
Dita merasa terkejut akan pertanyaan Calista, sedetik kemudian ia kembali bersikap biasa saja, ia mengajak Calista untuk kembali duduk.
"Kenapa anda masih bertanya siapa saya nyonya, bukankah yang dengan apa yang anda lihat sudah cukup membuat pertanyaan anda itu terjawab. Saya hanya seorang gadis biasa yang bekerja menjadi seorang pelayan pribadi untuk anda nyonya,"ujar Dita.
Gadis biasa? entah kenapa Calista merasa ada yang Dita tutupi darinya.
"Nyonya apa pembinor tadi berbuat sesuatu pada anda?"tanya Dita, Calista hanya menggelengkan kepalanya, "syukurlah karena jika sampai dia melakukan sesuatu, tamatlah riwayatku."sambungnya.
Calista terkekeh, "kenapa kau menjulukinya pembinor?"tanya Calista.
"Memangnya julukan apa yang pas untuk seroang pria yang menyukai dan menggoda wanita yang sudah beristri?"tanya balik Dita.
"Dia kakak iparku lho Dita, sepupunya Mas Darren!"ujar Calista.
"Aku gak butuh tau dia siapa nyonya, itu bukanlah hal yang penting, karena tugas saya hanyalah untuk menjaga anda,"sahut Dita.
Siapa juga yang ingin tau tentang Tuan sombong itu, hem andai kata entar malam ada bintang jatuh, aku akan meminta untuk tak di pertemukan lagi dengannya,gumam Dita menatap luar cafe.
••
Waktu menunjukkan puluk delapan, tapi Darren tak juga kunjung tiba di rumah.
"Apakah sesibuk itu? Bahkan ia sudah berangkat sejak pagi,"decaknya, Calista melangkah ke luar kamar menuju dapur, di lihatnya Dita tengah berada di sana.
"Sedang apa Dita?"tanyanya sambil memuangkan air putih ke dalam gelas lalu meneguknya.
__ADS_1
"Eh nyonya, ini saya sedang masak mie instan,"jawab Dita sembari membuka bungkusan mie instan lalu memasukan isinya ke dalam panci yang telah mendidih airnya, "saya kira nyonya sudah tidur,?"sambungnya.
"Belum, saya haus. Nunggu Mas Darren kenapa belum pulang-pulang ya, di luar juga udah mulai hujan,"seru Calista dengan cemas.
"Kenapa tidak manggil saya saja nyonya kalau anda butuh sesuatu. Mungkin Tuan sedang di jalan,"tutur Dita agar Calista tenang.
Calista hanya menganggukan kepalanya, usai itu ia pergi melangkahkan kakinya ke ruang tengah, tangannya mengambil remot televisi dan mindai-mindai acara.
"Membosankan,"umpatnya, ia kembali berdiri melangkah ke ruang tamu, tangannya menyibakkan gorden berharap segera itu suaminya muncul, tak sabar ia ingin mendekapnya. Namun harapannya sia-sia, lima belas menit berlalu Darren tak juga muncul. Tak di pungkiri hatinya kian merasa kecewa.
Calista kembali ke ruang televisi, duduk dengan tenang wanita itu menonton drama kesukaannya. Tak peduli suaminya akan pulang jam berapa? Kini ia tengah asyik menemukan drama kesukaannya. Sejenak ia melupakan rasa rindu yang membuncah pada suaminya.
Hujan deras yang mengguyur jalanan itu membuat laju kendaraan sedikit macet, pukul delapan lewat tiga puluh menit Darren baru tiba di depan rumahnya.
Mendengar suara deru mobil di depan, Dita yang saat itu baru selesai menyantap mie instan buatannya mengernyitkan keningnya, gadis itu beranjak ke ke depan, melewati ruang televisi.
"Ya sudah kamu bukain pintu gih, aku lago asyik nonton. Dah gak mood aku bertemu dia,"cebiknya mata terus tertuju pada sebuah drama yang berputar di televis depannya, Dita tergelak padahal setengah jam yang lalu majikannya itu serperti tengah di landa rindu yang berat. Benar, mood ibu hamil memang secepat itu berubah.
Tak ingin banyak bertanya, Dita beranjak ke depan membukakan pintu untuk tuannya.
"Selamat malam, Tuan?"sapa Dita ramah usai berhasil membuka pintu untuk majikannya.
Darren hanya menganggukkan kepalanya, "istri saya di mana? apa sudah tidur?"Darren berbalik bertanya.
"Nyonya sedang menonton televisi di ruang tengah Tuan,"sahutnya.
__ADS_1
Darren menganggukan kepalanya, ia menyerahkan tas hitam miliknya pada Dita, lalu menyuruhnya untuk meletakkan di ruang kerjanya. Usai kepergian Dita, Darren melangkahkan kakinya menuju ruangan di mana istrinya berada, sembari berjalan tangannya bergerak mengendurkan dasi di lehernya.
Sejenak Darren berhenti mengamati istrinya yang tampak asyik menonton televisi dengan posisi duduk membelakanginya, Darren tersenyum tipis melangkahkan kakinya pria itu berniat mengejutkan istrinya.
Hiks.. hiks..hiks..
Suara tangisan itu membuat ia terkejut, ia mengurungkan niatnya, pria itu berfikir apa yang telah membuat istrinya menangis. Apakah karena dirinya yang pulang terlalu malam? ia kembali memikirkan cara untuk merayu istrinya.
"Aduh sedih banget, kan aku jadi nangis. Jahat banget sih, kenapa harus mati coba,"decaknya sembari terisak.
Darren tergelak, ia menggeram kesal lantaran menyadari istrinya menangisi tokoh utama dalam drama yang ia tonton berakhir meninggal. Rasanya ingin sekali ia lempar sepatu pada televisi saat itu juga.
"Sayang,"panggil Darren, kini kakinya melangkah mendekati istrinya, pria itu mendudukan dirinya di sebelah Calista, menyadari kehadiran suaminya Calista mengangkat wajahnya manatap suaminya dengan mata yang sembab. Sedetik kemudian Calista menghambur memeluk suaminya dengan terisak pelan.
"Kenapa nangis hem?"tanyanya sehalus dan selembut mungkin, ia mengelus lembut punggung istrinya.
••
Like
Komentar
Hadiah
Vote
__ADS_1
Tbc.