Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
Apa yang terjadi?


__ADS_3

Sinar matahari perlahan menyusup masuk melalui celah jendela yang hanya tertutup gorden transparan, membuat ketenangan dua insan yang saling berpelukan terusik. Nyaman, terlalu nyaman membuat Calista tak ingin beranjak dari dekapan suami tercintanya. Bukannya membuka kedua matanya, ia justru semakin menenggelamkan wajahnya di bawah ketiak suaminya. Membuat Darren terusik, perlahan kedua kelopak mata pria itu terbuka, lalu melirik ke arah istrinya, yang masih tetap terlelap.


Darren merubah posisinya menghadap Calista, lalu tangannya menyibakan beberapa helai rambut yang hampir menutupi wajah cantik istrinya. Senyum bahagia tercetak jelas di wajah pria itu.


Terimakasih Tuhan, telah memberikan seorang bidadari untukku.


Darren mengusap lembut pipi Calista, lalu ia mendekatkan wajahnya tak lama sebuah benda kenyal mendarat di pipi istrinya, sontak membuat kedua mata Calista terbuka lebar. Calista langsung terduduk dengan spontan.


"Astaga, aku kesiangan."decaknya, wanita itu mengusap rambutnya frustasi, lantaran menyadari matahari sudah beranjak tinggi, melirik jam di atas nakas saat ini waktu sudah menunjukkan pukul sembilan.


"Memangnya kau mau ke mana hem..?"tanya Darren lembut, pria itu mengikuti gerakan istrinya duduk.


"Aku harus masak buat dirimu lah mas,"jawab Calista menatap suaminya kesal, menyibakkan selimut tebalnya, lalu ia bangkit dari tempat tidurnya.


Grepp..


Belum sempat Calista beranjak, Darren langsung menarik pergelangan tangan istrinya, hingga Calista terjerembab jatuh ke dalam dada bidang suaminya.


"Mas, ih kamu tuh."decak Calista sambil memukul kecil dada bidang suaminya yang membentur keningnya.


Darren terkekeh istrinya yang tengah kesal sambil mengerucutkan bibirnya ke depan, hal yang sederhana namun mampu membuat hatinya terasa begitu menghangat.


Cup, Calista membulatkan matanya saat Darren mengecup bibirnya, melihat keterkejutkan wajah istrinya bukannya melepaskan, Darren justru kembali mengecup istirnya, kali ini bukan hanya kecupan melainkan sebuah ciuman di pagi hari yang lebih menuntut.


Calista memukul-mukul dada suaimya, saat merasakan sebuah dorongan kuat dari perutnya yang ingin sekali ia keluarkan. Darren yang mengerti kode istrinya segera melepaskan pangutan bibirnya.


Huek.. huek..


Dengan segera Calista bangkit berlari kecil ke kamar mandi sambil menutup mulutnya. Darren langsung terduduk lesu, ia mencoba mengeluarkan nafas dirinya sendiri.


"Apakah bau? perasaan enggak deh, tapi kenapa dia langsung mual ya. Biasanya juga enggak."monolog dirinya sendiri.

__ADS_1


Huek.. huek...


Calista memuntahkan segala isi perutnya, tak lama wajahnya kembali memucat melihat noda darah ikut keluar dari mulutnya tadi.


"Sayang..."panggil Darren.


Calista panik, ia menggelengkan kepalanya, ia tidak bisa membiarkan suaminya mengetahui penyakitnya saat ini. Bergegas ia berjalan ke arah pintu.


Krek.. Calista mengunci pintu kamar mandi itu dari dalam, lalu ia kembali ke wastafel menyalakan kran untuk mengguyur muntahannya tadi, tak lama tangis dirinya luruh, Calista terisak kecil, ia menahan dirinya untuk tak bersuara.


"Aku tidak bisa memberi tahumu mas. Karena aku tau, jika kau mengetahui kau pasti akan sangat terbebani, dan kau menyuruhku menggugurkan anak kita, aku tidak mau mas. Maafkan aku..."gumamnya lirih, Calista merosotkan badannya ke lantai.


Tok.. tok... klek.. klek..


"Sayang, kamu baik-baik saja kan?"tanya Darren.


Tok.. tok.. klek.. klek..


Darren kembali mencoba mengetuk pintu dan membuka handlenya, namun usahanya sia-sia Calista menguncinya dari dalam.


"Kalau kau tidak mau buka pintunya, aku akan dobrak pintunya sekarang, sayang. Tolong buka pintunya sayang, ada apa? apa kau merasakan sakit."sambungnya.


"Sebentar mas."sahut Calista dari dalam.


Ceklek..


Tak lama pintu kamar mandi terbuka, Calista keluar dengan wajah pucatnya.


"Apa yang terjadi?"cecar Darren, ia menatap istrinya dengan cemas.


"Itu hanya biasa mas, moorning sickness itu hal biasa bagi ibu hamil."jawab Calista ia berusaha tersenyum menutupi rasa pusing di kepalanya.

__ADS_1


Darren menatap istrinya curiga, "tapi kenapa harus kau kunci pintunya?"


"Aku tidak mau kau melihatnya, karena itu sangat menjijikan mas,"elak Calista.


"Omong kosong apa itu? Bagaimana kau punya pikiran seperti itu sayang, aku yang membuatmu seperti ini, mana mungkin aku janji. Lain kali kau tidak boleh mengunci pintu dari dalam, entah kau sedang mandi atau muntah, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu,"ujar Darren.


Calista hanya menganggukan kepalanya,"sekarang berbaringlah, kau terlihat begitu pucat. Aku akan panggil dokter,"Darren memapah Calista ke ranjang.


"Jangan mas, aku baik-baik saja. Tidak perlu panggil dokter.."cegah Calista, ia menatap suaminya memohon untuk tak memanggil dokter.


"Tapi.."


"Aku mohon, kau tidak perlu berlebihan begitu aku baik-baik saja, percayalah."pinta Calista.


Darren menatap ragu istrinya, sebelum kemudian ia menganggukan kepalanya, "kau tidak sedang menyembunyikan apapun dariku kan sayang,"tanya Darren dengan tatapan menyelidik.


Calista menggeleng, "mana mungkin. Tidak ada yang aku sembunyikan darimu mas."jawabnya.


Darren masih terdiam, entah ia merasa ada sesuatu yang aneh, tapi apa ia kurang mengerti.


"Mas, buatkan aku susu sama sandwich ya aku lapar, kamu bisa kan membuatnya.."pinta Calista, ia sengaja mengalihkan pikiran suaminya.


"Tentu sayang, tunggu di sini aku akan memnuatkannya untukmu.."jawbnya.


Berjalan keluar, namun begitu sampai di ambang pintu Darren kembali memutar tubuhnya menatap istrinya dengan bingung. Mengenyahkan pikirannya, Darren kembali melanjutkan langkahnya turun ke dapur membuatkan pesanan istrinya.


•••


Sorry telat up, hp ku eror lagi guys maklum hp kentang😂😂, udah minta di lembiru tapi belom ada jatah, ups kok jadi curhat.


Tapi serius, doakan guys doakan ada duit jatuh dari langit habis tuh ara bisa beli hp baru deh, 😂😂 edisi ngayal.

__ADS_1


oke selamat membaca guys, jangan luap tekan likenya sayangku😍.


Tbc.


__ADS_2