
Di dalam ruangan itu, Zafran tercenung. Wajahnya sama sekali tidak terlihat menyesal, ia justru mencibir Lita yang pergi dengan mudahnya.
"Dasar perempuan nggak tahu diuntung, udah bagus nggak aku talak kamu. Mata duitan, kalo bukan karena kamu nggak mungkin aku bangkrut sampe kayak gini," umpat Zafran sungguh tidak memiliki kesadaran akan kesalahannya sendiri.
Ibu yang mendengar umpatannya, teringin sekali memaki anak lelakinya itu. Ia hanya bisa meluapkan emosi dalam tangis yang pilu. Wajahnya tak lagi merindu, hanya ada kecewa yang tak terbatas terhadap Zafran.
"Dasar tukang bohong, ngaku hamil anakku nggak tahunya anak orang. Anak siapa coba Naina itu? Nggak jelas ayahnya," lanjutnya lagi terdengar kesal dengan keputusan Lita yang pergi tanpa menoleh.
Tak ingat pada tubuhnya yang kini hanya duduk di atas kursi roda. Seluruh otot dan sendi di tubuhnya terasa lemas. Akan tetapi, mulut dan hatinya tetap kotor tak dapat menyaring apa yang terbetik. Sungguh miris, seharusnya dia menyesali perbuatannya.
Seharunya dia mengambil pelajaran dari kejadian Seira dulu, tapi rasanya ia tak mengapa ditinggalkan pergi oleh Lita. Namun, bagaimana dengan wanita tua di belakangnya?
Zafran berbalik, mungkin dia lupa jika ada ibunya di sana. Laki-laki itu tersedak liurnya sendiri saat dihadapkan pada kedua manik Ibu yang memancarkan kekecewaan yang dalam.
"Kenapa Ibu di sini? Kenapa tadi nggak ikut Lita?" tanya Zafran bingung.
Aku benar-benar lupa kalo ada Ibu di sini. Kalo Lita pergi, siapa yang akan mengurus Ibu? Nyusahin aja.
Ibu menggelengkan kepala, tak sadarkah Zafran jika ia tak mampu melakukan apapun selain duduk di kursi roda itu? Hanya air matanya yang terus mengalir sebagai tanda dia benar-benar kecewa dan bersedih karena sikap Zafran yang tak pernah berubah.
Oh, apakah dia salah dalam mengasuh anak? Bagaimana mungkin Zafran bersikap keras seperti itu, padahal kondisinya saja sudah sangat memprihatinkan. Lihat saja tubuhnya yang semakin kurus, tak berkacakah ia?
"Ibu lihat, 'kan? Dulu, Seira pergi ninggalin aku. Aku talak dia, aku usir dia tanpa salah apa-apa. Padahal, waktu itu dia lagi hamil anak aku. Sekarang, Lita juga pergi ninggalin aku tanpa sebab. Seharusnya yang marah itu aku, bukan dia. Dia udah khianatin aku, dia selingkuh di belakang aku, asik masyuk di luar sana, sedangkan aku mendekam di penjara."
Zafran mengadu, mengeluhkan hidupnya pada sang ibu. Wanita yang menurutnya paling bertanggungjawab akan jalan cerita hidupnya.
__ADS_1
"Sekarang Zafran sendirian, Bu. Aku nggak bisa ngurus Ibu karena aku sendiri pun nggak bisa ngurus diri sendiri. Terus gimana, Bu? Apa Ibu mau tetap di sini? Tapi apa rumah sakit kasih izin?" ucap Zafran penuh dengan keragu-raguan.
Ibu mengumpat sekaligus menyesal, kenapa Zafran masih saja melakukan tindakan bodoh. Mengambil keputusan tanpa berpikir lebih jauh, tak memikirkan untuk ke depannya akan seperti apa.
Tangis Ibu semakin dalam, sungguh ia merasa tidak becus dalam mendidik anak. Merasa sudah gagal sehingga sosok Zafran menjadi sosok yang tidak berguna sama sekali.
Kamu nggak tahu aja, Nak. Gimana perjuangan Lita dalam mengurus Ibu, dia banting tulang sendirian cuma supaya bisa dapat uang. Supaya Ibu sama Naina bisa makan, juga bisa berobat. Ya Allah, lembutkan hati anakku.
Ibu berbicara pada hatinya sendiri, memohon pada Yang Kuasa supaya Zafran diberi hidayah agar mau kembali ke jalan yang benar.
"Aku mau minta bantuan sama Hendra, biar dia mau membantu buat merawat Ibu sampe aku sembuh," ucap Zafran dengan yakinnya.
