
"Sei?"
"Seira?"
Tubuh itu terpaku, mematung dan beku. Bibirnya berkedut-kedut, air menggenang di pelupuk. Debaran jantung memacu dengan cepat. Rasa panas perlahan menjalar dari hati hingga terasa di pelupuk.
Nggak! Tahan, Sei. Tahan! Kamu kuat.
Hati kecilnya menyemangati, sungguh terkejut bukan main dan tak pernah ia duga bahwa malam ini ada kejutan pertemuan dengan orang-orang dari masa lalunya.
Seira menghela napas panjang, mencoba berpura-pura tidak mengenal mereka. Ia menarik garis bibir meski harus benar-benar memaksa.
"Mau pesan apa?" Sekali lagi bertanya dengan sopan.
Suaranya tak pernah berubah, tetap manis dan lembut sama seperti dulu. Suara yang membuat hati siapa saja merindu, tak tahan ingin selalu bertemu.
Hening beberapa saat, pegal rasanya harus mempertahankan senyum terpaksa seperti saat ini. Seira terhenyak saat suara tawa menggelegak, dua wanita di sana terpingkal entah apa yang mereka tertawakan.
Seira bergeming, masih berdiri di sana menunggu pesanan mereka. Matanya melirik ke sekitar, memperhatikan pengunjung yang lain. Beberapa pasang mata mengarah pada mereka. Ia menarik udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-paru yang tiba-tiba kosong dan sesak.
Matanya dengan enggan melirik laki-laki yang duduk di meja itu, beberapa detik pandang mereka bertemu. Akan tetapi, Seira cepat-cepat berpaling dengan angkuh dan tak peduli. Sekilas ia melihat pancaran kerinduan, penyesalan, dan kesedihan.
Lirikan mata Seira jatuh pada seorang anak kecil di pangkuan wanita tua yang bersama mereka. Seharusnya, usia anak itu tak jauh beda dengan Rayan, tapi dia memiliki tubuh yang lebih kecil. Wajahnya pucat seperti tak ada semangat hidup. Berbeda sekali dengan Rayan yang aktif dan tak mau diam meskipun berada di meja makan. Selalu bertanya ini dan itu, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
"Oh, sekarang kamu jadi pelayan di sini." Gelak tawa kembali pecah dari wanita yang usianya tak jauh berbeda.
"Aku kira hidup kamu udah berubah, naik level tinggi selepas diusir Mas Zafran dan ditalak. Ternyata cuma pelayan restoran aja, apa hebatnya kalo gitu?" sindirnya lagi.
__ADS_1
Wanita yang tak lain Lita itu mencibirkan bibir, mengejek Seira. Matanya mendelik angkuh, sama sekali tidak berubah. Merasa diri selalu di langit, padahal kehidupannya jauh lebih rendah dari Seira.
Wanita itu tak menyahut, bergeming tak berkedip menatap dia yang dulu adalah sahabatnya. Buku di tangan diremasnya, menahan emosi yang meletup-letup.
"Sei, Sei, kamu emang pantes jadi pelayan. Dari dulu pantesnya emang jadi babu, untung Zafran nyerein kamu. Udah nggak bisa hamil, nggak bisa rawat diri lagi. Kamu nggak bisa ngapa-ngapain, kan, tanpa Zafran," ejek wanita tua yang tak lain mantan Ibu mertua Seira itu.
Zafran mendengus, tersenyum pahit melihat kenyataan di depan matanya. Ternyata hidup Seira tak lebih baik darinya, ia menepis pemikiran itu yang sempat hadir saat bertemu dengan anak yang mirip Seira siang tadi.
Sementara wanita itu menahan gemuruh di dada, mengunci rapat-rapat mulutnya agar tidak menyahut penghinaan mereka. Meski ia mengatakan bahwa dia pemilik restoran itu, tak akan mungkin orang-orang angkuh itu percaya. Jadilah ia memilih diam dan membiarkan dirinya dihina habis-habisan.
"Makanya kalo jadi istri yang berguna sedikit, minimal bisa hamil kayak aku gini," ucap Lita dengan bangganya.
Riak wajah Zafran berubah, matanya yang tadi dipenuhi kerinduan, berganti merendahkan. Namun, laki-laki itu tak mengeluarkan sepatah kata jua dari bibirnya, berpikir mungkin anak kecil itu hanya mirip saja dengannya.
