
Bibi Nancy masih terdiam mencerna segala umpatan dan cacian Meysa terhadap keponakannya.
"Mama sangat kecewa padamu, ternyata kamu tidak bisa setia pada Breana, dan mau justru membuat wanita pembunuh itu hamil....!" bentak Meysa dengan lantang dan kesal ia menatap Darren penuh dengan emosi yang menggebu-gebu, apalagi setelah mendengar penuturan Darren jika Calista saat ini tengah hamil.
"Maafin aku ma. Aku udah gak sanggup lagi untuk lanjutin hal ini lagi. Aku lelah, aku juga tidak tega menyakitinya. Hatiku sakit setiap melihatnya menderita... Aku, aku mencintainya..."ucap Darren sembari menatap Meysa penuh luka.
Meysa menggeram marah saat mendengar semua ucapan Darren.
"Baiklah jika itu maumu, biarkan aku yang melanjutkannya. Dan kau, jangan pernah ikut campur lagi dalam hal ini..."tunjuk Meysa pada Darren.
Darren mengepalkan tangannya, "Tidak, aku tidak akan membiarkan Calista menderita lagi..."tegas Darren.
Meysa menatap Darren sinis, "Lihat saja apa yang akan aku lakukan nanti." Ia berlalu dari hadapan Darren, namun ia terkejut saat matanya langsung bersitatap dengan Bibi Nancy yang terlihat sekali wajahnya memucat dan tegang, mungkin karena ia sudah mendengar semua pembicaraan keduanya.
Meysa mempercepat langkahnya menuju mobilnya, namun Bibi Nancy yang mengetahui hal itu segera menyusul dan menghadang Meysa.
"Jangan kamu peralat lagi keponakanku..."ucap Bibi Nancy memandang Meysa dengan tajam. Meysa hanya membuang muka, lalu kembali masuk ke mobil dan menjalankan mobilnya menjauh, tanpa menjawab ucapan Bibi Nancy.
Meysa mengambil ponselnya menghubungi seseorang, "Darren sudah berkhianat, sekarang aku serahkan tugas ini padamu, jangan iarkan anak itu lahir, kau bebas melakukan apapun pada wanita itu..."ucap Meysa dengan nada kesal dan frustasi sebelum mematikan ponselnya., ia menghentikan mobilnya dan menumpuahkan air matanya di sana.
Sepeninggal Meysa, Bibi Nancy memilih berallu masuk ke dalam melewati Darren begitu saja, ia merasa amat kecewa pada keponakannya itu. Begitu sampai di ruang makan ketegangan pun terasa, Calista sedang menangis sesegukan, Mona segera berusaha menenangkan putranya. Wajah Mona pun tampak sedih dan memerah akibat menahan amarahnya yang tengah berkorbar di hatinya. Bibi Nancy yakin mereka semua telah mendengar semua pembicaraan Meysa dan Darren tadi. Suasana makan malam tampak tegang, semua sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Usai makan malam selesai, Bibi Nancy pun pamit pulang, ia mengurungkan niatnya untuk menginap di sana.
Sepeninggal Bibi Nancy, suasana di ruang keluarga itu tampak tegang.
__ADS_1
"Katakan sejujurnya pada saya, apa benar Meysa Smith yang menyuruhmu untuk balas dendam pada Calista. Demi Tuhan, Calista saat ini tengah hamil anakmu, apa kau tidak bisa merubah niat burukmu itu.."bentak Aeron dengan nada dingin dan emosi.
Darren tersentak, ia tidak menduga jika semua akan terbongkar secepat ini, "Saya..."
Belom sempat Darren melanjutkan ucapannya namun Calista sudah mendahululinya lebih dulu, "Ini sudah konsekuensi yang harus Calista terima, dari semua pilihan yang aku ambil ayah. Dan keadaan Calista saat ini pun tidak akan pernah bisa merubah segalanya akan menjadi lebih baik.."lirih Calista.
Aeron memijat pelipisnya, "Kenapa kau tidak memikir akibatnya nak, kau bisa bertanggung jawab dengan cara lain tanpa harus menghancurkan hidupmu seperti ini.."lirih Aeron,
"Maaf pa.."jawab Calista sendu, wajahnya terlihat sembab dan pucat pasi, Mona segera memeluk Calista menenangkannya.