Ibu menggeleng-gelengkan kepala tidak mau, juga tidak percaya pada apa yang didengarnya. Sungguh, ia tak menduga anak yang dia besarkan akan bersikap egois.
Berselang, Hendra masuk ke ruangannya dengan wajah yang mengeras. Mendengar suara pintu terbuka, Zafran kembali berbalik. Dia kira itu Lita yang menyesali keputusannya untuk pergi. Nyatanya, sosok itulah yang juga ditunggunya.
"Dasar bodoh! Kenapa kamu biarin istri dan anak kamu pergi? Siapa yang akan mengurus kamu juga Ibu kamu, Zafran?!" bentak Hendra menyela ucapan sahabatnya itu.
Zafran menunduk, menepis rasa yang hadir perlahan.
"Aku nggak minta dia pergi, aku cuma butuh waktu buat nerima semua kenyataan yang terjadi padaku. Itu aja, apa salah?" Zafran tak kalah meradang.
Tenggorokannya yang sejak kemarin sudah merasakan sakit itu, semakin pedih saat harus berteriak seperti tadi. Ia terbatuk, terlalu memaksakan diri untuk meluapkan emosi.
Hendra berdecak kesal, menggelengkan kepala tak percaya.
__ADS_1
"Kamu egois, Zafran. Kamu udah nyakitin dua perempuan ... nggak, empat perempuan dalam hidup kamu. Coba pake akal pikiran kamu, Zafran. Jangan cuma nurutin ego kamu aja!" Hendra mendengus. Dia benar-benar kecewa terhadap Zafran.
"Empat? Jangan seenaknya kamu kalo ngomong, apanya yang empat?" kilah Zafran menatap tajam dokter berkacamata itu.
Suaranya tertahan meski ingin meledak, khawatir akan kembali terbatuk dan membuatnya semakin sakit.
"Kamu bener-bener ... pertama kamu sakitin Seira dengan berselingkuh sama istri kamu itu. Lalu, kamu sakitin istri kamu waktu main serong sama si Mala. Kamu juga udah nyakitin si Mala karena ngasih harapan palsu sama dia. Sekarang, kamu biarin istri kamu pergi gitu aja. Itu jelas nyakitin hati Ibu kamu, Zafran."
"Kamu pikir selama kamu di penjara, siapa yang ngerawat Ibu kamu? Kamu pikir Lita ngebiarin Ibu kamu gitu aja, hah? Nggak, Zafran. Lita yang ngurus semuanya. Kalo sekarang dia pergi, siapa yang akan ngurus Ibu kamu? Kamu?!" Hendra tertawa sumbang.
ingin rasanya dia tertawa keras, agar Zafran sadar akan kesalahannya dan mau menerima Lita kembali.
"Kamu sendiri aja nggak becus ngurus diri, gimana kamu mau ngurusin Ibu kamu? Harusnya kamu berpikir sebelum mengambil keputusan, Zafran. Jangan cuma mikirin diri kamu sendiri. Juga soal Naina, walaupun dia bukan anak kamu, tapi dia sayang sama kamu. Kamu tega nyakitin hati dia yang masih rapuh itu, Zafran?" lanjut Hendra berapi-api.
Zafran kembali tertunduk, entah menyadari atau tidak, tapi perasaannya biasa saja terhadap Lita. Tak seperti saat Seira yang meninggalkannya dulu. Ia menggelengkan kepala tak tahu harus apa.
"Aku nggak tahu, Hendra. Aku nggak tahu." Dia mendongak, memelas pada dokter tersebut lewat sorotan matanya.
"Aku minta tolong sama kamu, Hendra. Tolong rawat Ibu sampai aku sembuh. Aku nggak mungkin ngebiarin Ibu tinggal di sini apalagi di luar sana sendirian. Tolong, Hen," pinta Zafran sembari menangkupkan kedua tangan di depan wajah.
Hendra mendengus, tersenyum mencibir isi kepala Zafran yang pendek.
"Kamu emang manusia yang nggak tahu caranya bersyukur, Zafran. Dikasih istri setia, selingkuh. Dikasih istri yang rela menghabiskan waktu buat ngurus keluarga dibiarin pergi. Mau kamu itu sebenarnya apa, Zafran?" Hendra berkacak pinggang lelah.
Menatap iba pada sahabatnya yang amat menyedihkan.
__ADS_1
"Aku cuma mau anak aku, Hendra. Kalo bisa Seira juga harus kembali sama aku!" ucap Zafran sukses membuat kedua pasang mata di sana membelalak.
"Gila kamu! Bener-bener gila!"