
Aku udah maafin kamu, Lita. Aku juga maafin ibu mertua kamu. Kamu tahu, aku nggak nyangka kamu punya anak yang cantik dan pintar kayak Naina. Coba buka mata kamu, lihat baik-baik gadis kecil di depan kamu itu.
Dia cantik, 'kan? Kalo udah besar nanti dia pasti jadi gadis paling cantik, dan kamu harus lihat itu. Kalo kamu nyiksa diri kamu sendiri, aku yakin kamu nggak akan pernah bisa lihat dia tumbuh. Bangun, Lita. Buat diri kamu berguna, kalo kamu nggak mau aku rebut Naina.
Aku tahu kamu sayang gadis kecil itu, tapi kamu udah tega nyiksa dia secara fisik dan batin. Kamu tega ngebiarin dia lihat kamu terpuruk, kamu tega ngelepas dia berlarian di bawah hujan deras.
Demi anakmu, demi gadis kecil itu, bangun! Dia terlalu istimewa untuk seorang Ibu yang lemah kayak kamu. Kalo kamu merasa pantas jadi ibunya, kamu harus lebih kuat dari Naina. Kamu harus jadi pelita untuk jalannya yang gulita, kamu harus jadi guru yang bijak untuknya mengadu soal ketidakadilan di dunia. Kamu harus jadi rumah yang nyaman ketika dia kembali dari lelahnya kehidupan.
Bangun, Lita! Dengan kamu nyiksa diri kamu sendiri kayak sekarang, kamu tanpa sadar udah nyiksa anakmu sendiri. Kamu tahu apa yang dia bilang? 'Nai nggak mau kehilangan Ibu. Nai nggak mau Ibu ninggalin Nai.' Dia sayang sama kamu, Lita. Makan, dan jangan buat dia kecewa.
Aku udah maafin kamu, aku udah maafin kalian semua. Ketuklah pintu langit, agar hati kamu tenang.
*****
Tulisan tangan itu tak seindah miliknya, tapi setiap kata yang tertuang di dalamnya, membuat Lita sadar bahwa dia memang memiliki gadis kecil yang cantik dan pintar. Lita menangis tergugu sambil mendekap selembar kertas tulisan tangan Seira di dadanya.
Naina yang melihat Lita histeris, berubah kecewa. Menganggap semua ucapan Seira adalah bohong dan tidak terbukti ibunya mau makan. Hampir satu jam lamanya Lita meratap dalam tangis yang pilu. Gadis kecil hadapannya tak berbicara, hanya diam-diam menangis tanpa suara.
Ibu yang melihat pun tak kuasa menahan kesedihan, dia ingin membaca surat itu juga. Dia ingin tahu seperti apa bunyi tulisan tangan mantan menantunya. Namun, tak ada yang bisa dia lakukan, selain menangis seorang diri di atas kursi roda yang menopang kehidupannya.
"Katanya, Ibu nggak akan sedih lagi kalo udah liat itu. Katanya, Ibu pasti makan kalo udah liat itu, tapi kenapa Ibu malah nangis?" gumam Naina sambil terisak-isak.
Kedua tangannya bergantian mengusap mata yang berair, tersedu-sedan menumpahkan kesedihan. Lita yang mendengar, perlahan meredakan tangis. Memandang anak semata wayangnya yang tampak cantik.
Seira, kamu benar. Dia pasti tumbuh jadi gadis yang cantik. Aku harus sehat dan menemani pertumbuhannya. Aku nggak mau kamu rebut Naina dari aku. Aku berjanji Naina nggak akan jadi perempuan kayak aku. Aku berjanji.
"Sayang, Ibu laper. Kamu bawa kue apa?" tanya Lita dengan lirih dan terbata karena rasa haru meluap dalam hati.
__ADS_1
Ia menyapu air yang lagi-lagi jatuh tak terkendali, terlebih saat tangis Naina langsung berhenti mendengar suara ibunya.
"Kenapa, Bu? Apa Ibu mau makan?" tanya Naina sambil sesenggukan.
Lita tersenyum, bibirnya tampak pucat tak bersinar. Matanya sayu dan lesu, wajahnya kuyu berantakan. Ia mengangguk pelan, menahan sakit yang mendera kepalanya agar Naina tidak lagi merasa sedih.
Naina mengambil tas kecil itu dan mengeluarkan isinya sambil menyebut nama kue satu demi satu seraya meletakkan makanan tersebut di depan Lita.
