Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
AKU PAKSA


__ADS_3

Restaurant


Mobil yang di tumpangi Jona beserta kedua orang tuanya tiba di sebuah restoran, ketiganya turun dari mobil memasuki restoran itu.


"Gue penasaran, kaya apa sih gadis itu sampai bikin luluh hati papa gue!"gumam Jona yang terus mengikuti langkah kedua orang tuanya masuk, dengan di bimbing pelayan resto menuju ruangan VIP.


"Apakah sudah menunggu lama Al, maaf jalanan sedikit macet...?"ucap Julian menyapa seorang pria paruh baya di depannya.


"Santai aja, kami juga baru saja tiba.."balas Arji, Liliana tampak tersenyum menyapa calon besannya itu dengan ramah.


Sedangkan Jona tampak memindai setiap sudut ruangan itu, tak ada siapapun di sana selain kelima orang termasuk dirinya.


"huh.."Jona mendengkus kesal, hal itu tak luput dari pendengaran Julian.


"Di mana putrimu?"tanya Julian, usai dirinya mendudukan pantatnya di kursi bersebrangan dengan Arji.


"Dia sedang di toilet tadi.."jawab Istri Arji.


Sembari menunggu putrinya kembali Arji pun bertanya-tanya pada Jona.


"Dia putramu...?"tanya Arji.


Julian mengangguk, "iya dia putra tunggal saya.."


"Kamu yakin mau jodohin dia sama putri ku dia tampan pasti banyak wanita yang mau dengannya. Kamu tau sendiri, keluargaku bukan berasal dari keluarga yang berada..."jelas Arji, ia merasa insecure.


Arji bukanlah seorang rekan bisnis Julian, dia berasal dari keluarga sederhana, ia hanya memiliki toko bahan di salah satu pusat perbelanjaan. Dia dan Julian merupakan sahabat sejak dulu menitik bangku di sekolah SMA hingga keduanya memasuki salah satu universitas yang sama. Bedanya jika Julian menempuh pendidikan karena dari keluarga berada, maka Ardi menempuh pendidikan melalui jalur beasiswa.


"Yakin..."

__ADS_1


"T-tapi..."


"Permisi, maaf saya terlambat..."ucap seorang wanita.


"Gak apa-apa dong Mel, sini duduk..."sahut Julian, "oh ya kenalin ini putra om, namanya Jonathan, panggil saja Jona..."sambungnya.


Jona yang semula menunduk sedang memainkan ponselnya kini mengangkat wajahnya.


"Kamu kan..." ucap kedua terkejut.


Bahkan Jona langsung berdiri, membuat tempat duduknya terjatuh ke belakang.






Dita menatap wajah semua orang yang berada di sana, yang tampak sedang melihat dirinya, termasuk wajah Leno yang tengah menatap dirinya dengan senyum manisnya, lalu mengedipkan sebelah matanya genit, sontak dirinya lalu membalasnya dengan tajam.


"Ini siapa yang mau nikah, yang nglamar siapa..?"gumamnya kesal.


"Papa rasa Leno perlu bicara berdua dengan Dita, iya gak nak.."ucap Randy, yang seolah mengerti kegundahan hati Dita. Dalam hati tentu banyak tanda tanya yang akan ia tujukan pada putranya.


Leno mengangguk lalu berdiri, "ayo sayang,.."ucapnya.


Apaan sih main sayang-sayangan aja, gumam Dita kesal.

__ADS_1





Sementara keluarganya pada sibuk ngobrol di dalam rumah, Leno membawa Dita keluar menuju teras. Dia berlagak seolah ia tuan rumahnya, Leno menggandeng tangan Dita.


"Gak usah pegang-pegang .."cetus Dita menyingkir tangan Leno dari pergelangan tangannya. Jual mahal dikit lah.


Leno terkekeh tanpa rasa bersalah, "baru di pegang doang udah keluar tanduknya, gimana kalau aku em-"


"Apa???"sentak Dita.


Leno mengelus dadanya, "jawabannya nanti kalau kita udah nikah..."


"Emang siapa yang mau nikah sama situ, percaya diri banget, datang main lamar tanpa kata apa-apa.."sindir Dita. Ia merasa sangat kesal, beberapa kali bertemu dengan pria itu justru tanpa sepatah kata apapun, lalu tiba-tiba main datang lamar gitu aja.


"Aku paksa lah, harus mau pokoknya.."kekeh Leno, membuat mata Dita mendelik menatap tajam.


Leno justru tertawa terbahak-bahak merasa lucu melihat wajah Dita dengan kunciran dua, bedak tebal, bibirnya merah merona, lalu ia memasang wajah sinis padanya.


Ehem..


"Emmm jadi gini Lho aku-"


•••


Tbc

__ADS_1


__ADS_2