
"Zafran!"
Suara yang memanggil membuat langkah Zafran terhenti. Ia berbalik dengan mata yang memicing, lipatan di dahi muncul ketika matanya bertabrakan dengan mata si pemanggil.
"He-hendra?"
Zafran memucat, seperti seorang maling yang tertangkap basah. Mematung di dekat mobilnya menunggu kedatangan Hendra.
"Aku tahu kenapa kamu di sini?" katanya segera begitu tiba di hadapan Zafran.
Laki-laki itu salah tingkah sendiri, mengusap tengkuk serba salah. Wajahnya berpaling sejenak membuang semu di pipi. Lalu, kembali pada Hendra dengan tatapan curiga.
"Kamu sendiri ngapain di sini? Ada panggilan di sekitar sini? Tapi di sini jauh dari rumah sakit," tanya Zafran juga terlupa bahwa mereka adalah rival saat bujangan dulu.
Hendra tersenyum misterius, menyahut penuh percaya diri, "Sama kayak kamu. Apapun itu." Senyum yang dicetaknya terlihat menjengkelkan.
"A-apa karena ...."
"Yup! Aku penasaran aja sama yang punya toko kue itu karena kue-kuenya kayak buatan Seira. Biar begini aku juga sering makan kue Sei dulu. Jadi, aku dateng buat ngobatin rasa penasaran aku. Eh ... nggak tahunya, eeh ...."
Hendra memainkan alis menggoda Zafran. Tidak salah memang, selain karena rasa penasaran, Zafran memiliki motif lain datang ke toko tersebut. Niat terselubung yang hanya dia saja yang tahu.
"Kamu emang bener aku juga penasaran, tapi perlu kamu tahu yang punya toko itu laki-laki. Namanya Rayan, toko itu dikasih nama sesuai dengan nama dia. Padahal, aku berharap toko itu punya Seira." Zafran menghela napas panjang.
Menyandarkan tubuh pada badan mobil, menatap arak-arakan awan di langit. Berharap pada sang kuasa bisa dipertemukan dengan sang mantan istri.
Aku pikir itu nama anak kalian, Zafran. Sayang, kamu sampai sekarang belum tahu kalo punya anak dari Sei. Biarlah, anggap aja terus anaknya Lita sebagai anak kamu.
Hendra sangat menyayangkan dengan sikap Zafran yang tergesa mengambil keputusan untuk bercerai dengan Seira waktu itu.
__ADS_1
"Kenapa kamu kecewa gitu? Tapi heran juga, sih, rasa kuenya itu mirip banget sama kue buatan Sei." Hendra berpikir, diam-diam melirik pada Zafran yang masih tertegun menatap langit.
"Mana istri kamu? Kamu sendirian?" selidik Zafran sembari menegakkan tubuhnya. Mengalihkan pembicaraan dari seputar Seira.
"Yah, dia di sekitar sini. Tuh, di salon yang itu. Aku lagi nunggu dia di sini," jawab Hendra menunjukkan sebuah salon kecantikan pada Zafran.
"Lita tahu kamu dateng ke sini?" Hendra meliriknya.
Zafran menghela napas, memikirkan hubungannya dengan Lita rasanya tak seindah dulu. Pun tak sebahagia seperti saat bersama Seira. Terlebih ia juga terlibat skandal perselingkuhan dengan Mala tanpa sepengetahuan Lita.
Untuk itulah dia menjual rumah serta gudang miliknya dan pindah ke bagian lain kota Jakarta. Semata-mata hanya untuk menghindar dari Mala dan segala tuntutannya.
"Buat apa? Hubunganku sama dia terasa hambar, padahal anak kami udah lahir. Nggak tahu kenapa aku ngerasa Naina sama sekali nggak mirip sama aku." Zafran tersenyum kecut.
Membayangkan wajah Naina pun dengan segala tingkahnya. Kata Ibu, Zafran tak pernah begitu saat kecil.
"Kenapa?" Hendra memicingkan mata, kedua tangannya terlipat di perut, fokus pada riak wajah Zafran yang kusut.
"Nggak usah berpikiran macem-macem, aku rasa dia sedikit berubah sekarang. Nggak kayak dulu sering keluyuran, tapi kalo dibandingin waktu kamu sama Sei emang kelihatannya lebih bahagia sama dia daripada yang sekarang. Sabar ajalah buat sekarang, mah, Zafran. Belum waktunya," ucap Hendra sambil memainkan alis.
