
Waktu terus berjalan, bayi Fathiya genap berusia empat puluh hari. Sesuai kesepakatan, syukuran diadakan di toko kue milik Seira sekaligus berbagi rezeki kepada mereka yang kurang mampu.
Daripada mengadakan pesta yang menghamburkan uang, Seira lebih memilih acara sederhana dengan mengundang anak-anak yatim piatu dan anak-anak jalanan. Ia berharap apa yang didapat olehnya dalam hidup, akan mendapatkan berkah dari Yang Kuasa.
Kesibukan telah terlihat sejak tiga hari yang lalu, kerabat Fatih berkumpul untuk turut serta dalam acara tersebut. Di sana bahkan terlihat Mang Udin dan keluarga kecilnya. Juga Rani dan ibunya yang menjadi orang paling sibuk dalam menyiapkan semuanya.
Seira bersyukur, ada banyak orang yang peduli padanya selepas penderitaan panjang yang dia alami. Tak satu pun mengizinkannya mengerjakan pekerjaan, terutama istri dari Jago. Dia terlihat sumringah bisa turut andil dalam acara tersebut.
"Udah, Mbak, jangan capek-capek. Istirahat dulu, sini duduk sama aku," tegur Seira menarik tangan istri Jago ketika melintas di hadapannya.
Ia merasa kasihan pada wanita itu, tubuhnya dipenuhi keringat, tapi semangatnya terus membara.
"Nggak apa-apa, Bu. Ini, mau pasang ini ke depan," jawabnya sambil menunjukkan papan nama yang dibawanya.
Seira mengambil benda tersebut dan celingukan mencari seseorang. Ia melihat Rayan muncul dari dapur dan hendak ke depan.
"Yan! Sini!"
Pemuda itu mendekat, bersikap sopan di depan majikan. Seira menyerahkan benda tadi padanya dan mengajak istri Jago untuk duduk bersamanya. Ada Rani di dalam sana yang sedang bermain bersama Rayan, sedangkan Fathia tertidur di dalam box ditemani Ibu.
"Mbak di sini nggak saya pekerjakan, jadi jangan terlalu sibuk. Ada banyak orang di sini, bukan cuma Mbak," ucap Seira seraya mengajak wanita itu untuk duduk bersama Ibu.
Meski canggung dan tak enak, seiring berjalannya waktu karena sikap Seira yang ramah ia pun tak lagi bersikap canggung.
*****
Acara dimulai dari mulai dzuhur, pengajian bersama seorang ustadz, doa bersama untuk kebaikan Fathiya. Di sana, di antara anak-anak itu, terselip seorang gadis kecil dengan pakaiannya yang sedikit lusuh.
Dia tampak riang gembira, sepanjang berdoa tangannya terus menengadah ke langit, kedua mata terpejam, terlihat khusyuk mengaminkan doa yang dilantunkan ustadz tersebut.
Tanpa sadar, Seira tersenyum. Wajah itu tidak serupa dengan Zafran, pun dengan Lita. Sedikit kejanggalan dapat dilihat dari sana, tapi Seira tak ingin menerka-nerka. Dia terlihat lebih sehat daripada saat pertama kali Seira melihatnya di restoran dulu.
__ADS_1
"Sayang! Kenapa senyum-senyum sendiri?" tegur Fatih menyentak lamunan Seira dan mengalihkan perhatiannya.
"Nggak, kok, Mas. Cuma seneng aja lihat anak-anak berkumpul kayak gini," jawabnya sambil tersenyum.
Istri Jago yang mendengar, mengikuti arah yang dilihat Seira. Ia mengernyit saat menemukan sosok Naina berada di tengah-tengah anak-anak itu.
"Kenapa anak itu ada di sini?" tanyanya sambil bergumam.
Seira yang mendengar melirik ke arahnya, wanita itu duduk tepat di belakang, bersama Biya dan kedua anak kecil itu.
"Siapa, Mbak?" Seira bertanya sedikit berbisik.
"Itu, Bu. Anak nggak jelas itu, lho. Kenapa dia bisa ada di sini?" sungutnya tak senang.
Seira mengernyit, mengerti yang dimaksud istri Jago itu adalah Naina.
"Emang Mbak tahu anak siapa itu?" Seira memancing.
Seira terhenyak mendengar pernyataan itu, apa maksud dari kalimat 'bin rame-rame'?
