Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
Aku mau menikah


__ADS_3

Seperti hari biasanya jika pagi hari Calista akan melakukan pengobatan, maka Dita dengan setia menjaga Senja di rumah. Bayi mungil itu sedang membuka matanya melihat keindahan dunia.


"Bosen ya? Yuk kita jalan-jalan keluar.."ucapnya. Ia mendorong strolerr-nya menuju pintu keluar.


Krek..


"Hai..."sapa seseorang di balik kaca mata hitamnya. Dita terkejut lantaran begitu membuka pintu ada seorang pria di depannya, beruntungnya Dita membawa Senja, jadi ia tak menabrak.


"Ada apa ya Tuan, Nyonya Calista dan Tuan Darren sedang tidak ada di rumah.."jelas Dita.


Leno membuka kaca mata hitamnya, "tau kok, sengaja kesini pas mereka gak ada.."


Dita mengangguk, "ya udah saya silakan masuk, saya mau bawa Nona Senja jalan-jalan keluar sebentar.."ucapnya.


Leno memicingkan matanya melihat bayi mungil yang berada di strolerr, perlahan ia membungkukkan badannya menyapa bayi itu, "hai Senja. Cantik banget sih ponakan Uncle ini. Kita baru bertemu ya? Kenalin aku uncle Leno yang paling tampan.."serunya, Dita melengos berpura-pura tak mendengar.




Leno mengikuti kemana Dita membawa jalan-jalan Senja, ternyata hanya mengitari taman sekitar rumah saja.


"Jadi, Tuan sudah memutuskan untuk tidak akan kembali ke luar negeri..?"tanya Dita, Leno mengangguk.


"Kenapa?"sambung Dita sambil mengelus-elus Senja yang perlahan mulai terlelap.


"Pengen tau aja apa pengen tau banget..."goda Leno, membuat Dita mendengkur kesal.


"Gak pengen tau lah.."


Leno terkekeh, "kamu itu sebenarnya sepupunya Wildan kan, asistennya Darren..?"tanya Leno.


"Pengen tau aja pengen tau banget..?"Dita membalikkan ucapan Leno, membuat Leno tergelak.


"Tau banget lah.."


"Memangnya kenapa jika aku sepupunya Wildan...?"


"Enggak apa-apa kok.."

__ADS_1


"Dit, boleh nanya gak .?"kata Leno.


"Hem..."


"Hadiah dari aku kok gak di pakai sih, gak suka ya.."tanyanya.


"Suka kok, emang gak di pakai aja, takut hilang.."jawab Dita.


"Tau gak, aku pulang karena apa?"tanya Leno menggeleng.


"Pengen ketemu kamu lah.."sambungnya yang membuat Dita merona.


"Ngaco ..."Dita memberanikan diri memukul kecil lengan Leno membuat sang empunya mengasuh kesakitan.


"Kamu gak suka ya ketemu aku?"tanya Leno serius, Dita tak menjawab hanya memalingkan mukanya dan tertunduk.


"Gak usah di jawab, aku juga cuma bercanda kok.."jelas Leno, tak sadar Dita memegang dadanya, terbesit rasa kecewa.


"Kenapa?"tanya Leno, Dita hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali berjalan.


"Selain karena untuk bertemu Senja dan melihat kondisi Calista, aku juga akan menikah Dita.."ujarnya pelan, sontak Dita menghentikan langkahnya, ia terdiam mencerna baik ucapan Leno, kemudian Dita memutar tubuhnya menghadap Leno seraya tersenyum manis, "wah selamat. Aku cukup senang mendengarnya, akhirnya kau dapat membuka hatimu, itu adalah hal yang baik..."ucap Dita.


"Kamu-"


"Hai Dit A-aku ..."


Leno tak melanjutkan ucapannya saat merasakan pundaknya di tepuk oleh seseorang, ia terlonjak kaget.


"Kak Leno..."


"Darren..."


Leno melihat Darren sedang memegang kursi roda Calista, wanita itu tampak pucat dan lebih kurus.


"Sudah lama di sini, kenapa tidak masuk..?"ucap Darren.


"Apa kabar kak...?"sapa Calista.


"Baik Calista,. Sudah eh belum, maksudku.."

__ADS_1


Darren terkekeh, "yang benar yang mana sih, kamu kaya lagi kepergok aja si kak, bisa salah tingkah gitu., Ayo masuk..."




"Bagaimana kondisi Calista, Ren..?"tanya Leno usai dirinya mendudukan bokongnya di sofa.


Darren tersenyum kecut, "kakak tau, tentang istriku?


Leno mengangguk,


"Dari siapa? perasaan Bibi dan Paman bilang juga tidak mengatakan apapun padamu, jangan bilang kamu masih-"


"Gak gitu Ren, gak percaya amat. Sekarang sepenuhnya ya aku anggap Calista itu adik ipar ku. Pikiranmu jelek banget sih.."dengus Leno kesal.


"Ya kali aja-"


Pembicaraan keduanya terhenti, saat Dita datang membawa nampan yang berisikan cemilan juga minuman, Leno menatap wajah gadis pelayan itu dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Ren, aku mau nikah.."kata Leno, tentu saja membuat Darren terkejut. Hal itu juga masih di dengar oleh Dita, namun ia memilih berpura-pura tidak mendengar.


"Dengan siapa? Kamu gak hilang arah kan kak.."


"Astaga! aku masih normal. Ya dengan wanita lah..."


"Ya maksudnya siapa?.."tanya Darren serius.


"Adalah, nanti kamu akan tau.."


"Silakan di minum Tuan, saya permisi.."seru Dita sebelum memutar tubuhnya berlalu pergi. Leno tersenyum tipis.


Dia terlihat marah sama aku.


"Kenapa senyum-senyum gitu?"


"Gak apa-apa.."


__ADS_1



Tbc


__ADS_2