"Lagian kamu, sih, dulu sekolah nggak lulus. Nggak punya ijazah, kan, buat cari pekerjaan yang lebih baik. Coba lihat hidup kita, masih sama kayak dulu. Masih bisa makan enak di restoran mewah ini, kalo kamu? Hmm ... paling-paling cuma masakan kampung yang belinya di tukang sayur keliling." Semakin gencar mulut Lita menghina Seira.
Puas rasanya malam itu dia merendahkan mantan sahabatnya. Terlebih saat Seira sama sekali tidak menyahut, hanya diam mematung seolah-olah menerima semua hinaan mereka.
"Maaf, saya kira sudah cukup menghinanya. Sekarang, Ibu, Bapak, mau pesan apa? Saya khawatir terlalu lama menatap saya justru akan menghilangkan selera makan Anda semua." Bibir Seira berucap lugas, kenapa suaranya tetap terdengar manis di telinga Zafran.
Berdenyut jantung laki-laki itu mendengarnya, hati memanas ketika mata menatap pada wajah yang dihiasi senyum khas seorang Seira. Tak lekang oleh waktu, senyum itu masih terpatri indah di sana. Selalu membuat hati Zafran berbunga dan menghangat dengan sendirinya.
Tawa Lita dan Ibu kembali terdengar, tawa mengejek.
"Kamu bener, emang lama-lama lihat muka kamu itu bikin mood makan aku jadi rusak, tapi aku belum puas ngehina kamu. Kenapa kamu nggak nangis?" Wajah wanita itulah yang membuat Seira muak. Apa dikuliti saja hari itu, ya.
"Maaf, kenapa saya harus nangis?" Seira balik bertanya.
__ADS_1
"Ya, harus, dong. Secara kamu iri lihat aku bahagia sama Mas Zafran. Lihat, kami juga udah punya anak. Cantik dan sehat. Kalo kamu? Masih tetep sendiri aja," sindirnya lagi.
Sekali lagi mata Seira melirik anak di pangkuan Ibu, dia terlihat tidak sehat. Apa mereka tidak memperhatikan wajahnya yang pucat itu? Sungguh kasihan, terlalu memaksakan diri agar diakui oleh orang lain.
Seira tersenyum, anak itu tidaklah berdosa, tapi harus menanggung rasa malu dari kesalahan orang tuanya.
"Jadi, mau pesan apa? Mau saya yang catat atau Ibu saja?" Seira kembali pada tugasnya.
Hal itu membuat Lita kesal, ia merebut buku di tangan Seira juga penanya. Menulis menu apa saja yang ingin mereka makan malam itu.
"Ini, jangan salah. Awas aja kalo kamu salah ngasih kami makanan!" ketus Lita sambil memukulkan buku itu pada telapak tangan Seira.
"Baik."
Sekali lagi Seira melirik mantan suaminya, memastikan wajah yang dulu selalu menatapnya penuh cinta itu, tapi kini ia tak jauh berbeda dengan Lita dan Ibu. Memandangnya rendah dan hina.
Ia berbalik, sesekali melayani meja lain melihat semua karyawan tengah sibuk. Seira berpapasan dengan Gilang, laki-laki seusia Fatih itu tampak terkejut melihat nyonya majikannya memegang buku yang seharusnya dipegang oleh karyawan.
"Ibu? Ya Allah, Ibu ngapain? Biar mereka aja, Bu. Ibu nggak usah ngapa-ngapain," serbu Gilang seraya merebut buku tersebut dari tangan Seira. Wajahnya tampak cemas dan ketakutan.
Dari mejanya, Zafran dan Lita diam-diam memperhatikan. Mantan sahabatnya itu tetap mencibir, menganggap Seira mencari-cari perhatian karena ingin naik derajat dalam hidupnya.
"Nggak apa-apa, Pak. Tadi sibuk semua, dan meja di sana terus manggil-manggil. Jadi, ya udah aku pergi ke sana buat nyatet pesanan mereka," jawab Seira tanpa beban.
"Ya udah, Ibu di sini aja, kalo nggak ke ruangan Bapak aja. Biar saya yang terusin," saran Gilang tak ingin menghadapi kegilaan Fatih karena merasa tersinggung dengan keteledorannya.
Seira mengangguk, ia pun tak ingin berada di sana lagi setelah bertemu dengan orang-orang yang tak ingin ia jumpai. Benar, ternyata Zafran dan keluarganya pindah ke kota ini. Gilang pergi membawa catatan dari Seira.
__ADS_1
Baru saja kakinya hendak melangkah pergi, sebuah keributan mengalihkan perhatiannya. Seira berbalik, melihat seorang pelayan sedang dimarahi oleh pelanggan.
"Apa yang terjadi?"