Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Tersangka Utama


__ADS_3

Fatih dan Gilang tiba di rumah sakit, mereka segera menanyakan keberadaan Hendra dan bergegas menuju ruangannya. Ruangan khusus tempat beristirahat, mereka diantar seorang petugas hingga ke depan pintu ruangan.


Tok-tok-tok!


"Dokter, ada yang mencari. Katanya penting," ucap petugas tersebut setelah mengetuk pintu.


"Masuk aja!" Suara Hendra memerintah. Ia mengira suster yang ditunggunya yang datang.


Petugas membukakan pintu untuk kedua orang itu, dan mempersilahkan mereka masuk. Hendra dan Nisa terkejut melihat siapa yang datang. Kedatangan mereka sungguh tak terduga.


"Selamat sore, Dokter! Boleh saya duduk?" ucap Fatih tanpa basa-basi.


Hendra melirik Nisa, wanita itu pun termangu tak percaya. Dokter itu mengembalikan pandangan pada mereka, seraya mempersilahkan untuk duduk.


"Selamat sore. Mmm ... saya tahu, kedatangan kalian pastilah berkaitan dengan video Zafran, tapi kali ini bukan saya yang melakukannya. Sungguh, kami juga sedang menunggu tersangka yang kami curigai," ucap Hendra mendahului dengan raut wajah tegang.


Tak berbeda jauh dengan Nisa, wanita itu merasa cemas Fatih akan menyalahkan suaminya. Namun, melihat Fatih tersenyum, kecemasan mereka berganti dengan kebingungan.


"Saya tahu," ucap Fatih sembari menelisik wajah tegang Hendra, "dan saya datang ke sini cuma mau menanyakan satu hal sama kamu. Benar, memang semua ini berkaitan dengan video mantan suami istri saya," lanjut Fatih menekan kata mantan suami menegaskan posisi Zafran di kehidupan Seira.


Hendra mendesah lega, ia mengurut dada sambil berucap, "Syukurlah."


Hendra melirik Nisa, istrinya itu pun turut merasa lega.


"Jadi, apa yang mau kalian tanyakan?" Hendra terlihat lebih tenang setelah mengetahui maksud kedatangan mereka.


"Ekhem!" Fatih berdehem, Gilang sigap mengeluarkan ponsel dan mencari-cari gambar sebagian video Zafran.


Ia menunjukkannya kepada Hendra.

__ADS_1


"Dokter tahu, ini ruangan siapa? Lihat gambar ini? Nggak mungkin Dokter nggak tahu, 'kan?" tanya Gilang sambil menunjukkan gambar di ponselnya.


Hendra menerima dan menelisik bersama Nisa, keduanya saling bergumam tak jelas di telinga Fatih dan Gilang. Sepertinya Hendra berdebat soal lokasi pembuatan video bersama Nisa.


"Astaga! Aku tahu siapa!" pekik Hendra dengan kedua mata membelalak lebar.


Nisa mengangguk saat dua orang itu melihat ke arahnya.


"Kalo gitu bisa kita ketemu sama orangnya?" ujar Fatih tak sabar rasanya.


"Bisa, bisa. Mari saya antar," sahut Hendra dengan cepat.


Ia berdiri dan mengajak Nisa berjalan lebih dulu setelah memberikan ponsel Gilang kepada pemiliknya.


"Dokter, apa benar dia orang yang berpengaruh di rumah sakit ini?" tanya Fatih di perjalanan mereka.


Fatih dan Gilang saling menoleh satu sama lain, bertatapan beberapa saat lamanya dan kembali seperti biasa.


"Dokter, di mana ruangan laki-laki itu berada?" tanya Gilang teringin tahu keberadaan Zafran.


"Dia berada di ruangan isolasi, bukan di sini," jawab Dokter Hendra tanpa menjeda langkah.


Mereka menuju lift dan menaikinya, lantai tiga menjadi tujuan Dokter Hendra di mana orang yang mereka cari berada. Di sanalah tujuan mereka, di hadapan sebuah pintu yang paling besar di antara pintu yang lainnya.


Dokter Hendra mengetuk pintu, meminta izin si pemilik untuk memasuki ruangan tersebut.


"Masuk!" Sahutan dari dalam ruangan membuat mereka merasa menegang.


Dokter Hendra membuka pintu, dan mempersilahkan Fatih untuk memasuki ruangan tersebut lebih dulu. Tubuh Fatih terhenti tak jauh dari pintu melihat sosok yang berada di balik meja kaca di ruangan itu.

__ADS_1


Tak jauh darinya, laki-laki yang sedang menjadi pemberitaan hangat duduk anteng di kursi roda. Mereka tampak akrab, merasa dilindungi oleh orang berpengaruh di rumah sakit, Zafran tak gentar berhadapan dengan Fatih.


