
Tok.. tok..
"Masuk.."seru Darren
Seorang pria berjas hitam masuk membawa dokumen penting.
"Ini dokumen yang anda minta Tuan.."ucap Wildan selaku asisten pribadi Darren.
"Letakkan saja di situ.."perintah Darren sambil memijat pangkal hidungnya, kepalanya terasa pusing efek kebanyakan minum alkohol semalam. Soal Calista, dia tidak peduli setelah kejadian semalam ia memang belum kembali melihat wanita itu.
"Apakah anda baik-baik saja Tuan.."tanya Wildan,
"Hemm... hanya sedikit pusing.."
"Perlu panggil dokter.."
"Tidak.."jawab Darren cepat.
Wildan pun mengerti ia segera berlalu keluar,.
Tok... tok..
"Apalagi Wildan, pergilah aku sedang tidak ingin di ganggu.."kata Darren kesal.
"Woi pengantin baru bisanya marah-marah, harusnya kau bahagia. Kau seperti seorang pria yang tidak mendapatkan pelepasan.."ejek Jona teman Darren , ia masuk lalu langsung mendudukan dirinya di sofa ruangan kerja Darren.
"Kurang ajar. Aku bukan dirimu.."umpat Darren kesal, ia mengambil bolpoint melemparkannya ke Jona.
"Ayolah kenapa kau marah-marah, kau baru menikah satu hari sudah langsung bekerja, harusnya kau menikmati momen bahagiamu bersama istri cantikmu.."Jona terus menggoda Darren.
"Damn it... Kau banyak bicara ku sumpal juga mulutmu. Kau tau benar bagaimana tujuanku menikahinya untuk apa kau masih bertanya, sialan.."Darren bangkit dari tempat duduknya sambil menggebrak mejanya.
Jona tersenyum sinis, "Darren apa kau tau jarak antara dendam dan cinta itu sangatlah tipis, layaknya antara hidung dan bibir. Aku jadi tidak yakin rencanamu akan berjalan dengan mulus,"
Darren terdiam sebelum kemudian ia menatap Jona dengan tajam, seorang pria cassanova yang pandai bersilat lidah, "Kau menyumpahi ku.."
"Kenapa ? kau takut.."jawab Jona.
"Tidak, untuk apa.."sahut Darren.
Jona bangkit sebelum pergi ia kembali berbicara, "Darren istrimu sangat cantik, kalau kau sudah bosan, hubungi aku. Aku dengan senang hati menerimanya. Akan ku perlakukan ia seperti ratu untukku.."ucapnya sembari terkekeh,
Darren tidak menjawab ia hanya menatap tajam Jona.
"Sialan, dasar Jona gila.."umpatnya sepeninggal Jona.
🌹🌹🌹
__ADS_1
Calista merasakan badannya terasa begitu pegal dan remuk, belum lagi bagian bawahnya masih terasa sangat nyeri.
Calista menatap pantulan dirinya di cermin, terlihat sangat menyedihkan, bukankah seorang pengantin baru harusnya bahagia. Ia tersenyum getir kala mengingat perlakuan Darren semalam, pria itu benar-benar menyiksa dirinya. Ingin sekali ia menjerit, meraung dan menangis.
Calista menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku harus tetap bertahan. Pernikahan ini sah, aku harus mengambil hatinya mas Darren, apapun caranya. Aku juga akan berusaha untuk tidak menangis lagi.."
Keluar dari kamar , Calista berlalu masuk ke dapur, terlihat di sana seorang wanita paruh baya sedang mamasak di bantu beberapa pelayan di rumah ini.
"Nyonya.."sapanya.
"Saya Bi Nah, asisten rumah tangga di sini, apakah Nyonya memerlukan sesuatu.."ia mencoba menawarkan diri barangkali majikannya memerlukan bantuan.
Calista menggeleng, "Bibi sedang masak apa..?"
"Masak untuk makan malam.."
"Biar saya saja Bi..."
"Tidak Nyonya ini sudah tugas saya, "tolaknya.
"Ayolah Bi, aku ingin masak untuk suamiku. Bibi bisa bantu saja.."
"Tapi..."
Calista terus memaksa akhirnya Bi Nah pun mengiyakannya.
