
Dengan tergesa Lita menarik tangan Naina untuk segera tiba di ruangan Zafran. Waktu terus berlanjut, dan ia tak ingin terlambat bekerja. Ketukan sepatunya di lantai menggema memenuhi lorong.
Secara kebetulan Hendra berpapasan dengannya, dokter itu melihat punggung Lita yang tergesa dengan kerutan di dahi.
"Lita!" tegurnya yang secara kontan menghentikan laju kaki jenjang itu.
Lita menoleh dan bernapas lega melihat orang yang bisa dia mintai bantuan. Ia kembali berjalan menghampiri laki-laki berseragam yang juga melangkah pelan ke arahnya.
"Kenapa buru-buru?" tanyanya melihat Naina yang bernapas pendek-pendek mungkin karena sesak.
"Ini udah siang, Dokter. Saya harus segera ke tempat kerja, saya titip Naina. Dia mau ketemu sama ayahnya. Bisa, kan, Dok?" tanya Lita dengan wajah yang dibanjiri keringat.
Dokter tersebut mengangguk sambil tersenyum saat menatap Naina.
"Ya udah, kamu pergi aja kerja. Biar Nai aku yang antar," sahutnya sembari memberikan tangan pada gadis itu.
Naina menyambar tangan Hendra dan menggandengnya.
"Sayang, jangan nakal, ya. Nanti sore Ibu jemput," ucap Lita sembari mengusap pipi Naina.
Gadis kecil itu mengangguk dan menyalami Lita sebelum berpisah.
"Ah, ya. Kalo kamu mau jemput, nanti jemput di taman kota, ya. Zafran lagi di sana sama Rayan," ucap Hendra memberitahu.
Lita termangu, rasa cemas terus saja menghampiri hatinya. Ia melirik Naina yang juga terdiam. Pikiran-pikiran buruk pun terus menghasut, bagaimana jika Zafran lebih asik dengan anaknya dan tidak mempedulikan keberadaan Naina?
Lita mengigit bibir, Dokter Hendra dapat membaca kecemasan yang sedang dirasakan ibu dari Naina itu.
"Kamu tenang, aja. Dari pagi Zafran udah nungguin Naina. Dia pasti senang kalo Naina ikut main sama-sama mereka." Dokter Hendra menenangkan.
Lita mengangguk meskipun ragu. Tak rela hati jika nanti Zafran bertindak pilih kasih terhadap anaknya. Apalagi, dari rumah Naina sudah antusias ingin menunjukkan hasil belajarnya.
Mereka berpisah, berkali-kali Lita menoleh ke belakang dengan cemas. Namun, seperti yang dikatakan Dokter Hendra, ia akan mempercayainya. Berharap semoga apa yang ditakutkan tak akan pernah menjadi nyata.
"Om Dokter, apa nggak apa-apa Nai ke sana? Nanti ganggu mereka lagi," tanya Naina sambil menoleh pada Hendra yang sedang mengemudi mobilnya.
__ADS_1
Hendra tersenyum, melirik sekilas wajah lesu gadis kecil di sampingnya. Entah seperti apa raut wajah itu, Hendra tak dapat mengartikan.
Hendra mengusap rambut Naina, seraya berkata, "Kamu tenang aja, ya. Ayah udah nungguin Nai dari pagi. Ayah pasti seneng banget Nai jenguk." Dokter tersebut tersenyum meyakinkan hati kecilnya.
"Kamu bawa apa?" tanya Hendra melirik tas dalam dekapannya.
"Ini buku, Om. Nai mau tunjukkin hasil belajar Nai sama Ayah," jawab Naina mengeratkan dekapannya pada tas sambil tersenyum lebar.
"Wah, pasti Nai anak yang pintar. Ayah pasti bangga," puji Hendra menerbitkan senyum penuh harap di wajah gembil Naina.
Mobil mereka tiba dan segera saja mencari lahan untuk parkir. Keduanya turun, terus menyusuri taman mencari keberadaan Zafran dan yang lainnya.
"Ambil, Yah. Tendang! Ayo, Ayah bisa!" Suara Rayan yang menyeru membuat Naina berkecil hati.
Ia dapat membayangkan betapa mereka sedang berbahagia sekarang. Langkahnya terhenti saat beberapa meter lagi mereka tiba di lokasi. Hendra mengernyit, menunduk untuk dapat melihat wajah Naina. Gadis kecil itu menggelengkan kepala, ada rasa takut dan cemas yang terpancar di kedua matanya.
Rayan yang hendak mengambil bola, termangu saat melihat mereka di kejauhan. Ia mendatangi Zafran dan memberitahu perihal kedatangan Naina.