Ia tak lagi bicara, hati dan pikirannya sibuk mencerna kalimat tadi. Mencari-cari makna yang terselip di sana. Napas Seira terhenti saat ia mengerti tentang maksud kalimat itu.
Jadi dugaan aku benar, kalo anak yang dikandung Lita bukan anak laki-laki itu. Kasihan sekali kamu, Zafran. Pengen anak, tapi malah bukan anak sendiri. Jangan harap kamu bisa ambil Rayan dari aku. Sampai mati, aku nggak rela kamu ngerebut anakku.
Sudah sepantasnya memang dia membantu anak itu, rasanya lega saat mendapat kepastian bahwa itu bukanlah benih Zafran.
Gimana kabar ibunya Zafran itu, ya? Dulu, dia pengen banget punya cucu. Sekarang kalo tahu dia bukan cucunya ... aku nggak bisa bayangin.
Hati Seira terus bergumam, teringat pada wanita tua yang dulu dengan tega mengusirnya bahkan mengatakan dia mandul dan tak berguna. Seira sama sekali tidak membenci Naina meskipun orang tua anak itu telah berbuat jahat padanya.
Acara dilanjutkan dengan sholat ashar berjamaah di tempat yang telah disediakan. Diimami ustadz tadi, semua orang melaksanakan ibadah dengan khusyuk. Lagi-lagi Seira memperhatikan Naina, gadis itu berbeda dari yang lain. Terlalu mencolok, ruku yang dikenakannya sudah kusam bahkan tak lagi berwarna putih.
__ADS_1
Sungguh miris, seperti apakah kehidupan mereka saat ini? Apa benar yang dikatakan Jago waktu itu bahwa mereka tinggal di tempat kumuh.
Ia meminta seorang pekerja untuk membeli sebuah ruku kanak-kanak dan diberikan secara khusus kepada Naina. Lengkap dengan buku ngaji di dalamnya.
****
Sementara di jalan, seorang wanita sedang mendorong sebuah kursi roda dengan tergesa. Wajahnya yang berkeringat tampak bersemangat untuk segera tiba di tempat tujuan, toko kue Seira.
"Aku nggak sabar pengen lihat siapa yang punya toko itu, Naina bilang hari ini yang punya toko ada di sana. Kenapa dia baik banget sama Naina?" ucap Lita dengan napasnya yang tersengal.
Sesekali akan terbatuk disaat napasnya terasa sesak. Ia pun berhenti sejenak untuk mengambil udara, dan lanjut berjalan setelah merasa cukup.
Jarak dari rumahnya ke toko kue lumayan jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Terpikir dalam hati, untuk apa Naina bermain sejauh itu? Apa yang dia lakukan sehingga bisa bertemu dengan orang-orang baik di toko kue tersebut.
Ibu yang berada di kursi roda pun tak sabar ingin melihat orang baik itu. Bibirnya berkedut-kedut ingin tersenyum, tapi tak cukup kuat karena seluruh otot kaku.
Mereka tiba dengan napas Lita yang terputus-putus. Dulu, mereka juga menjadi pelanggan di toko itu saat usaha Zafran masih jaya, tapi tak selelah seperti saat ini. Jelas saja karena dulu mereka tempuh dengan menggunakan mobil.
"Masih pengajian, Bu. Semua orang di dalam kayaknya," ucap Lita seraya duduk di bangku pinggir jalan tepat di depan toko tersebut.
Mereka ingin melihat pemilik toko sekaligus menunggu Naina pulang. Ibu terlihat gelisah, entah kenapa dia merasa dekat dengan seseorang. Siapakah gerangan sosok yang tak ia ketahui, tapi terasa dekat itu? Jantungnya berdebar-debar, menunggu tak sabar.
Mata keduanya membeliak saat sosok yang dulu mereka hina keluar dari gedung tersebut sambil menggendong bayi bersama laki-laki tampan dan juga anak kecil. Itu Seira dan suaminya. Hati bertanya dan menduga-duga.
"Jangan-jangan ...."
Pandang mereka beradu saat Seira melihat ke arah di mana mereka duduk, wanita itu tersenyum ramah seraya mengangguk menunjukkan pada orang-orang yang dulu menghinanya bahwa dia baik-baik saja bahkan lebih baik daripada saat bersama Zafran dulu.
Jadi, toko ini punya Sei, tapi apa maksudnya dia nolong Naina?
Air mata Ibu luruh melihat menantu yang dulu dia hina dan anggap mandul, kini bahagia bahkan sudah ada dua anak di sisinya.
__ADS_1
Cucuku.