
Hening. Tak ada satu pun yang berbicara di antara mereka, semua bungkam, mengunci mulut rapat-rapat. Hanya suara isak tangis Bi Sari yang terdengar lirih lagi pilu. Fatih berdiri sambil menopang dagu, melirik ke arah Seira yang sedang menenangkan Bi Sari.
Mang Udin dan Jago yang menjadi saksi betapa wanita tua itu paling terpukul dengan apa yang dilakukan Zafran dan keluarganya dulu. Dia laksana seorang Ibu yang tak akan pernah bisa menerima anaknya disakiti. Terlebih yang dilakukan mereka itu sungguh tidak manusiawi.
Dia pernah memohon kala itu untuk membiarkan Seira tinggal sampai keadaannya pulih, tapi dengan tega hati dan kejam, tak satu pun dari mereka berbelaskasih. Lalu, sekarang datang dan minta maaf begitu saja? Apakah adil?
"Harusnya mereka nggak usah datang, harusnya mereka punya malu." Bi Sari meracau, menumpahkan semua yang dia pendam.
Fatih dan yang lainnya memang tidak tahu seperti apa kejadian dulu itu, tapi dengan hanya melihat kemarahan Bi Sari sudah menunjukkan yang mereka lakukan waktu itu memang sulit untuk dilupakan.
"Dulu mereka tega ngusir Non Sei yang lagi sakit padahal mereka lihat wajah Non Sei pucat dan tubuhnya juga lemes, tapi tetep aja orang-orang nggak punya hati itu nggak mau tahu. Malah ngehina Non Sei mandul dan nggak berguna. Sakit hati saya, sakit!"
Seira ikut menangis, memeluk Bi Sari penuh haru. Istri Jago yang bar-bar pun turut merasakan kepiluan hati wanita itu. Ia mendekap Rani sambil berlinang air mata. Pantas saja Bi Sari marah seperti tadi, karena mereka saja yang tidak tahu dan hanya mendengar ingin sekali menyumpahserapahi keluarga itu.
"Mereka nggak tahu, kan, kalo Non Sei hampir bunuh diri karena nggak kuat nanggung derita. Mereka nggak tahu seperti apa tangisan Non Sei di hadapan makam kedua orang tuanya. Mereka nggak tahu dan mereka nggak mau tahu? Mereka lupa, lupa pada kejahatan yang mereka lakuin dulu."
Bi Sari tidak peduli, dan satu pun tak ada yang menghentikannya untuk terus meracau menumpahkan segala derita yang selama ini dia pendam.
Biya memeluk Ibu, hatinya teriris melihat air mata yang tak henti mengucur dari pipi keriputnya. Biarlah hari itu semua ia muntahkan, agar esok hatinya lega dan dapat menerima semua kenyataan.
"Nenek. Kenapa Nenek marah-marah? Emang siapa yang jahat sama Mamah?" Rayan memeluk Bi Sari.
Semakin histeris tangisan wanita tua itu. Kala mengenang masa-masa kehamilan Seira yang berjuang sendirian, apalagi saat dia berkorban nyawa mengeluarkan makhluk baru dari rahimnya. Apakah mereka peduli? Bahkan bertanya kabar saja tidak.
__ADS_1
Bi Sari mendekap tubuh kecil yang hampir-hampir saja tidak selamat ketika Seira mengalami pendarahan. Fatih mengusap wajah, khawatir genangan air di matanya akan tumpah. Laki-laki memang begitu, selalu berpura-pura kuat padahal sama saja.
"Rayan, jangan tinggalin Mamah, Nak. Jangan pernah." Bi Sari meracau tak jelas membuat Rayan kebingungan.
"Rayan nggak akan tinggalin Mamah, Nek." Bocah itu menanggapi dengan hatinya yang bingung.
"Udah, Bi. Jangan diterusin, ya. Coba istighfar, dekatkan hati Bibi sama Allah. Raih ketenangan, jangan sampai setan terus menyulut api kebencian di hati Bibi. Istighfar, Bi. Istighfar," bisik Seira di telinganya.
Bi Sari mendengar, ia menengadah sambil mengucap istighfar. Memohon ampun kepada Allah karena telah membiarkan setan berhasil menggodanya. Pelan-pelan tangis Bi Sari mereda, Seira mengurut dadanya pelan memberikan ketenangan pada hati yang tengah memanas.
