
"Jago ... darah ...!"
Suara Zafran bergetar dan berat terbawa angin, Jago melirik bingung mendengar kalimat ambigu yang diucapkan Zafran.
"Darah apa, Pak?" bertanya sedikit berteriak karena angin menerpa kuat.
"Naina berdarah, Jago. Cepat, Jago! Lebih cepat lagi," ucap Zafran semakin panik.
Dia mengangkat kaos, meletakkannya di bawah hidung Naina yang terus mengucurkan darah itu. Panik, wajahnya bertambah pucat, ketakutan pun meraja di hatinya.
"Kok, bisa berdarah, Pak? Emang anak Bapak sakit apa?" tanya Jago sembari menambah kecepatan laju motornya.
Zafran panik dan bingung, selama ini yang dia tahu Naina sehat dan tak pernah mengeluh sakit. Hanya saja anaknya itu lebih banyak tidur daripada terjaga dan juga tidak seceria anak-anak yang lain. Selalu terlihat lesu dan lemah, sering terserang flu.
"Aku nggak tahu, Jago. Selama ini dia sehat dan baik-baik aja, aku bener-bener nggak tahu kalo dia sakit," jawab Zafran sambil berurai air mata.
Ketakutan kedua setelah dia mengusir Seira. Takut kehilangan untuk kedua kalinya. Naina adalah harapannya untuk tetap berdiri tegak, hanya demi dia Zafran rela bekerja sebagai OB di sebuah mal. Hanya untuk menjaga kebahagiaan Naina.
"Astaghfirullah, apa Bapak sama Ibu nggak pernah perhatiin anak selama ini sampe-sampe sakit kayak gini nggak tahu? Ya Allah, Pak! Apa aja yang Bapak lakuin? Heran saya, katanya pengen punya anak, tapi udah punya malah disia-siain," ucap Jago sambil menggelengkan kepalanya tak percaya.
Zafran tercenung, air mata terus jatuh menganak sungai, menangis sambil mendekap tubuh lunglai Naina. Menyesali semua yang telah terjadi. Benar yang dikatakan Jago, selama ini dia hanya tahu Naina tidur. Berangkat tidur, pulang pun tidur.
Zafran tidak memiliki waktu libur, setiap hari bekerja dari pagi hingga sore. Terkadang sampai malam jika ada tambahan kerja. Tak pernah bertanya tentang kondisi Naina, tak pernah memperhatikan pertumbuhannya.
"Kalo nggak salah ingat, usia anak Bapak seharusnya udah mau empat tahun, tapi kenapa badannya kecil begitu? Kayak anak satu tahun aja. Beda sama anak Non Sei, kelihatan sehat dan juga ceria."
Jago bergumam keheranan, tapi suaranya yang terbawa angin samar-samar terdengar Zafran yang masih menangis sambil mendekap putrinya. Kalimat-kalimat Jago menyadarkan dirinya bahwa selama ini dia merupakan orang tua yang buruk. Tidak berperan dalam pertumbuhan si buah hati.
Menyesal? Memang sudah seharusnya menyesal.
Mudah-mudahan kamu nggak apa-apa, sayang. Kamu harus sehat demi Ayah, Naina. Kamu harus sehat.
Hatinya berharap, ditatapnya wajah tenang Naina yang terkulai dalam dekapan. Darah masih rembes dari salah satu hidungnya, tapi perlahan mulai berhenti membuat pakaian Zafran dipenuhi noda merah yang tak sedikit.
Ban berdecit cukup kencang di halaman rumah sakit, buru-buru Zafran turun dan berlari ke dalam. Memanggil para tenaga medis untuk segara menangani Naina.
Jago membuntuti tak akan mungkin dia membiarkan Zafran sendirian di sana menunggui anaknya. Mereka duduk di depan ruang IGD, menunggu kabar baik dari pihak tenaga medis.
*****
__ADS_1
Sementara di restoran, dua wanita itu masih berada di tepi jalan. Celingukan mencari-cari angkot ataupun ojek barangkali. Sayang, tak satu pun muncul sejak mereka berdiri di sana.
"Duh, mana, angkotnya lagi? Kok, nggak dateng-dateng?" gerutu Ibu tak sabar. Berkali-kali lidahnya berdecak karena kesal yang ditunggu tak kunjung datang.
"Nggak tahu, Bu. Gimana sama Naina, ya? Aku khawatir, Bu." Lita turut cemas.
Di kejauhan, teman Jago memperhatikan mereka dengan bingung. Ingin menghampiri, tapi khawatir Fatih keluar dan bertanya soal kepalanya.
Baru saja berpikir, Fatih dan Seira muncul diikuti dua wanita tua di belakang mereka dan satu remaja yang menyusul. Rayan tertidur di gendongan, Fatih memperlakukannya seperti anak kandung sendiri.
Seira mengernyit melihat ibunya Zafran bersama Lita yang gelisah di pinggir jalan, tapi tak mendapati sosok Zafran juga anaknya.
Ke mana mereka? Kenapa cuma ada dua perempuan itu aja?
Seira bergumam hanya dalam hati, tak berani menuangkannya lewat lisan karena menjaga perasaan sang suami.