Dia mengangkat dagu seolah-olah menantang seorang Fatih. Di belakangnya, Dokter Hendra dan Nisa tak kalah terkejut. Disaat seluruh warga disibukkan oleh videonya yang tersebar begitu cepat, dia malah asik duduk tertawa-tawa dengan gembira.


"Dokter, kenapa pasien bisa ada di sini? Bukankah dia seharusnya ada di ruangannya?" tanya Hendra sembari berjalan mendahului Fatih yang masih mematung.


Dokter itu bersandar pada sandaran kursi sembari menumpuk kedua kaki. Ia menunjuk deretan kursi kosong untuk diduduki Fatih dan Gilang, juga Hendra dan Nisa.


"Apa lagi? Saya yang minta dia dateng ke sini? Karena saya nggak tega lihat dia menderita cuma pengen ketemu anaknya," sahut dokter tersebut sembari melirik Fatih dengan tajam.


Lirikan mata itu, seolah-olah semua kesalahan dilimpahkan kepadanya. Fatih bergeming, balas menatapnya dengan berani. Zafran tersenyum penuh kemenangan mendengar pengakuan dokter yang menolongnya.


"Tapi Anda nggak tahu permasalahan mereka, Dokter. Lagipula nggak ada yang ngelarang anak itu untuk bertemu dengan ayahnya, tapi dia yang belum siap menerima kenyataan ada ayah lain untuk hidupnya. Kenapa Dokter nggak mikirin psikologis anak tersebut? Dia pasti terguncang, belum lagi misalnya wartawan memburu mereka. Menurut Dokter, apa itu baik dilakukan?" Nisa berbicara panjang lebar, ia teringat pada Hana di rumah yang mengaku sering dibuli temannya.


Fatih melirik wanita itu, mungkin jika Seira di sana dia juga akan melakukan tindakan yang sama seperti yang dilakukan Nisa. Wanita itu berdiri dengan dada yang naik turun karena emosi. Hendra di sampingnya termangu, kemudian mengusap tangannya agar ia mendapat ketenangan lagi.


"Anda tahu apa yang Anda lakukan telah menyakiti hati banyak orang. Ada dua anak yang tersakiti oleh beredarnya video tersebut, ada juga hati lain yang merasa kecewa. Pernahkah Anda tanyakan padanya kenapa dia sendirian disaat sakit seperti ini? Pernahkah Anda tanyakan bagaimana semua orang bisa meninggalkannya sendirian?"


Dokter tersebut mengalihkan pandangan pada Fatih, begitu pula dengan Zafran yang terlihat tak mengerti ke mana arah pembicaraan Fatih. Mungkin akan menguak masa lalunya.


"Ada hati kecil yang kita nggak tahu di mana dia sekarang, pastinya akan merasa kecewa setelah melihat video tersebut." Pandangan Fatih beralih pada Zafran, "kamu lupa apa anak yang kamu rawat dari lahir meskipun dia bukan anakmu? Dia sayang sama kamu, Zafran. Dia masih mengharapkan ayahnya bisa berkumpul lagi bersama, tapi dengan beredarnya video itu aku yakin dia merasa kecewa dan memupus harapannya."


Fatih menggelengkan kepala. Ia tak habis pikir ada orang-orang yang tak berpikir disaat hendak melakukan tindakan. Zafran teringat pada Naina, terakhir kali bertemu dia meminta maaf padanya. Benar, anak itu bahkan tak peduli walaupun Zafran mengusirnya.


"Kami sedang berusaha membujuk Rayan, meyakinkan hatinya yang belum siap untuk dapat menerima semua kenyataan yang secara tiba-tiba datang di kehidupannya. Kami sama sekali nggak melarang mereka untuk bertemu, kami hanya sedang menunggu waktu yang tepat dan kesiapan mental Rayan. Itu aja, tapi dengan beredarnya video itu, kamu tahu apa yang sekarang terjadi padanya? Dia bahkan menutup diri dari dunianya. Apa itu yang kamu inginkan, Zafran? Menyiksa anakmu sendiri," ungkap Fatih yang membungkam mulut semua orang termasuk kesombongan Zafran.


"Dokter Ferdi, saya tahu Anda memang punya wewenang di rumah sakit ini, tapi setidaknya jangan mendengarkan sebuah masalah dari satu pihak saja. Lalu, merugikan pihak yang lainnya. Saya sudah berbicara secara pribadi dengan mereka, dan memang anak itu yang belum siap untuk bertemu. Kami akan menjelaskan ini pada Zafran dan memintanya untuk bersabar, tapi ...." Hendra menghendikan bahu tak tahu.


"Kalian egois!"

__ADS_1


__ADS_2