
Kini kandungan Calista sudah menginjak usia delapan bulan. Beruntung sampai detik ini Calista masih bertahan.
Usai sarapan bersama, Darren berpamitan pada istrinya untuk ke perusahaan. Sebelum berangkat Darren akan mencium kening, pipi, istrinya.
"Tidak usah mengantar ke depan, habiskan sarapanmu.."perintahnya.
Calista mengangguk mengerti, "hari ini aku akan pergi dengan Mama Meysa dan Papa Bram. Harusnya aku bicara padamu semalam, tapi aku lupa.."sahutnya.
"Aku mengerti, papa sudah meminta ijin padaku lebih dulu.."sahutnya
Usai permbicaraan itu, Darren kembali melangkahkan kakinya meninggalkan meja makan. Sampai di ambang pintu Darren kembali menghentikan langkahnya. Entah kenapa, ia merasa tak tenang meninggalkan Calista.
••
Mobil yang di kendarai Bram, yang membawa Meysa serta Calista melaju dengan kecepatan sedang. Bram mengernyit heran melihat mobil belakang yang terus bergerak mengikutinya. Bram berusaha keras menambah laju mobilnya tanpa banyak bicara, ia tak mau membuat istri juga Calista panik.
Sampai di batas jalanan yang sepi, Bram terlonjak kaget saat mobilnya kini tengah di hadang oleh tiga mobil.
"Pa, kenapa? ada apa ini?"tanya Meysa dengan takut, melihat orang-orang yang di mobil itu kini turun berjalan menuju ke arah mobilnya dengan membawa senjata tajam.
Baik Meysa maupun Calista keduanya sama-sama panik, "ma..."
"tenang sayang..."
Bram keluar dari mobil dengan marah ia akan memberi pelajaran pada mereka. Namun dengan gerakan cepat, pria-pria itu segera melumpuhkan Bram, hingga membuat Bram terkapar tak berdaya di atas aspal. Kondisi jalanan yang sepi seolah mendukung dengan kejahatan yang mereka buat.
Para pria itu kini bergerak mendobrak pintu mobil Bram, lalu memaksa keluar kedua wanita yang berada dalam mobilnya.
__ADS_1
"Jangan sakiti putriku.."teriak Meysa.
Namun ancaman Meysa itu tidak berguna, karena dengan cepat, para pria itu segera meringkus Meysa. Ia mengkode Calista untuk segera pergi.
Namun dengan gerakan cepat para pria itu segera meringkus Calista. Calista mencoba melawan dan meronta namun kekuatannya tak sebanding mereka. Calista jatuh pingsan usai di pukul lehernya oleh orang itu, kemudian ia bawa masuk ke dalam salah satu mobil mereka.
"Calista..."jerit Meysa.
Meysa menatap ke arah Calista dengan penuh air mata, namun ia sendiri tak mampu menolongnya kedua tangannya diikat dengan pria itu. Kini ia hanya bisa pasrah kemanapain mereka membawanya pergi dari tempat itu. Dan ia bisa melihat tatapan menderita dari suaminya yang terkapar tak berdaya di tengah jalan, dan di tinggalkan begitu saja.
Harusnya hari ini ia tidak mengajak Calista untuk pergi. Meysa terus menangis menyesali semuanya.
"Tolong jangan ambil putriku lagi, Tuhan ."gumamnya.
"Siapa kalian sebenarnya...? Dan apa mau kalian.."teriak Meysa ia terus meronta selama kedua tangannya terikat, dan kini mobil terus melaju entah kemana.
Pria-pria itu hanya tersenyum smirk pada Meysa, "sabar, nanti anda akan tau siapa sebenarnya kami.."
••
"Ya sayang.."
"...."
Deg
"Ada apa sayang? katakan, kamu di mana..? Hallo.."
__ADS_1
Tut..
Telpon terputus secara sepihak meninggalkan rasa khawatir bagi Darren. Ia berungkali mencoba menghubungi istrinya namun hasilnya nihil.
Ceklek.. Pintu terbuka, Jona masuk dengan rasa panik.
"Darren, ini gawat..."ucapnya dengan raut wajah khawatir.
"Ada apa?"jawabnya namun tatapan tetap tak berpindah dari ponsel di tangannya.
"Istrimu dalam bahaya, Caren melarikan diri dari penjara..."
Deg.. prak.. ponsel dalam tangannya terlepas begitu saja. Ia menatap wajah Jona mencari kebohongan.
"Kau...."
"Aku tidak bohong, ini serius.."serunya.
Saat Darren hendak beranjak pergi, telpon di atas meja miliknya berbunyi, ia segera mengangkatnya. Ternyata itu pihak rumah sakit yang mengabarkan jika Papa Bram berada dalam rumah sakit. Dengan segera Darren berlari keluar meninggalkan ruangannya. Perasaan takut meratapi hatinya, keadaan Calista menjadi sumber ketakutannya.
Ia terlihat begitu kalut dan takut. Jantungnya serasa mau berhenti saat pihak rumah sakit menelponnya dan hanya mengatakan tentang kondisi Papa Bram, tanpa menyebut nama istrinya.
Jona segera merampas kunci mobil di tangan sahabatnya itu, "aku akan mengantarmu.."
Berkali-kali Darren mencoba menghubungi Calista namun tak bisa. Begitupun dengan Mama Meysa.
••
__ADS_1
Note : Gak akan ada istilah menikah lagi ya untuk Darren.
TBC.