Zafran mengernyit merasa Hendra menyimpan banyak rahasia yang tak ia ketahui. Ribuan tangan berdenging di kepala, berdesakan meminta jawaban.
"Maksud kamu apa?" tanyanya setengah tegang.
"Mas!"
Panggilan seorang wanita mengalihkan pandangan Hendra.
"Aku pergi dulu. Ingat, yang sabar!"
__ADS_1
Hendra menepuk bahu Zafran sebelum berlari ke arah Nisa. Memeluk wanita itu dan tanpa segan mengecup keningnya. Semua itu disaksikan Zafran dan lagi-lagi teringat pada Seira. Dulu, ia pun sering melakukan itu, tapi sekarang rasanya enggan. Hubungan rumah tangganya tak lebih hanya sebatas rasa tanggung jawab saja karena terlanjur menghamili Lita.
Zafran mendesah, lagi-lagi nama Seira mendominasi perasaanya. Apapun yang dia lihat, yang dia dengar, selalu dan selalu berkaitan dengan wanita itu. Apakah karena dosa yang dia lakukan terhadapnya?
"Kenapa kamu terus ganggu aku, Sei. Apa kamu nggak mau aku bahagia? Kamu juga sengaja nggak dateng waktu sidang biar aku terus ngerasa bersalah sama kamu, 'kan?"
Ia bermonolog.
"Sekarang aku sadar, yang aku rasain ini bukanlah cinta kayak dulu, tapi karena rasa bersalah udah jatuhin talak di waktu yang nggak tepat. Juga mungkin kamu nggak rela udah aku usir dari rumah, tapi kenapa kamu nggak dateng terus ngomong sama aku? Malah sembunyi kayak pengecut." Zafran tersenyum miring.
Membuka pintu mobil dan bergegas masuk ke dalamnya, menyalakan mesin sambil merenung sejenak.
"Mulai sekarang aku nggak akan biarin kamu ganggu hidup aku lagi. Yah, istri aku sekarang Lita dan cuma dia yang aku cinta. Kami juga udah punya anak, cantik dan ceria. Ayolah, Zafran. Kamu nggak ada salah apa-apa sama Seira, jadi jangan kepikiran dia lagi."
Mobil Zafran melaju meninggalkan halaman sebuah toko di mana ia parkir. Perasaannya kembali membuncah pada Lita setelah menyadari sesuatu. Ia bahkan berhenti di depan penjual bunga, membeli seikat bunga mawar sebagai hadiah untuk istrinya itu.
Diliriknya bungkusan kue juga bunga sambil tersenyum, membayangkan wajah cerah Lita dan pastinya malam nanti mereka akan melakukan segalanya seperti pengantin baru.
*****
Ibu dan Lita menunggu kedatangan Zafran di ruang tengah. Sejak kedatangan mereka dari memergoki laki-laki itu, keduanya terus diam tak berbicara. Hanya celotehan Naina saja yang mendominasi ruangan tersebut.
Kenapa Zafran ada di sana, ya? Apa dia punya pikiran sama kayak aku? Penasaran sama yang punya toko itu. Rasa kue-kue di sana emang mirip sama kue buatan Sei.
Ibu bergumam dalam hati, meski tangan memainkan remote tv, tapi hati dan pikiran mengelana pada toko kue baru itu. Lita tak jauh beda, fokus memperhatikan Naina, tapi pikirannya terus melayang pada Zafran yang keluar dari toko kue.
Kenapa Mas Zafran keluar dari sana? Apa dia buat pesanan kue ulang tahun Naina, ya? Kenapa aku gelisah kayak gini, sih. Duh, perasaan aku nggak enak banget.
Lita turut bergumam, wajah yang dipoles makeup itu terlihat gelisah. Kusut dan tak bersemangat. Gurat-gurat kecurigaan bermunculan di sekitar wajahnya, menumpuk di hati menjelma jadi sebuah ketakutan.
__ADS_1
Jangan sampe Mas Zafran selingkuh, aku nggak mau bernasib sama kayak Seira. Dibuang gitu aja. Nggak! Aku nggak mau!
Deru mobil Zafran mengalihkan keduanya, Lita gegas berdiri dan berjalan ke teras menghampiri sang suami. Bukannya tersenyum, Lita justru menatap curiga pada laki-laki itu.