
🌻🌻Lanjutan bab sebelumnya oke, sebelum membaca tekan like, komentarnya ya🌻🌻
🌻🌻Happy reading🌻🌻
Warning 21+++
••
Brakkk...
Reno menendang pintunya dengan gerakan kasar, ia cukup senang dengan keagresifan Caren. Tentu, menikmati perempuan cantik seperti Caren tidak akan membuat rugi.
Dengan ciuman yang saling beradu, Reno membimbing Caren menuju ranjang, terlihat di sana Caren sudah blingsatan akibat pengaruh obat perangsang.
"Ayo.. cepat..."teriak Caren dengan frustasi, ia tidak dapat mengendalikan tubuhnya saat ini, ia merasa ingin segera di puaskan. Dengan tarikan yang kencang Caren menarik seluruh pakaiannya sendiri.
Reno terkikik geli bergegas ia membuka seluruh pakaiannya hingga kini ia terlihat dalam keadaan polos, ia menikmati setiap inci tubuh Caren di depannya dengan tatapan buas dan lapar. Layaknya seekor binatang yang menemukan mangsanya.
Salah satu temannya memegang kamera untuk merekam adegan yang terlihat jelas melalui handycam milik Jona. Bukan hanya satu orang tapi di kamat itu juga terdapat emapat orang yang akan menggilir Caren secara bergantian. Caren yang bergerak gelisah di atasa ranjang membuat seluruh temannya semakin berna*f*u.
Dengan gerakan kasar Reno men*u*b* Caren. Tidak ada belaian lembut seperti yang Caren harapkan. Reno membolak-balikan tubuh Caren dengan kasar. Pum demikian, tanpa aba-aba ia m*ng*u*j*n miliknya pada milik Caren dengan gerakan kasar, membuat Caren menjerit kesakitan.
Reno terus bergerak secara liar dan sakit.
"S-sakit..."rintih Caren.
"Bukankah sangat enak ******..."gertak Reno, dengan ***** yang membabi buta, ia terus melampiaskan ****** nya yang menyala dan menggebu-gebu.
Tak cukup itu pria itu juga meremas kedua bukit kembar milik Caren secara kasar. Ia terus menghujani Caren dengan ciuman yang membabi buta dan sprontal.
"Hentikan.. sialan. Sakit..."ringis Caren ia terus memukul-mukul badan Reno yang tengah bermain liar di atasnya. Caren merasakan miliknya sudah terasa sangat sakit dan perih, namun Reno tetap melanjutkan gerakannya, tampa henti dan kasar.
Caren berusaha untuk melawan Reno, namun tenaganya tak cukup kuat untuk kekuatan pria itu, ia hanya bisa terdiam pasrah dan menangis sampai permainan itu selesai.
Beberapa jam kemudian Reno telah mencapai puncaknya bersamaan dengan semburan cairan hangat di bawah sana.
"Sekarangan giliran lo Ar..."seru Reno pada saah satu temannya.
"oke bro..."jawabnya dengan seringai licik.
Caren yang mulai mendapatkan kembali kesadarannya, tersentak saat mendapati ternyata di kamar itu bukan hanya dia dan Reno saja di sana, melainkan ada empat orang pria. Kini, wajahnya memucat dan ketakutan, lantaran semua pria di sana menatapnya dengan tatapan liar. Caren menjerit dan menangis histeris.
__ADS_1
Pria-pria itu terus menggilir Carem secara bergantian dan berkali-kali secara brutal dan kasar. Hingga beberapa jam kemudian tubuh Caren terkapar tak berdaya di atas ranjang dengan penuh tanda kissmark dan berantakan.
Setelah kepergian pria-pria itu, tak lama Jona masuk ke dalam sambil tersenyum menyeringai kejam pada Caren yang terlihat begitu menyedihkan.
Dia mengambil ponselnya untuk memberi kabar pada Darren.
"Misi telah berhasil.."ucapnya di balik telpon.
Mungkin apa yang di lakukannya terlihat kejam, namun apa yang telah di lakukan Caren pada Darren, Breana, juga Calista bukankah jauh lebih kejam.
"Aku rasa ini semua impas.."seru Jona ia menyeringai senang, membayangkan jika esok hari saat bangun Caren pasti akan berteriak histeris, saat mendapati dirinya sudah berada dalam tahanan.
•••
Darren kembali meletakkan ponsel miliknya setelah selesai menerima panggilam dari Jona sahabatnya.
"Siapa mas...?"tanya Calista.
