
Sesuai permintaan Aeron, Ayah dari Calista jika ia menyuruh pria yang hendak menikahi Calista untuk melamarnya resmi.
Dengan membawa berbagai parsel, serta beberapa kotak yang berisikan perhiasan, pria itu datang hanya di temani Bibi Nancy.
Jika saat pertemuan pertama Darren memandang Calista dengan tajam, maka saat ini ia memandang Calista dengan lembut. Bukan karena terpsona dengan kecantikannya Calista, tapi ia tidak ingin jika niat buruk dari dari balik pernikahan bersama putrinya di ketahui oleh kedua orang tua Calista.
Calista meremas tangannya dengan gugup, tatapan Darren yang lembut seakan menyimpan maksud tertentu.
"Jadi begini paman, kedatangan saya kemari bermaksud untuk melamar putri anda menjadi istri dari keponakan saya.."jelas Bibi Nancy
Aeron mengangguk, "seberapa dekat kau dengan putriku anak muda.."
"Baru pendekatan Paman, hanya saja saya fikir tidak baik berduaan terlalu lama, jadi saya bermaksud mengajaknya menikah agar tidak terjerumus dengan dosa.."
"Calista kau yakin mau menikah dengannya.."tanya Aeron pada putrinya
"Iya Ayah.."
Darren tersenyum tipis terlihat manis jika orang lain yang melihat, namun bagi Calista senyuman itu mengandung sebuah racun yang tak ada penawar untuknya.
Aeron menghela nafasnya, "Sebenarnya saya masih belum rela untuk melepas putri tunggal saya. Nak Darren bisakah kau berjanji pada paman sayangi dan cintai Calista segenap hatimu, tunaikanlah kewajibanmu sebagai suami, karena paman tau saat paman melepas Calista kewajiban paman akan berpindah padamu. Andainya nanti dia tidak dapat menjadi istri baik untukmu, atau kah dia melakukan kesalahan yang tak dapat kau terima. Pintu rumah kami selalu terbuka, kau bisa mengembalikannya pada kami. Kami menyayangi Calista melebih diri kami sendiri.."tutur Aeron dengan mata berkaca-kaca.
Deg.. hati Darren mencelos, melihat bagaimana kasih sayang Aeron pada Calista, bagaimana jika ia kelak tau sebenarnya. Akan sebenci apa calon mertuanya pada dirinya.
"Ayahh..."lirih Calista, ia menggenggam erat tangan ayah dan ibu nya.
"Baik Paman, saya berjanji.."sahutnya.
🌹🌹🌹
__ADS_1
Sepeninggal Darren dan Bibi Nancy, Calista kembali ke kamar dengan wajah sendu. Tanggal pernikahan sudah di tentukan, ya hanya tinggal beberapa hari, sesuai dengan rencana tanggal pernikahan Darren dan Breana sebelumnya. Tidak ada yang berubah tempat, tanggal, hanya mempelai wanitanya yang berubah.
Harusnya usai mendapatkan lamaran resmi dari calon suami Calista bahagia, tapi Calista tidak dapat merasakan apa-apa selain rasa takut dan kegundahan yang ia rasa.
"Calista.." teguran dari pintu membuyarkan lamunan Calista.
"Ibu.."sahutnya, Mona berjalan menghampiri Calista lalu duduk di sebelahnya.
"Kau menyembunyikan sesuatu dari Ibu nak.."tanya Mona.
Calista menggeleng, "tidak Bu.."dustanya, ia memalingkan mukanya tak sanggup menatap Mona.
Mona tersenyum kecut, "Aku Ibumu. Wanita yang telah mengandung, melahirkanmu tentu aku mengenalmu sejak kecil. Kau tidak pandai berbohong Calista. Katakan sayang, ceritakan pada Ibumu. Ibu akan senantiasa menjadi pendengar yang baik untukmu.."tutur Mona
Calista menghambur memeluk ibunya tangisnya luruh saat itu juga, "Ibu maafkan Calista.."lirihnya.
Calista melepaskan pelukan dari Ibunya, "Ibu, Darren adalah pria yang calon istrinya aku tabrak saat itu Bu.. Namanya Breana"tutur Calista dengan pilu.
Deg.. Mona terkejut.
"Kau tidak bercanda Calista.."desak Mona
"Tidak Ibu.. Aku mengatakan sejujurnya. Aku tidak sanggup untuk terus bedusta padamu Ibu..."ucap Calista dengan berlinang air mata.
"Kalau kau sudah tau siapa pria itu, lalu kenapa kau memutuskan untuk menikah dengannya Calista. Itu sama saja kau menyerahkan dirimu di kandang macan.."ujar Mona dengen bergetar tidak percaya dengan kenyataan yang putrinya katakan.
"Apa yang bisa aku lakukan. Aku selalu di hantui rasa bersalah, dan aku selalu mendapatkan mimpi buruk dengan datangnya seorang wanita padaku setiap malam. Dan anehnya ketika aku memutuskan untuk menerima pernikahan dengan pria itu, mimpi itu tidak pernah lagi datang Bu. Aku tidak tau siapa wanita itu Ibu, apakah dia Breana atau siapa... Yang jelas aku tidak bisa tenang Ibu, aku merasa sangat bersalah dan berdosa.."jelas Calista.
"Kenapa kau harus mengalami hal ini nak.."ujar Mona merarapi nasib pilu putri tunggalnya.
__ADS_1
"Ibu, aku lega telah berkata jujur padamu.."ucap Calista denga berderai air mata.
Mona bangkit, "Kalau gitu Ibu akan mengatakan hal ini pada Ayahmu.."
"Jangan... Ibu jangan katakan apapun pada Ayah.. Calista mohon.."Calista menggapai tangan Ibunya.
"Kenapa Calista, Ibu tidak mungkin membiarkan dirimu menderita.."
Calista menggeleng, "Tidak Ibu. Ku mohon, biarkan aku menjalani keputusanku. Aku merasa tindakanku ini benar.."
"Calista..."
"Ibu ku mohon, berjanjilah padaku. Jangan katakan apapun pada Ayah.."pinta Calista dengan tatapan memohon dan sendu.
Mona menitikkan air matanya, "Baiklah, tapi kau harus pandai menjaga diri. Sungguh Ibu tidak akan ikhlas jika pria itu benar-benar menyakitimu.."Mona membelai wajah Calista dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Terimakasih Ibu.."lirih Calista.
🌹🌹
Jangan lupa
like
komentar
Hadiahnya ya😊
Tbc.
__ADS_1