🌹🌹🌹
Darren tiba di depan rumahnya, setelah memarkirkan mobil miliknya ia keluar, terlihat di teras Calista sudah menunggu kedatangannya.
"Sedang apa..?"tanyanya dengan datar dan tajam.
Calista berusaha tersenyum manis, "Menunggumu.."sahutnya
Darren menatapnya tajam, "Jangan bersikap seperti seorang istri beneran, kau tau jelas kedudukanmu di sini.."
Deg.. ucapan Darren sangat melukai hatinya, pahit dan pedas, namun Calista seolah menulikan pendengarannya, anggaplah masuk telinga kanan lalu ia keluarkan melalui telinga kirinya.
"Aku tau jelas kedudukanku, untuk itu aku menunggumu pulang."Sahut Calista, ia memberanikan diri menghampiri Darren.
"Biar ku bawakan tas mu.."sambung Calista ia mencoba mengambil tas di tangan suaminya.
Secepat kilat Darren menepis tangan Calista, lalu mendorongnya secara kasar.
Bugh..
Calista terjatuh karena dorongan kuat dari Darren.
__ADS_1
"Sudah ku katakan jangan berlagak menjadi seorang istri beneran, aku sangat tidak menyukainya. Melihat wajahmu membuat kebencianku semakin bertambah.."kecam Darren sembari mencengkram dagu Calista dengan kuat, lalu menghempaskannya.
🌹🌹
"Mas, mau makan ya. Aku ambilkan untukmu ya.."ucap Calista saat di meja makan, ia mengambil piring kosong kemudian mengisinya dengan nasi, lauk, sayuran.
Darren masih terdiam sembari menatap Calista dengan tajam, "Mas Darren suka makanan apa, aku tidak tau jadi aku masak apa yang ada saja.."sambungnya dengan lembut, andainya hati Darren sedang tidak di butakan dengan dendam tentu saja dia akan bahagia mendengarnya.
Darren mengepalkan kedua tangannya.
"Mas ini..."Calista menyerahkan piring yang sudah berisi makanan lengkap.
Prang.... Darren menghempaskan piring itu dengan kasar.
"Mas..."lirih Calista terkejut.
"Jangan mengurusi diriku, aku sangat muak melihatmu. Kau pikir kau bisa mengubah pendirianku,.. cih tidak akan pernah bisa. Hatiku sudah mati Calista, dan itu karena perbuatan dirimu.."seru Darren mencengkram pergelangan tangan Calista dengan erat, lalu menghempaskannya secara kasar.
"Awww...."Calista meringis kesakitan saat ia jatuh tangannya tepat menancap di pecahan piring yang Darren lemparkan tadi.
Melihat Calista merintih kesakitan tidak membuat hati Darren tergugah sedikitpun, pria itu seolah sangat menikmati momen itu.
Krek... Darren menginjak tangan Calista, hingga membuat pecahan piring itu menancap di telapak tangannya.
"Sakit mas... ku mohon hentikan.."teriak Calista.
"Rasakan itu.."ucap Darren sebelum berlalu meninggalkan Calista.
Calista melihat telapak tangannya yang tampak telah bersimbah darah juga punggung tangannya yang memerah, sangat sakit. Calista menghapus sudut matanya yang basah, suaminya benar-benar sangat kejam.
"Ya ampun Nyonya apa yang terjadi.."pekik Bi Nah, seorang pelayan yang baru tiba dari arah dapur.
"Saya tidak sengaja menjatuhkan piringnya Bi."
"Ayo berdiri Nyonya, saya akan bantu mengobati lukanya ya.." Bi Nah membantu Calista berdiri dan mendudukannya di kursi. Lalu mengobati lukanya.
Tuhan, kenapa nasibku begini. Andainya Ayah dan Ibu tahu keadaan pernikahanku, mereka pasti akan sangat terluka. Bisakah membantuku kali ini, aku tau aku salah dan berdosa, tolong lembutkanlah hati suamiku, agar aku dapat menjangkau dan memenangkan hatinya. Gumam Calista
🌹🌹🌹
Jangan lupa
Like
Komentar
Hadiahnya
__ADS_1
Tbc.