Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
Merasa gagal


__ADS_3

Darren berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan tergesa-gesa saat rasa kalut dan cemas kian melanda.


Brukk, tak sengaja ia menabrak seseorang gadis hingga terjatuh dengan buku-buku yang berserakan di lantai. Namun, Darren tak peduli ia terus melanjutkan langkahnya, tanpa mengucapkan kata maaf padanya.


"Sialan!"umpat seorang gadis itu.


Jona yang baru masuk melihat semuanya hanya menggelengkan kepalanya. Ia berjongkok memunguti buku-buku yang gadis itu bawa.


"Sorry! Maafkan temanku.."ucapnya sambil menyerahkan buku-buku gadis itu yang ia pungut tadi, lalu memberikannya.


"Dia yang salah kenapa kamu yang minta maaf?"sarkasnya begitu menerima buku miliknya.


"Maksudku...-"


"Ah sudahlah banyak bicara..."potong gadis itu sebelum berlalu meninggalkan Jona begitu saja.


Astaga! jarang-jarang aku bersikap baik dan manis pada seorang wanita, apalagi sampai membantunya, tapi respon dia apa? sialan! ini semua karena Darren harga diriku sebagai pira penjajah wanita terjatuh.


••


Darren menatap tubuh Papa Bram yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, dengan wajah pucat mata terpejam rapat, karena Papa Bram belum sadarkan diri. Ia mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru ruangan itu, tak ada siapapun kecuali seorang dokter dan suster di sana.


Darren merogoh saku miliknya mengambil benda pipihnya lalu menekan tombolnya menghubungi seseorang, ia berjalan keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


"Dita, apa Nyonya ada di rumah..?"tanya Darren dengan harap-harap cemas, saat telpon itu sudah tersambung


"Nyonya belum kembali ke rumah Tuan, sejak tadi beliau keluar di jemput oleh Tuan Bram dan Nyonya Meysa.."


Jawaban Dita semakin membuat Darren ketakutan dan khawatir. Seorang suster menghampiri Darren dan mengatakan jika Papa Bram sudah sadarkan diri.


Darren segera kembali ke ruangan Papa Bram. Sejak di ambang pintu Darren dapat melihat jika Papa Bram menatapnya dengan sedih dan pilu, berusaha menguatkan hatinya Darren tetap melangkah mendekati Papa Bram.


"Maafin papa Darren, Mama dan istrimu di culik. Seseorang gerombolan pria menghadang kami di tengah jalan.."ujar Papa Bram di iringi dengan suara Isak tangis. Darren menggelengkan kepalanya tak percaya, ia terdiam mematung berita yang ia dengar begitu membuatnya shock, jantungnya serasa mau berhenti saat itu. Istri dan anaknya sedang dalam bahaya, ia merasa gagal melindunginya.


"Pa, Darren pergi dulu untuk mencari Calista dan Mama.."pamit Darren.


••


Jona menghela nafasnya resah, melirik ke arah Darren yang terlihat begitu berantakan, "Ponsel istrimu di matikan dan terakhir bergerak ke arah Timur. Aku telah mengirimkan seorang kesana, dia bilang tempat itu kosong, tapi sekarang aku mau kesana, apa kau mau ikut..?"ujar Jona.


Darren hanya menganggukkan kepalanya, bergegas mereka berangkat menuju tempat tujuan, dengan di bantu para polisi serta. Kabar di culik ya Calista juga sudah terdengar oleh Aeron.


Tak lama, mereka tiba di sebuah rumah yang berada dalam pinggiran kota, yang mereka itu merupakan tempat penyekapan Calista dan Meysa. Dengan cepat Darren segera berlari masuk tanpa mengindahkan ucapan Jona.


"****!! Darren benar-benar ceroboh kenapa ia harus terburu-turu.."ucapnya jengkel.


Namun Jona tetap melangkahkan kakinya masuk mengikuti Darren. Saat sampai di dalam, mereka semua berpencar menggeledah tempat itu, namun keadaannya begitu sepi tak berpenghuni.

__ADS_1


"Dia tidak membawa istrimu kesini Darren, lebih baik kita telusuri tempat lain, sambil menunggu informasi dari yang lain, polisi juga sudah bergerak, tenanglah istrimu pasti akan selamat.."tutur Jona.


Darren mengusap wajahnya kasar, "Bagaimana aku bisa tenang, aku tidak tau keadaan istriku bagaimana? bagaimana jika tiba-tiba penyakitnya kambuh.."lirih Darren.


••


Sini tanya ma Ara ntar aku bisikin deh di mana Calista berada.


Sabar bang Darren, bentar lagi juga. Ingat orang sabar itu di sayang


.


.


.


.


.


Pacar😀😀


Tbc

__ADS_1


__ADS_2