Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
MAKAN MALAM


__ADS_3

☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Seperti janji Darren sebelumnya, demi istri tercinta malam ini mereka mengundang Jona, Melodi, Leno dan Dita untuk datang ke rumahnya makan malam.


Setelah membawa tamunya masuk, Darren pun memanggil Calista yang tengah sibuk dengan sang putri, hanya menemani, karena semua perawatan Senja sudah ada yang mengurus, Darren melarang keras Calista turun tangan sendiri, bukan karena tak sayang Senja, pria itu teramat sayang pada putrinya, hanya saja kesehatan Calista saat ini adalah prioritas baginya.


"Maaf, kalian sudah lama menunggu,"seru Calista usai mendaratkan bokongnya di salah satu kursi makan samping sang suami.


Mereka semua menjawab tidak masalah. Lalu baik Calista dan Darren mempersilakan mereka untuk makan.


"Jadi kamu calon istrinya Jona.."tanya Calista setelah kini dia duduk di ruang tamu usai menyelesaikan makannya. Sementara Jona dan Leno tengah bersama Darren entah berada di ruangan mana.


Melodi mengangguk malu, "iya Nona.."


Calista tersenyum samar, "kamu cantik, Jona pasti akan sangat mencintaimu.."


"Semoga.."lirihnya, ada nada tak yakin dalam dirinya, jika ia mampu membuat Jona mencintainya, sementara gejolak rasa takut itu selalu muncul dalam ingatannya.


"Gimana Dita? udah isi belum.."tanya Calista.


Dita yang tengah menikmati cemilan mengerjap bingung, "isi?"gumamnya, Calista mengangguk, Dita tertawa canggung, "sudah Nyonya eh Kak..."jawabnya gugup.


"Berapa bulan?"sahut Calista antusias, tak sabar ia rasanya menantikan hal ini.


"Apanya kak.."


"Katanya udah isi, berapa bulan?"kini wanita itu mengusap lembut perut Dita. Dita menelan ludahnya bingung.


"Eh itu maksudnya isi makanan tadi..,"jawabnya, membuat Calista melongo. Ini Calista yang salah nanya apa gimana ya.



__ADS_1




"Serius tuh Lo mau kawin..?"tanya Darren pada Jona.


"Nikah nyet, masa kawin. Lo kata gue kucing.."jawab Jona kesal membuat Darren dan Leno terbahak.


"Biasanya juga Lo kawin terus.."seru Darren lagi.


"Udah insaf..."


"Kenapa? Takut gak dapat warisan ya.."ejek Darren, sementara Leno hanya menjadi pendengar yang setia saja.


"Enggak! Gue cuma takut dapat azab..."sahutnya membuat Darren tergelak, "Akibat sering menabur benih sembarangan, Jona mati mengenaskan dengan di pukuli para wanita..."tutur Darren.


"Setan! Lo nyumpahi gue mati.."sentak Jona hampir melemparkan tutup toples pada sahabatnya itu.


Leno menggelengkan kepalanya sembari sibuk dengan ponsel di tangannya itu.


Darren mengangguk, "jadi besok balik? Jam berapa pesawatnya berangkat?"


"Pagi habis subuh,"balasnya.


"Eh gak nunggu gue kawin? eh nikah maksudnya,"seru Jona.


Leno menggeleng tersenyum, "enggak. Aku sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaanku di sana, maaf ya.."sahutnya.


"Konslet ni anak gara-gara lama gak nyelup, otaknya kawin Mulu pikirannya..?"cebik Darren.


"Ya entar kalau gue udah nyelup, gue pamer Ama Lo deh Ren, bila perlu gue kirim fotonya.."ucap Jona.


Darren mencebik, "gue doain pas malam pertama bini Lo nanti datang bulan.."sahutnya tenang.

__ADS_1


.


.


.


.


"Pulang yuk sayang..."ajak Jona pada Melodi, pria itu mengulurkan tangannya pada calon istrinya. Melodi langsung bangkit lalu berpamitan pada Calista, tanpa menyambut tangan Jona.


Darren tertawa terbahak-bahak, "gitu ya rasanya di kacangin.."ejeknya, yang sontak mendapatkan cubitan dari istrinya, "gak boleh gitu mas,"tutur Calista lembut.


"Temen laknat emang,"umpat Jona.


"Hukum karma itu, Lo sih sering mempermainkan wanita.."tutur Darren.


"Kaya Lo gak aja..."serunya balik.


Jona melengos, lalu memilih pergi dari sana sebelum habis dengan bualan Darren.


"Aku pamit ya kak..?"ucap Dita pada keduanya.


"hati-hati ya.."seru Calista, "maaf ya aku gak bisa anter besok.."sambungnya.


"Enggak papa, semoga kakak cepat sehat ya,"jawab Dita.


Amin!


"Kak Leno jaga Dita ya..?"pesan Calista.


Leno mengangguk,, "tentu adik ipar.."sahutnya.


•••

__ADS_1


Tbc


__ADS_2