"Ini semua enak, Ibu mau yang mana?" tanyanya antusias meski sisa tangis masih terdengar.
"Boleh Ibu makan semuanya?" Lita tersenyum, lantas mengangguk ketika Naina menoleh ke arahnya sambil mengedipkan mata tak percaya.
"Nai suapin." Dengan penuh semangat, Naina membuka sebuah kue yang dibungkus daun pisang dan menyuapkannya pada Lita.
Meski lidahnya terasa pahit, tapi Lita harus memaksa mulutnya untuk menelan makanan itu. Dia tidak ingin membuat Naina sedih karena rasa sesalnya atas dosa masa lalu.
"Boleh, sayang. Ibu udah kenyang, ini buat Nai sama Nenek, ya. Nai juga harus makan," ucap Lita sambil mengusap rambutnya lembut.
Kebahagiaan untuk kalian, Lita teringin cepat sembuh dan mengajak mereka pindah. Tak mengapa, bukan, memakai uang Naina untuk mencari kontrakan yang lebih baik? Mengingat semua kata yang ditulis Seira, dia cemburu karena sebagai Ibu tidak tahu bahwa Naina seistimewa itu.
*****
Sementara di toko kue Seira, Fatih tak lepas dari menatap wajah cantik yang sedang menyusui anak mereka itu. Hatinya masih penasaran apa yang ditulis Seira untuk seseorang yang sudah menorehkan luka dalam perjalanan hidupnya.
Sungguh, Fatih penasaran.
"Sayang, emang apa yang kamu tulis buat dia? Kenapa kayaknya kamu yakin banget ibunya mau makan?" tanya Fatih untuk yang ke sekian kalinya.
__ADS_1
Seira tersenyum, merasa gemas sendiri. Kenapa suaminya ini kepo sekali teringin tahu tentang tulisannya.
"Mas mau tahu, apa mau tahu banget?" godanya membuat Fatih berdecak tak sabar.
"Ini tingkat darurat, sayang. Mas pengen tahu kenapa kamu yakin banget dia mau makan?" tanya Fatih lagi. Dahinya berkerut dalam, tak sabar ingin mendengar.
Seira menghela napas lagi, tersenyum gemas melihat ketidaksabaran sang suami.
"Aku tulis kalo kamu nggak mau makan, aku akan rebut Naina dari kamu. Udah gitu aja."
Fatih mengernyit tak percaya, hanya sependek itu, tapi dia menulis cukup lama dan panjang.
"Cuma itu?" Bertanya sambil menatap dalam manik sang istri.
"Yah, intinya itu, Mas. Masa aku harus sebutin semua, aku sendiri udah lupa." Seira mendesah, karena memang inti suratnya itu. Dia tahu, Lita tidak akan rela miliknya direbut.
Ketakutan terbesar dalam hidupnya adalah kehilangan apa yang dia miliki. Lita pernah diposisi merebut dan membuat menderita orang lain secara sadar dan sengaja. Tahu betul seperti apa sakitnya dari pancaran manik Seira dulu.
Kekecewaan yang dalam jelas terlihat di sana, raut wajahnya menggambarkan kesedihan yang teramat. Lita tahu seperti apa penderitaan Seira ketika dia merebut dunianya. Saat ini, Naina adalah dunianya. Sudah pasti dia akan hancur saat Seira merebutnya, dan pasti tak akan pernah kembali lagi.
Fatih manggut-manggut mengerti, rasa penasaran mulai menguap dari wajahnya. Kembali tenang setelah mendapatkan jawaban.
"Mas, kayaknya udah reda. Toko juga udah mau tutup, kita balik aja, yuk," ucap Seira setelah melihat keadaan di luar menjadi tenang kembali.
Fathiya telah tertidur, tak ada yang dilakukan bayi itu selain menyusu dan tidur. Bermain, hanya sebentar, kemudian menyusu lagi dan tidur lagi. Terkadang Rayan suka bertanya, apakah dia sama seperti Fathiya saat kecil dulu?
Fatih memandang langit, hujan tak lagi turun, petir dan guntur pun tak lagi terdengar. Hanya air-air yang menggenang di jalanan yang tersisa dan menjadi saksi kegigihan gadis kecil tadi. Mereka kembali ke restoran, rumah sementara yang mereka tempati. Wajah Bi Sari terlihat lebih ceria setelah bertemu dengan Naina dan meminta maaf padanya.
__ADS_1