Darren masih terdiam di tempat, terpaku ia merasa sekujur tubuhnya tiba-tiba membekum
"Kenapa kamu hanya diam Darren..."bentak Aeron dengan emosi, rahangnya mengeras rasa kecewa mulai menjalar ke suluruh hatinya, ia menatap menantunya itu dengan sorot mata yang tajam dan menusuk.
"Maaf, aku tidak berfikir akibatnya akan seperti ini. Tapi aku sadar saat ini rasa yang aku punya bukan lagi perasaan dendam,.."jelas Darren membuat Calista menangis pilu.
"Kamu pasti akan menyesal akan semua perbuatanmu pada Calista, saat semua kebenaran itu terungkap. Saat itu terjadi semua penyesalanamu itu sudah sangat terlambat. Saya pastikan kamu akan menjadi orang yang paling menderita.."ancam Aeron dengan keras, emosinya terlihat menggebu-gebu.
"Apa maksud ayah.."tanya Darren dengan bingung, ia tidak mengerti kebenaran apa yang di maksud ayah mertuanya itu.
Aeron menatap Darren tajam lalu menghampirinya dan mencengkram krah bajunya, lalu memukul rahang Darren dengan kerasa membuat Darren tersungkur. Membuat Calsita histeris.
"Setelah Calista melahirkan, segera ceraikan dia. Brengsek.."bentak Aeron dengan keras, Calsita yang mendengar hal itu badannya seketika melemas perlahan kepalanya mulai sakit, dan seketika ia kembali tak sadarkan diri.
Mona panik berusaha menyadarkan putrinya. Darren dengan sigap menghampiri Calista meski sempat di halangi Aeron, ia langsung menggendong Calista dan membawanya ke kamar.
__ADS_1
Aeron segera kembali memanggil dokter. Usai membaringkan Calista di ranjang, Darren memeluk Calista dengan erat sambil memangis.
"Maafin aku Calista.."gumam Darren parau.
"Sadarlah sayang.."seru Mona dengan pilu pada Calista.
"Pergilah dari sini..."bentak Aeron pada Darren.
"Aku ingin menemani Calista pa, ku mohon..."pinta Darren dengan nada memelas, Darren langsung bersujud di kedua kaki ayah mertuanya.
"Jika kamu terus berada di sini, Calista hanya akan terus merasa tertekan. Pergilah, kami akan merawatnya sendiri.."ucap Mona membuat Darren terdiam.
Dengan badan gemetar Darren bangkit dari tempatnya, "Tolong Ayah, kasih Darren kesempatan buat memperbaiki. Biarkan aku merawat Calista.."pinta Darren dengan nada pilu, tak sadar air matanya pun jatuh menggenangi pipinya. Setetes air mata yang jatuh dari pelupuk matanya membuat Mona tak tega, namun ia terlanjur kecewa pada menantinya itu.
Aeron segera memanggio kedua securty ke dalam rumahnya dan menyuruh membawa Darren keluar dari rumah itu.
"Mulai sekarang, jangan pernah kalian membiarkan orang ini masuk ke dalam rumah ini. Apa kalian mengerti..?"tegas Aeron memberi perintah tanpa mau di bantah, langsung di angguki oleh mereka.
"Darren mohon ayah, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Jangan larang aku untuk bertemu Calista.."pinta Darren lagi, namun hal itu tidak dapat menggoyahkan keputusan Aeron.
Darren hanya diam pasrah saat kedua securty menyeretnya keluar dari rumah itu.
Darren masih terdiam di depan pagar rumah mertuanya itu, hatinya terasa sesak karena harus berpisah dengan istri dan calon buah hatinya itu entah sampai kapan. Darren memutuskan untuk ke tempat Jona lebih dulu, ia merasa benar-benar butuh teman untuk berbagi, ia tidak mungkin pulang ke rumah karena akan mengingatkan tentang istrinya.
🌹🌹🌹
__ADS_1
yuk dukung author dengan like, komentar, hadiahnya
Tbc