
Di sana, di sebuah warung sederhana, duduk dua orang saling berhadapan. Tak satupun dari mereka yang memulai pembicaraan sejak duduk di sana sepuluh menit yang lalu. Lita memutar pipet di gelas, mengaduk sambil memperhatikan laki-laki di depannya yang tertunduk dalam.
Entah, seperti apa perasaannya saat ini. Ia sendiri pun tidak mengerti. Rindu? Yang jelas hati Lita tak lagi merasakan satu kata itu. Benci? Mungkin ada sedikit saja karena perlakuan Zafran dulu.
"Di mana Ibu? Siapa yang ngerawat Ibu sekarang?" tanya Lita membuka bahasan.
Wanita itu melirik ke samping kiri, di mana Naina dan Dokter Hendra sedang bermain. Memberikan waktu pada mereka berdua untuk saling berbicara.
Teringat pada Ibu, Zafran sendiri tidak tahu di mana ia sekarang. Terakhir kalinya ia titipkan pada Hendra dan setelah itu tak pernah melihatnya lagi.
"Hendra yang tahu, tanya saja sama dia," ucap Zafran lirih dan bergetar.
Lita menghela napas panjang dan dibuangnya dengan sekali hentakan.
"Kamu egois, Mas. Coba aja waktu itu kamu membuang sifat egois dalam diri kamu, semuanya nggak akan kacau begini. Sekarang semuanya udah berubah, kamu juga seharusnya mulai membenahi diri. Aku nggak bilang kalo aku ini udah jadi orang baik, tapi seenggaknya aku sadar ada Naina yang harus aku besarkan. Aku nggak mau semua yang terjadi di masa lalu, akan menjadi bebannya seumur hidup," ungkap Lita dengan sikapnya yang tenang.
Kali ini mereka memang harus berbicara untuk menyelesaikan sesuatu yang belum usai di masa lalu.
"Aku dan Naina baik-baik aja selama ini. Sejak kamu nggak lagi mengharapkan aku, aku memutuskan untuk mencari jalan hidupku sendiri, Mas." Lita mengalihkan pandangan pada Naina sekilas dan kembali menatap Zafran.
"Gimana sama kamu, Mas? Kamu masih akan bersikap egois kayak gitu? Menurut aku, yang kamu lakukan itu cuma nyiksa diri sendiri aja. Nggak ada untungnya, 'kan? Hati kamu semakin sakit, dan nggak pernah merasa tenang. Naina nggak pernah benci sama kamu, dia sayang sama ayahnya. Tiap hari ngerengek pengen ketemu kamu, tapi aku takut kamu akan menolak dia sama kayak dulu. Aku nggak bisa lihat Naina sedih, Mas. Aku nggak bisa," ungkap Lita menahan getaran lisannya.
__ADS_1
Ia menggigit bibir, tatkala bayangan Zafran yang dengan angkuh menolak permintaan maafnya. Masih terasa sakitnya. Oh, apalagi Seira? Bagaimana hatinya bisa sekuat itu? Bagaimana dia bisa baik-baik saja selama ini padahal rasa sakit dan derita yang dihadiahi Zafran untuk menyambut kehamilannya, sungguh luar biasa. Rasa sesal dan bersalah selalu hadir dalam benak setiap kali bayangan Seira diusir melintas.
"Aku udah menyadari semuanya, Lita. Aku juga udah ikhlas menjalani kehidupan aku saat ini. Aku nggak akan minta kamu buat kembali sama aku karena mungkin luka di hati kamu menganga cukup besar. Aku cuma mau minta izin kamu supaya bisa main sama Naina kalo aku kangen. Itu aja," sahut Zafran menahan rasa yang membuncah dalam dada.
Biarlah semuanya begini, mungkin akan lebih baik. Yang penting baginya masih dapat bertemu dengan Naina, itu sudah lebih dari cukup tak ingin lagi meminta lebih seperti biasanya.
Lita menghela napas, mendengar jawaban Zafran hatinya sungguh tak tega. Ia kira laki-laki itu masih sama egoisnya seperti dulu. Dia benar-benar sudah berubah dan semoga akan terus mengarah pada kehidupan yang lebih baik lagi.
