana indah dan pantas.
Namun, demi gengsinya yang tinggi, ia tak ingin terlihat rendah di hadapan siapapun apalagi mantan asisten rumah tangganya itu.
"Baik. Iya, sekarang aku bahagia karena punya cucu yang cantik," katanya angkuh.
__ADS_1
Ibu mendengus, dari penampilan saja sudah jelas terlihat bedanya, tapi tetap saja bersikap sombong. Teringat akan cerita Udin, dia tak akan percaya hingga dipertemukan malam itu.
Bener kata si Udin, keluarga mantan suami Sei emang sombongnya nggak ketulungan padahal jelas-jelas mereka kelihatan susah, masih aja sifat sombongnya dipiara.
Ibu bergumam, jijik melihat kesombongan mereka yang melekat erat dengan hati.
"Oh, Alhamdulillah. Udah ketemu Non Sei di dalam?" Pertanyaan selanjutnya dari Bi Sari membuat senyum dan keangkuhan mereka pudar.
Mereka tahu itu bukan hanya sekedar pertanyaan, tapi lebih pada sindiran agar mereka sadar siapa mereka sekarang di hadapannya dan terlebih di hadapan Seira. Bi Sari yakin mereka pasti sudah bertemu dengan Seira dan Rayan.
"Dari muka kalian, saya yakin udah ketemu sama Non Sei dan Den Rayan. Non Sei itu nggak mandul, Tuan. Buktinya sekarang beliau punya anak, 'kan? Sehat, nggak kayak cucu Ibu yang kelihatannya sakit begitu," ungkap Bi Sari semakin menohok hati mereka yang telah tersudut.
"Iya, itu ... anaknya kayak sakit, kenapa nggak dibawa ke rumah sakit? Kasihan, lho," timpal Ibu sedikit iba pada anak dalam gendongan Lita.
"Bener, Bu. Muka anak Ibu itu pucet banget, sebaiknya cepat-cepat dibawa ke rumah sakit." Jago turut membuka suara merasa kasihan pada anak yang tak berdosa itu.
Ketiganya melihat ke arah Naina, mata sayu balita itu berkedip berat. Wajahnya pucat, bibirnya gemetaran, suhu tubuhnya pun naik. Panik, itulah yang tergambar di wajah Zafran. Anaknya tidak boleh kenapa-napa, Naina harus sehat dan lebih ceria daripada anak Seira.
Bi Sari menggelengkan kepala, sedangkan Ibu mendengus. Kenapa masih saja sombong? Dasar orang-orang nggak tahu diri.
"Bukan begitu, Bu, tapi emang cucu Ibu itu kelihatannya sakit. Sebaiknya dibawa aja ke rumah sakit daripada kenapa-napa nanti, kan, rugi sendiri. Udah lama banget Ibu mau punya cucu, 'kan?" ucap Bi Sari tetap tenang dan tersenyum.
Wanita tua sombong itu mendengus, ia menarik tangan Lita supaya cepat pergi dari sana. Muak mendengar suara juga melihat wajah keduanya, terutama Bi Sari yang terlihat jauh lebih rapi daripada sewaktu bekerja di rumahnya dulu.
"Ayo, Lita. Ngapain lama-lama di sini, gerah Ibu ketemu orang-orang ini. Bawaannya emosi aja," gerutunya masih terdengar jelas di telinga Ibu dan Bi Sari.
"Bawa ke rumah sakit cucunya, Bu. Kayaknya sakit parah tuh!" teriak Ibu dengan lantang.
Wanita tua itu berhenti dan berbalik, menatap tajam penuh dendam pada mereka semua.
__ADS_1
"Udahlah, Bu. Kita pergi aja," ucap Zafran yang menarik tangan Ibu untuk segera pergi dari tempat tersebut.
Bi Sari dan dua orang yang bersamanya menatap kepergian mereka dengan puas. Benar, puas rasa hatinya melihat wajah mereka yang seperti orang kebakaran jenggot. Merah padam, mungkin juga mengepulkan asap dari sela-sela rambutnya.
"Kasihan sekali sekarang hidup Pak Zafran, dia pasti nyesel udah ngusir Ibu apalagi sekarang ada Den Rayan. Saya yakin hari-hari Pak Zafran nggak akan tenang," gumam Jago berkomentar.
Tak ada yang menyahut, tapi mereka membenarkan. Semuanya bungkam memperhatikan keluarga Zafran yang berdiri di tepi jalan. Apa yang mereka lakukan?
"Ngapain mereka berdiri di sana? Bukannya cepet-cepet ke rumah sakit malah berdiri nggak jelas kayak gitu," sungut Ibu.
"Kayaknya mereka nggak ada kendaraan, jadi nunggu angkot lewat," tebak Jago tepat sekali.
Bi Sari mengembuskan napas panjang, begitulah kehidupan. Laksana roda kereta kuda yang terus berputar, silih berganti supaya terus berjalan. Orang hebat bukanlah dia yang berhasil menggenggam dunia di tangan, tapi mereka yang tetap sadar bahwa bumi-lah tempat mereka berpijak meski berada di puncak kejayaan.
Ibu mengajak Bi Sari untuk masuk menemui Seira dan yang lainnya. Mereka datang menjemput karena bosan tak mendengar suara celoteh Rayan.
Selepas kepergian mereka berdua, Jago yang tak tega hati melihat mantan majikannya itu terus berdiri sambil menoleh ke kiri, akhirnya menghampiri. Kepanikan terjadi disaat Jago baru saja melangkah.
Suara teriakan Lita dan Zafran menggema, wajah keduanya juga tampak semakin pucat pasi. Jago berhenti melangkah, hanya melihat dari jauh dia sudah tahu kondisi Naina semakin tidak baik.
"Bang, nitip pos dulu. Kalo Ibu sama Bapak tanya, bilang aja aku ke rumah sakit antar anak yang di sana," ucap Jago saat mengambil kunci motornya di pos.
Ia berlari cepat setelah mendapat anggukan kepala dari rekannya itu. Motor matic yang dibelinya dari hasil bekerja di restoran melesat dengan cepat dan berhenti di depan rombongan Zafran.
"Ayo, Pak, cepat naik. Ikut saya aja bawa anak Bapak ke rumah sakit," ucap Jago ikut panik melihat kondisi Naina yang tak sadarkan diri.
Tanpa berpikir, Zafran mengambil Naina dari gendongan Lita dan naik ke atas motor Jago.
"Kalian nyusul aja ke rumah sakit!" katanya sebelum kuda besi itu melesat meninggalkan mereka di tepi jalan.
__ADS_1
"Naina, bangun, Nak. Jangan nakut-nakutin Ayah, Naina. Bangun!" Suara Zafran terdengar bergetar, wajah gelisahnya terlihat jelas di spion saat Jago melirik.
Kasian sekali hidup Bapak, setelah melepaskan berlian malah dapet kerikil dari jalanan.