"Astaghfirullah al-'adhiim ... astaghfirullah al-'adhiim. Ya Allah ... subhanallah. Ampuni hamba, ya Allah. Astaghfirullah al-'adhiim," ucap Bi Sari dengan lirih.
Napasnya yang memburu perlahan normal kembali. Bisikan Seira juga sentuhan lembut di dadanya memberikan ketenangan yang nyata.
"Gimana? Bibi udah tenang?" tanyanya pelan dan hati-hati.
"Makasih untuk semua yang Bibi lakukan buat Sei. Semua itu nggak bisa Sei balas dengan apapun. Makasih karena selama ini Bibi udah sabar ngerawat Sei dan sayang sama Rayan. Bibi segalanya buat Sei. Sei sayang Bibi."
Seira memeluk tubuh tua itu, menangis tanpa suara hanya air matanya saja yang terus jatuh.
"Manusia itu memang makhluk sempurna, dia istimewa karena dibekali akal pikiran. Di mana dengannya kita bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang yang harus dilakukan dan mana yang nggak."
Seira mulai membuka bahasan. Ia mengusap tangan keriput Bi Sari yang digenggamnya dengan hangat. Sambil mengucap bismillah meminta kepada Allah agar hati wanita itu dilapangkan dan diberikan keikhlasan untuk semua yang sudah terlewat.
__ADS_1
"Kata ulama, yang lalu biarlah berlalu. Nggak perlu menyesali semua yang telah terjadi, nggak perlu terkungkung dengan takdir yang telah dilalui. Mari kita sama-sama melapangkan dada kita, menumbuhkan rasa ikhlas atas takdir yang telah digariskan." Seira menatap lembut kedua manik berkabut milik Bi Sari.
"Nggak ada manusia yang sempurna secara utuh, setiap manusia dibekali hawa nafsu dan khilaf yang terkadang nggak dapat ditolak. Akan tetapi, setiap manusia itu juga diberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya. Setiap kita ini pernah melakukan kesalahan, entah secara sadar atau nggak."
Semua orang tercenung mendengarkan petuah dari seorang wanita yang pernah mengalami penderitaan panjang dalam hidup.
"Kita nggak bisa menghakimi orang lain karena kesalahannya, yang pantas menghukum manusia hanyalah Allah. Yang perlu kita lakukan hanyalah menanamkan asma-Nya, Alghofuur. Maha memaafkan. Nggak apa-apa, kalo Bibi masih belum bisa terima, tapi apa Bibi nggak lihat tadi anak itu ketakutan. Dia masih sangat kecil, sama seperti Rayan."
"Bi, aku tahu karena aku juga sakit hati, tapi dengan marah-marah semua nggak akan bisa buat hati kita tenang. Aku nggak minta Bibi buat lupain semua karena aku sendiri pun nggak bisa lupa, tapi setidaknya kita nggak perlu kayak mereka. Kalo kita bersikap keras, apa bedanya kita sama mereka? Aku nggak mau Bibi terjebak dalam kubangan dendam yang menghalangi keikhlasan hati. Tenang, ya, Bi. Bukannya sekarang aku udah bahagia, ada Mas Fatih. Aku yakin Mas Fatih nggak akan sakitin kita," pungkas Seira sambil memeluk Bi Sari lagi.
Ibu terenyuh, ia memandang putranya sambil mengancam jika saja ia berbuat bodoh. Begitu pula dengan Fatih, ia terharu mendengar penuturan istrinya. Seira begitu percaya padanya, wanita itu yakin pada cintanya. Apa yang bisa dia lakukan selain mencintainya untuk seumur hidup.
Mas sayang kamu, Sei. Mas mencintai kamu. Mas nggak akan sia-siain kamu.
Kalimat panjang Seira berhasil menyentuh hati semua orang. Termasuk di dalamnya istri Jago yang hatinya berkobar-kobar penuh dendam.
"Astaghfirullah, ya Allah. Ampuni hamba, ampuni dosa hamba, ya Allah." Bi Sari berucap penuh sesal.
"Makasih, Non, udah ingetin Bibi. Makasih." Bi Sari mengeratkan genggaman tangan mereka.
Kini, semua orang tersenyum lega.
Terbuat dari apa hatimu, sayang. Begitu mudahnya memaafkan. Kata hati Fatih.
__ADS_1
Bu Sei emang wanita luar biasa, dan beruntung dapat suami hebat kayak Pak Fatih. Pasangan yang serasi. Jago turut bergumam.
Semoga Ibu terus bahagia. Mang Udin pun mendoakan.