"Jona, sayang. Ayo kita lanjutkan makannya..."serunya ia kembali duduk mengambil alih piringnya berniat kembali menyuapi Calista.
"Aku sudah kenyang, kamu saja yang makan..."Calista menolak.
"Kau baru makan sedikit,.."desak Darren.
Yah, merajuk dia.
Darren menggaruk rambutnya yang sama sekali tidak gatal, ia memikirkan cara untuk merayu istrinya. Sungguh, Darren bingung karena ia sendiri memang tidak pandai merayu.
Krek...
Pintu ruangan itu terbuka, terlihat Meysa dan Bram melangkah masuk.
"Mama... Papa..."ucap Darren.
Meysa melangkahkan kakinya sembari meremas jemarinya, Bram mengusap pelan pundak istrinya, berusaha meyakinkan semuanya.
Calista yang merasakan kehadiran seseorang pun merubah posisinya untuk kembali duduk.
"Tante..."lirihnya, ingatannya kembali melayang akan cacian Meysa padanya.
"Calista, saya datang ingin minta maaf..."ucap Meysa begitu sampai di dekat Calista, wanita itu menatap Calista dengan pandangan mata yang berkaca-kaca. Terlihat jelas di sana matanya menatap Calista sendu penuh penyesalan.
__ADS_1
"Saya terlalu di liputi amarah, sampai tidak bisa membedakan mana yang salah dan yang benar, Breana tiada justru akibat dari kelalaian kami sendiri, kami justru merawat seorang anak yang tak biadab..."sambungnya.
Calista memandang Meysa haru, ia melihat ada banyak cinta dari raut wanita itu, betapa ia terlihat terpukul akan kematian sosok putri tercintanya, "tante, saya sudah memaafkan tante sejak dulu. Mungkin jika saya di posisi tante, saya juga akan melakukan hal yang sama.."tutur Calista.
Meysa memandang Calista haru, terbuat dari apa hati wanita itu, perlahan cairan bening jatuh dari pelupuk mata Meysa, kelembutan Calista mengingatkan ia pada sosok putri tercintanya.
Tak lama Meysa menangis sesegukan, "Bolehkah saya memelukmu..."pintanya.
Calista mengangguk, tak lama Meysa menghambur memeluk Calista dengan erat, "terimakasih sayang..."liriu Meysa, dengan memeluk Calista, ia merasa dapat mengobati kerinduannya pada sosok putrinya.
Calista menepuk lembut punggung Meysa yang tengah menangis dalam dekapannya, Darren dan Bram memandang haru keduanya.
"Tante...."ucap Calista sesaat setelah dekapan itu terlepas.
"Mama sayang, kau boleh panggil saya mama..."pinta Meysa.
"T-tapi..."ada perasaan tak enak pada diri Calista,
Meysa menggeleng, "bolehkah saya menganggapmu putri saya juga, saya merasa menemukan Breana kembali pada dirimu.."serunya, wanita itu menatap Calista dengan wajah memohon.
Calista mengangguk, "tentu m-mama..."
Meysa tersenyum haru, ia kembali memeluk Calista.
Calista menerimanya dengan lapang dada, baginya apa yang dilakukan Meysa tergolong wajar, jika seseorang tidak melihat sudut pandnag dengan benar tentu saja akan berlaku seperti Meysa, apalagi melihat putri tercintanya meninggal karena ulah seseorang.
Calista hanya ingin meninggalkan dunia ini tanpa dendam, ia ingin di kelilingi dengan kebahagiaan. Agar ia dapat ikhlas melepaskan kehidupan dunia fana ini.
"Mama bawa kado untukmu..."ucap Meysa, "Mana pa,..."sambungnya pada suaminya.
Bram segera menyodorkan sebuah kotak kado pada istrinya, setelahnya ia memberikannya pada Calista.
"Kenapa harus repot-repot, dengan mama datang saja Calista sudah senang..."tuturnya.
"Tidak repot sayang, apa yang mama berikan bahkan tidak dapat menebus kesalahan mama sebelumnya..."sahut Meysa.
Calista tersenyum, Meysa kembali menatap Calista ia mengelus pipinya, "kamu sangat baik, hatimu sangat mulia, lembut. Darren sangat beruntung memilikimu. Bilang pada mama ya jika dia kembali menyakitimu. Dia benar-benar bodoh kenapa mau saja menuruti permintaan gila mama..."decaknya.
Darren melotot tak percaya, bagaimana Meysa menyalahkan dirinya, "lho ma itukan..." Sementara Calista dan Bram hanya terkekeh.
•••
__ADS_1
Ayuk like dan komentarnya dong
Tbc