Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
Perubahan


__ADS_3

Dua bulan kemudian


Usai pulang dari bulan madu di Bali, Darren berubah menjadi lebih dingin lagi pada Calista, ia tak pernah bersikap lembut. Darren jarang bertegur sapa pada Calista, tidak pernah lagi makan di rumah. Begitupun sebaliknya saat ia meminta hak nya sebagai seorang suami Darren tetap bersikap dingin dan kasar, dia sedikit memaksa Calista.


Tentu saja hal itu menimbulkan rasa sakit di hati Calista, perasaannya begitu hancur. Calista merasa dirinya tak ubah layaknya ****** pemuas ***** bagi suaminya. Pernah Calista memberanikan diri untuk bertanya.


"Kenapa kau berubah padaku Mas..?"tanya Calista


Darren justru mencengkram erat dagu Calista lalu menghempaskannya secara kasar, "Kau sudah tau jawabannya, jadi jangan lagi menanyakan sesuatu yang membuatku muak dan harus bersikap kasar padamu.."kecam Darren.


Hiks..hiks... hiks... Calista menangis tergugu saat mengingat perlakukan Darren akhir-kahir ini.


Ini jauh lebih sakit dari sebelumnya, dadanya terasa begitu sesak. Calista menyesal telah jatuh ke pesona suaminya, harusnya ia mendengarkan apa kata Ibunya untuk menahan diri untuk tidak jatuh cinta pada pria itu. Tapi hati siapa yang tau ? pada siapa ia akan jatuh cinta ?.


Menghapus sudut matanya yang basah, Calista mengaduk-aduk makanannya yang di depannya, tak lama ia merasakan kepalanya berdenyut sangat sakit, perlahan ia merasakan rasa yang begitu mual.


Segera Calista berlari sempoyongan menuju wastafel yang berada di dapurnya.


Huek.. huek.. Calista memuntahkan segala isi perutnya. Mendadak wajahnya berubah pucat saat ia melihat noda darah dalam muntahannya.


Darah...


Calista menggelengkan kepalanya sambil tersenyum getir, ia tetap berfikir positif bahwa semua baik-baik saja.


"Nyonya..."panggil Bi Nah


Bergegas Calista mengguyur muntahannya tadi dengan air mengalir lalu membasuh mukanya.


"Nyonya kenapa...?"tanya Bi Nah lagi


Calista segera memutar tubuhnya menghadap Bi Nah, "Saya baik-baik saja Bi.."


"Tapi tadi saya lihat tadi anda muntah-muntah..."desak Bi Nah

__ADS_1


Calista jadi bingung harus menjawab, "Saya merasa begitu mual Bi.."


"Mual..."lirih Bi Nah


Calista mengangguk..


"Mungkinkah Nyonya sedang hamil.."sambung Bi Nah, membuat Calista terkejut.


"Hamil..."lirihnya tanpa sadar ia menggerakan tangannya ke perut ratanya, bayangan pergumulan panas dengan suaminya begitu terlintas dalam benaknya, mungkinkah apa yang di katakan asisten rumah tangganya itu benar.


"Nyonya mungkin bisa ingat sudah telat datang bulan apa belum.."tanya Bi Nah


"Saya tidak ingat karena datang bulan saya tidak teratur, bahkan malah sering telat sejak dulu.."jawab Calista lemah.


"Nyonya terlihat begitu lemah, sekarang saya antarkan ke kamar ya, nanti saya buatkan ramuan herbal untuk menghilangkan rasa mualnya. Saya juga akan pergi ke apotik sebentar nanti saya belikan test pack, barangkali dugaan saya benar.."ujar Bi Nah


"Makasih ya Bi..."seru Calista.


🌹🌹🌹


"Saya kurang mengerti Tuan, orang itu melakukannya dengan begitu rapi tanpa jejak.."sahut Wildan


"Bagaimana mungkin saham perusahaanku setiap hari menurun.."ucap Darren sambil memegangi kepalanya yang terasa begitu pusing, memikirkan banyaknya masalah yang terjadi akhir-akhir ini.


"Bisa kau selidiki penyebabnya lagi Wildan.."pinta Darren


"Baik Tuan..."


🌹🌹🌹


Aeron tertawa puas dalam ruangan kerjanya setelah mendapatkan laporan dari orang suruhannya. Bagaimana kondisi perusahaan menantunya kini.


"Kau melakukan pekerjaanmu dengan bagus, saya cukup puasa hasilnya..."ucap Aeron

__ADS_1


"Terimakasih Tuan.."


Aeron mengangguk lalu menyuruh anak buahnya untuk keluar, "Ini untukmu, lalu keluarlah.."Ia menyodorkan amplop coklat yang berisi uang.


Sepeninggal anak buahnya, Aeron memutar kursinya sambil menatap foto putrinya.


Calista..


"Sabar ya sayang, Ayah masih perlu banyak bukti untuk membebaskanmu, Ayah janji akan segera mengeluarkanmu dari sana tanpa beban tanpa rasa bersalah. Maafkan ayah, sebelum membongkar semuanya Ayah ingin memberikan pelajaran pada suamimu yang laknat itu, dia sudah berani mempermainkanmu, maka Ayah juga harus turun tangan..."lirih Aeron matanya tampak berkaca-kaca, membayangkan bagaimana nasib putrinya yang menikah tanpa cinta.


Aeron perlahan-lahan membuat saham di perusahaan Darren itu terus menurun. Ya secara perlahan ia ingin menghancurkan Darren.


Drt.. dret.. ponsel di atas meja milik Aerom bergetar.


"ya..."


"....."


"Kau sudah mendapatkannya, tolong kurung dia gudang, ikat dan awasi dia.. aku tidak ingin dia lolos.."


"...."


"Akan ku lakukan nanti pada saat yang tepat..."


Setelah itu Aeron kembali menutup ponselnya.


🌹🌹


Jangan lupa


Like


Komentar

__ADS_1


Hadiahnya


Tbc


__ADS_2