"Ayah, ada Om Dokter sama anak kecil. Mereka di sana." Rayan menunjukkan keberadaan mereka berdua, tersenyum bibir Zafran melihat kedatangan gadis kecilnya.
Fatih memperhatikan mereka berdua, ia duduk di sebuah bangku sambil menenggak minum yang dibekalkan Seira.
Rayan mengangguk, dengan membawa bola di pinggang ia menghampiri Hendra dan Naina.
"Hai, aku Rayan. Kakak anak Ayah, kan? Kenapa berdiri di sini? Ayo, kita main sama-sama," ajak Rayan setelah memperkenalkan dirinya.
Tangan putih bersih itu terangkat hendak berjabat dengannya. Naina melirik Dokter Hendra ragu. Mendapat anggukan kepala, ia pun bertatapan dengan anak laki-laki Zafran. Membalas jabatan tangannya, dan menyebut namanya sendiri.
"Naina. Makasih, ya, udah terima aku," katanya sambil tersenyum.
Rayan tak melepaskan tangan itu, ia menggandeng tangan Naina mendatangi tempat Zafran berada. Fatih tersenyum, mereka memang hanya saudara asuh saja, tapi tak apa. Keduanya sama-sama peduli pada Zafran.
Zafran memeluk gadis kecil itu, mencium kedua pipinya. Merasa diterima, hati Naina menjadi hangat. Balas memeluk Zafran dan mencium pipi kanannya.
"Naina mau tunjukkin hasil belajarnya sama kamu, Zafran," ujar Hendra yang baru saja tiba di lokasi tersebut.
__ADS_1
Zafran mendongak, dokter tersebut melanjutkan langkah mendekati Fatih. Keduanya duduk berdampingan mengawasi mereka bertiga.
"Oya? Mana coba, Ayah mau lihat," ucap Zafran terharu.
"Rayan juga mau lihat, Kak. Boleh, kan? Sebentar lagi Rayan juga mau sekolah," pinta Rayan sembari mendekat.
Naina mengangguk, ia membuka tas dan mengeluarkan semua bukunya. Satu per satu Rayan dan Zafran bergantian melihat dan memeriksa hasil belajar gadis kecil itu.
"Wah, Kakak udah bisa nulis! Rayan baru bisa nulis nama Rayan aja." Bocah itu terkekeh sendiri.
"Anak Ayah emang pinter, nilai kamu tinggi semua. Ayah bangga sama kamu, Nak," ucap Zafran memberi pelukan pada gadis kecilnya.
Betapa senangnya hati Naina, semua itu menjadi kebanggaan tersendiri untuknya. Dia akan lebih rajin lagi untuk membuat mereka bahagia. Rayan menatap keduanya, tersenyum tipis melihat wajah bahagia Zafran.
"Sini, sayang. Kamu juga pasti jadi anak pinter. Kalian berdua kebanggan Ayah. Kelak, kalo Ayah udah nggak ada, Ayah harap kalian nggak akan berselisih. Tetap akur kayak gini karena Ayah sayang kalian berdua," ucap Zafran memanggil Rayan dan memeluk keduanya.
Di jalanan sekitar taman sebuah mobil hitam melintas dengan pelan. Dari sana, para penumpang dapat melihat Zafran dan yang lainnya.
Ibu panik, hatinya merasakan keberadaan sang anak. Matanya awas melihat sekitar. Melilau ke segala arah mencari-cari sosok yang amat dirindukannya.
"Ah ... a-a-a-a ...." Tangan Ibu yang bergetar menunjuk taman sambil meracau tak jelas.
"Ada apa, Bu?" tanya Ida sambil memperhatikan Ibu.
"A-a-a-a ...."
Ida melihat ke arah yang ditunjuk Ibu, lantas memberi instruksi pada sopir untuk berhenti. Ia kembali melihat Ibu, bergantian dengan taman di mana seorang laki-laki di atas kursi roda sedang memeluk dua anak kecil.
"Apa ... dia anak Ibu?" tanya Ida merasa iba melihat kondisi anak dari wanita tua itu.
Ibu mengangguk cepat, Ida dan supir gegas menurunkan Ibu dan mendudukkannya di atas kursi roda. Air bercucuran dari kelopak mata yang telah keriput itu, rasa dalam jiwa membuncah. Semakin dekat semakin kencang degup jantungnya.
Kedua belah bibirnya terbuka, berkedut-kedut ingin memanggil Zafran.
"A-a-a-a ... a-anak-kuh!"
__ADS_1