"Kenapa cuma ada mereka? Kelihatanya mereka panik, ke mana dua orang lagi?" Fatih bertanya terheran-heran.
"Iya, kenapa tuh?" Biya menimpali ketus.
"Ya udah, biarin aja. Mungkin mereka lagi nunggu orang," sahut Seira tak acuh.
Fatih mendatangi pos tempat petugas keamanan berada. Seperti yang selalu dia lakukan, akan menitipkan restoran pada mereka. Sebelum itu, dia mengantar Rayan dan semua orang ke mobil.
"Maaf, Pak. Tadi Pak Dirman pesan kalo Bapak sama Ibu tanya, dia pergi ke rumah sakit nganter anak orang yang di pinggir jalan itu, Pak," jelas rekan Jago sambil menunjuk pada dua wanita yang masih berdiri di tepi jalan.
Fatih membulatkan mulut, menitipkan restoran pada mereka sebelum menghampiri mobil.
"Jago antar anak mereka ke rumah sakit," ucap Fatih setelah beberapa saat duduk di balik kemudi.
"Mungkin mereka juga lagi nunggu angkot, tapi dari siang tadi angkot nggak ada lewat sini," sahut Biya yang duduk di antara dua wanita tua di belakang.
Seira tak menyahut, diam dan tak ingin berkomentar. Sejak melihat Naina, dia sudah tahu anak Zafran itu memiliki masalah kesehatan. Pertumbuhannya tak sesuai dengan balita seusianya, dia lebih kecil dan terlihat pucat.
"Apa sebaiknya Aden pinta siapa saja buat antar mereka ke rumah sakit? Bibi kasihan lihatnya. Bukan apa-apa, Bibi cuma keingetan sama Non Sei waktu sakit di desa dulu dan nggak ada yang nganter ke puskemas. Ngenes, Den."
Bi Sari menatap punggung Seira, teringat saat mereka tinggal di desa dulu. Oleh karena tidak memiliki uang, tak satu pun masyarakat yang memiliki kendaraan mau mengantar hingga mereka harus berjalan kaki menuju jalan raya. Fatih tercenung.
Seira terenyuh, ia menunduk mengingat waktu itu. Mendekap tubuh Rayan sambil mencium ubun-ubunnya. Kejadian itu saat Rayan masih di dalam kandungan.
__ADS_1
"Iya, Nak. Ibu juga nggak tega. Keingetan kalo kalian sakit dan Ibu lagi di luar," timpal Ibu yang tak tega hati.
Tanpa menjawab, Fatih membuka pintu mobil dan mendatangi pos lagi. Memberi perintah pada salah satu petugas keamanan untuk menggunakan mobil restoran mengantar mereka.
"Udah, kalian tenang aja. Nanti ada orang yang antar mereka ke rumah sakit," ucap Fatih kembali masuk ke dalam mobil dan menjalankannya.
"Makasih, Nak." Ibu mendahului Bi Sari mengucapkan itu. Mereka pergi meninggalkan restoran.
Lita dan ibu Zafran semakin gelisah, tak tahu harus apa, minta bantuan pada siapa?
"Bu, kita jalan aja, yuk. Siapa tahu ada angkot lewat kalo kita jalan," saran Lita yang tak sabar.
Ibu membelalak, sadar betul kakinya tak mampu untuk melakukan itu.
"Tapi kaki Ibu sakit, nggak kuat buat jalan," sahutnya tidak terima ide konyol Lita.
Tiba-tiba sebuah mobil pickup berhenti di depan mereka, seseorang membuka jendela.
"Ayo, masuk. Saya antar kalian ke rumah sakit," ucapnya.
"Beneran? Nggak apa-apa?" tanya Lita rasa tak percaya.
Dari seragamnya, dia tahu laki-laki itu adalah petugas keamanan restoran Fatih. Ia mengangguk seraya membukakan pintu untuk mereka.
Rasa lega menghampiri hati mereka, tapi juga bingung. Apakah Seira? Ataukah Fatih sendiri yang mengirim orangnya untuk mengantar mereka ke rumah sakit.
Sungguh tak dinyana, Seira masih memiliki hati dan mau berbuat baik pada mereka.
Kenapa dia masih baik aja sama aku? Padahal, aku udah hancurin hidup dia. Harusnya kamu nggak usah kayak gini, Sei. Biarin aja, tapi aku emang lagi butuh bantuan.
Lita bergumam, antara bersyukur dan malu terhadap kebaikan Seira. Mobil menepi di depan rumah sakit, mereka berpamitan dengan cepat. Lita berlari bersama langkah Ibu yang terseok-seok.
"Mas!" panggilnya saat melihat Zafran yang berdiri di salah satu pilar sambil membenturkan kepala.
Merasa dipanggil, Zafran menoleh. Wajahnya menghitam dan menyeramkan. Lita terhenyak karenanya, ia berdiri beberapa senti dari tempat Zafran menjaga jarak khawatir melihat emosi suaminya yang akan meledak.
Langkah Zafran mengayun cepat dan ....
Plak!
__ADS_1
"Zafran!"
"Pak Zafran!"