Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
Anak Atau Ibu


__ADS_3

Entah apa yang terjadi, Darren melarikan Calista ke rumah sakit dengan perasaan cemas, wajah istrinya yang memucat di susul dengan noda darah di bajunya bagian bawah, membuat rasa khawatir di benaknya.


Darren terus mondar mandir di depan pintu ruang rawat Calista, menunggu dokter keluar.


"Duduklah ren, tenanglah Calista pasti akan baik-baik saja..."ujar Jona yang merasa pusing melihat sahabatnya monda-mandir layaknya setrika.


"Kau yakin? Aku khawatir Jo. Kau tidak tau apa yang ku rasakan sih, makanya nikah.."jawab Darren yang membuat Jona tersentak.


Sialan! lagi dan lagi dia tanpa sengaja mengejekku jomblo gitu, gumamnya.


Tak lama pintu ruangan terbuka, dokter beserta perawat keluar dengan wajah lesu. Darren dengan sigap menghampirinya.


"Dokter, bagaimana keadaan istri saya.."tanya Darren dengan cemas.


"Tuan, istri mengalami pendarahan pasca syok berat.."


Darren terkejut mendengar penuturan dokter, begitup Jona.


"Lalu..."


"Kami harus melakukan operasi untuk mengeluarkan bayinya. Mengingat riwayat penyakit Nyonya, jika ada pilihan maka siapa yang harus kami selamatkan Tuan, anak anda atau istri anda..."ucap Dokter.


Deg, Darren terdiam membeku di tempat, tak sadar setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya, bagaimana ia bisa ia harus memilih antara anak dan ibu. Jika ia memilih anaknya, ia takkan sanggup untuk kehilangan Calista, tapi jika ia memilih Calista, bagaimana jika putrinya tak selamat Calista tau wanita itu pasti akan marah padanya.


Tidak, Darren tak kan sanggup tanpa Calista.


"Selamatkan istri saya Dokter.."jawabnya, pada akhirnya ia lebih memilih istrinya.


"Silakan tanda tangani surat persetujuan Tuan.."seru Dokter.

__ADS_1


"Darren..."Jona memanggil namun Darren smaa sekali tak bergeming.


Dengan langkah lemas, Darren melangkahkan kakinya mengikuti petunjuk suster.


Maafkan Daddy sayang, Daddy sayang kamu tapi Daddy tak sanggup kehilangan Mommymu..ucapnya dengan sedih.


••••


Suara Isak tangis terus terdengar pilu, mengiringi pemakaman Mario putra dari Diko dan Misca.


Diko terlihat tenang berusaha menenangkan istrinya, meski dalam hati ia teramat sangat sedih merasa sangat kehilangan putranya.


"Kenapa, kau meninggalkan Mama sayang...."seru Misca dengan tangis yang berderai.


"Apakah dia lebih berarti dari kami, hingga kau lebih mengakhiri hidupmu, di bandingkan kembali pada kami.."sambungnya.


Misca menggeleng, "tidak, aku mau di sini menemani Mario pa,.."


"Ikhlaskan dia ma, ini sudah jadi pilihannya.."


••


Mesya terus terdiam merenung menangis di kamarnya, ia menatap segala sisi kamar itu dengan pandangan kosong, ia merasa sedih dan bersalah atas kematian Mario.


Seharusnya Mario tak mengakhiri hidupnya dengan cara mengenaskan seperti itu. Jika saja hanya Caren yang mati, Meysa pasti akan merasa senang, tapi dengan adanya korban satu nyawa lagi membuat ia merasa bersalah.


Meysa tau, meski Mario membantu Caren dalam melakukan tindakan kejahatan itu, Mario orang yang selalu membela Calista, di sana pria itu selalu melindungi Calista dari kejahatan Caren.


Calista! ya, Meysa baru ingat di mana Calista berada kini. Ia beranjak dari tempat tidurnya, berjalan ke arah, meja lalu menarik lacinya, mengambil sebuah bingkai foto putri kandungnya Breana.

__ADS_1


"Tenanglah di sana sayang, Mama sudah ikhlaskan kepergian mu.."ucapnya.


Ceklek.. pintu kamar terbuka, Bram masuk dengan membawa nampan yang berisi makanan.


"Kau sudah bangun ma.."seru Bram sembari meletakkan nampan yang ia bawa di atas meja. Meysa hanya terdiam mengangguk.


"Ayo makan, aku sudah membawakanmu makanan.."


Meysa berjalan ke arah suaminya, "pa, di mana Calista? Dia baik-baik saja kan..."tanyanya. Karena setelah melihat Mario mengakhiri hidupnya, Meysa langsung jatuh pingsan.


Bram melirik ke arah Meysa dengan senyum kecilnya, "makan saja dulu.."


Meysa pun menuruti keinginan suaminya ia makan dengan lahap.


"Pa.."panggil Meysa usai makanan di tangannya itu habis.


"Calista di rumah sakit, kondisinya kritis..."ujar Bram.


Deg...


"Ayo kita kesana pa, "ucap Meysa dengan gemetaran.


"T-tapi..."


"Aku tak mau kehilangan putriku lagi pa, dia harus selamat apapun yang terjadi, dia harus tetap selamat.."ucap Meysa.


••


Tbc

__ADS_1


__ADS_2