
πΊπΊπΊπΊ
Usai pembicaraan Dita dan Wildan itu, akhirnya Dita pun ijin pulang menjenguk ayahnya yang sakit, tentu baik Calista maupun Darren mengijinkannya.
Hari ini keduanya memutuskan akan menginap di rumah Ibu dan ayahnya beberapa hari, mengingat Calista memang tak dapat mengurus Senja seorang diri, tubuhnya yang masih lemah, sering muntah-muntah semua itu merupakan efek samping dari obat-obatan kemo yang Calista konsumsi.
Terkadang terbesit rasa lelah dan ingin menyerah saat ia merasa begitu bosen menjalani pengobatan itu, tapi melihat kegigihan suaminya ia merasa tak tega, melihat wajah mungil sang putri membuat semangat ia kembali bangkit.
Calista menatap gerakan suaminya yang tampak lihai dalam mengurus Senja, di mulai dari memandikannya, memakai pakaian mengganti popok, serta membuatkan susu dia begitu cekatan. Calista terharu, ia teramat bahagia melihat perlakuan Darren selama ini padanya, meski wajahnya tampak lelah tak pernah Darren mengeluh padanya, pria itu akan senantiasa tersenyum manis pada istrinya.
Darren bisa saja mencari pengasuh untuk Senja, tapi ia masih kurang percaya dengan orang baru, jika dengan Dita, Darren maupun Calista sudah yakin dan percaya. Di rumah ini memang ada Bi Nah, tapi kondisi Bi Nah yang sudah tua, ia tak tega jika menyuruhnya untuk mengurus bayi.
Darren memasukan beberapa perlengkapan Senja untuk beberapa hari ke depan ke dalam tas bayi. begitu juga dengan obat-obatan Calista, dia menyiapkannya tanpa ada yang tertinggal satupun.
Calista mencoba melangkahkan kakinya mendekati meja rias, ia mengambil sisir di atas meja.
"Aku sisirin ya.."ujar Darren mengambil alih siri di tangan istrinya.
"Udah beres emang?"tanya Calista.
"Udah sayang..."sahutnya.
Darren mulai menyisir, merapikan rambut istrinya yang tampak sedikit berantakan.
"Rambut aku makin tipis ya mas.."kata Calista menghela nafasnya lemah, rasa lelah menghantui dirinya.
"Iya, ini kan karena efek obat-obatan yang kamu minum juga kemoterapi, tapi gak papa aku tetap sayang dan cinta ama kamu.."sahut Darren sembari menundukkan kepalanya lalu meletakkannya di ceruk leher istrinya lalu mengecup pipinya secara perlahan.
"I love u. Cinta banget aku sama kamu..."bisiknya tepat di telinga istrinya membuat sang empunya merona, Calista tersenyum manis seakan mendapat kekuatan baru.
"Gombal, katanya mau nyisirin rambut aku.."seru Calista.
"Oh ya lupa. Lupa aku tuh, maunya cium kamu terus.."
__ADS_1
Darren kembali meneggakan tubuhnya, menyisiri rambut istrinya.
"Besok di potong pendek aja ya rambutnya, mau gak sayang.."tawar Darren pada istrinya.
"Nurut aja deh sama kamu mas.."sahut Calista.
β’
β’
β’
"Cantiknya Oma udah datang..."sambut Mona begitu melihat Calista dan Darren tiba di rumahnya.
"Maaf ya Bu, merepotkan.."seru Darren sambil menyalami tangan mertuanya lalu menciumnya sejenak.
"Gak repot kok, malah seneng kalian di sini jadi rame..."sahut Mona sebelum meminta keduanya untuk segera memasuki rumah.
"Ayah belum pulang ya Bu..?"tanya Calista.
"Oh ya sayang, aku berangkat ke kantor ya.."pamit Darren.
"Lho gak makan dulu, Ibu udah siapin makan. lho.."
"Gak Bu, di tunggu meeting soalnya Wildan kan juga lagi ijin jadi gak ada yang mengandle, Paman Randy juga lagi sibuk sepertinya.."sahutnya.
Mona mengangguk, "ya udah hati-hati..'
"Kabar Darren ya Bu kalau ada apa-apa.."
"Iya nak.."
β’
__ADS_1
β’
β’
Di sebuah rumah sederhana seorang gadis tengah mengerucutkan bibirnya kesal.
"Kenapa sih nak..?"tanya seorang pria paruh baya.
"Ayah kenapa sih pakai bohong segala, bilangnya masuk rumah sakit.."decak Dita kesal, saat merasa di bohongi oleh ayahnya.
Pria paruh baya itu hanya tersenyum menatap putrinya lucu, "kak Wildan juga ngapain ikut-ikutan ngerjain aku.."tatapannya beralih ke kakak sepupunya itu.
"Jadi, kamu senang ya kalau Ayah masuk rumah sakit?"tanyanya sendu.
"Ya enggak..."
"Masa mau ketemu kamu itu harus nunggu ayah masuk rumah sakit dulu sih.."sahutnya sendu.
"Enggak gitu kok ayah.."Dita mendekati ayahnya lalu memeluknya sejenak, "Aku cuman punya ayah, gak boleh gitu ayah harus sehat pokoknya, katanya ayah pengen lihat Dita nikah .."
"Bener ni mau nikah..."tanya ayah.
"Iyalah, tapi nanti tunggu ada calonnya dulu..."sahutnya membuat Ayah lemas.
"Nanti malam dandan yang cantik ya, ada yang mau lamar kamu.."ucapnya membuat Dita terkejut.
"Ih ayah Dita kan udah bilang gak mau di jodohin..."
"Ayah gak bermaksud jodohin kamu, ketemu aja dulu barangkali pas, gimana kedepannya terserah kamu aja..."ujar ayah.
"Bener ni.."
Ayah mengangguk yakin, ia. tak akan memaksa putrinya lagi untuk memaksakan kehendaknya, takut putrinya itu kembali pergi dari rumahnya meninggalkan ia seorang diri.
__ADS_1
Sementara Dita sedang berpikir menyusun rencana agar pria yang hendak melamarnya itu menjadi ilfil padanya lalu mengurungkan niatnya untuk memperistri dirinya.
Tbc