"Aku nggak akan larang kamu buat ketemu sama Naina, karena dia nggak pernah benci kamu. Dia selalu bilang kapan Nai bisa ketemu Ayah. Kamu tahu, dia sempat takut buat ketemu sama kamu karena video itu, tapi waktu kamu minta maaf kemarin ... Nai bilang, Nai nggak benci sama Ayah. Nai udah maafin Ayah. Dari situ, dia terus tanya kapan mau jenguk Ayah. Nai kangen sama Ayah."
Lita menundukkan wajah sambil menggigit bibir menahan tangis yang ingin menyerobot. Bahu Zafran gemetar, menangis mendengar kisah Naina kecil yang ingin bertemu dengannya.
Tubuh laki-laki yang semakin kurus kering itu, sudah cukup membuktikan dia tak memiliki harapan untuk sembuh. Tak ada yang menyokong keinginannya untuk sembuh. Mulai sekarang, Lita dan Naina yang akan memberikan dukungan padanya. Dia harus sembuh, setidaknya sampai Naina dan Rayan bersiap melepas kepergiannya.
Zafran menangis semakin pilu, kepalanya menggeleng tidak tahu berapa lama lagi sisa usianya di dunia ini. Memang tak ada yang tau soal usia karena itu semua rahasia Sang Pencipta, tapi justru karena ketidaktahuan itu sebagai manusia harus bersiap-siap menyambut kedatangan utusan-Nya.
"Aku nggak tahu, mudah-mudahan aku masih diberi umur panjang buat lihat mereka, tapi seperti ini aja udah cukup buat aku melepas semuanya. Aku udah rela sama hidup aku sekarang, aku udah bahagia bisa melihat mereka berdua. Aku pasti sembuh, sakit ini nggak akan lama lagi," ucap Zafran dengan keyakinan di hati.
Ia tersenyum saat mata mereka beradu. Kedua manik laki-laki itu tampak tenang dan damai meski gelisah masih sedikit terlihat di sana. Mungkin dia ingin berjumpa ibunya, wanita yang telah berjasa melahirkannya ke dunia.
Yah, semoga Hendra mau membawa sosok tua itu ke hadapannya ataupun membawanya pergi untuk menemui wanita tua itu. Sungguh Zafran sangat berharap bisa melihat dan memeluk sang ibu. Mungkin kedamaian hati akan dia dapatkan dengan sempurna.
__ADS_1
"Ayah!"
Kedatangan Naina dengan boneka di tangannya membuat obrolan mereka terhenti. Gadis kecil itu tak segan duduk di pangkuan sang ayah, menunjukan boneka yang dibelikan Lita dari hasil bekerja di minimarket. Ia juga dengan antusias menceritakan tentang sekolahnya juga nilai-nilai yang ia dapatkan.
"Ayah tahu, Nai udah bisa baca, lho. Di kelas Nai yang paling lancar bacanya. Ibu guru suka minta Nai buat maju ke dapan, baca di papan tulis," ucapnya sambil menatap tajam Zafran meyakinkan bahwa apa yang dikatakannya tidaklah bohong.
"Oya?"
Gadis kecil itu mengangguk mantap, kembali bercerita soal teman-temannya di sekolah. Dia terlihat bahagia, ceria dan pintar. Zafran tersenyum sepanjang mendengarkan cerita Naina. Terkadang akan mengusap kepala anak itu jika yang diceritakannya sesuatu yang patut dibanggakan.
"Gitu, Yah. Katanya Minggu besok mau ada ujian, Ayah doain Nai, ya, supaya Nai bisa ujiannya," pungkas Naina menutup ceritanya.
Zafran memeluk tubuhnya erat, mencium pelipisnya dengan bangga.
"Ayah bangga sama Nai, tetap jadi anak baik dan pintar, ya. Jangan pernah kecewain Ibu," ucap Zafran sambil melirik Lita yang diam-diam menangis.
"Nggak cuma Ibu, Yah, tapi Ayah juga. Ayah harus lihat Nai dapat juara nanti," sela Naina meluruskan ucapan Zafran.
Laki-laki itu mengangguk, betapa bahagia mendengar cerita sang anak dan sekolahnya.
Teruslah bersinar, sayang. Kamu mataharinya Ayah.
__ADS_1